Entri Populer

Kamis, 25 Agustus 2011

anatomi ternak

Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdinya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisa awal tentang IB, dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan teknik tersebut.
Tiga abad kemudian, barulah ada pengamatan kembali tentang reproduksi. Tepatnya pada tahun 1677, Anthony van Leeuwenhoek sarjana Belanda penemu mikroskop dan muridnya Johan amm merupakan orang pertama yang melihat sel kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri. Mereka menyebut sel kelamin jantan yang tak terhitung jumlahnya tersebut animalcules atau animalculae yang berarti jasad renik yang mempunyai daya gerak maju progresif. Di kemudian hari sel kelamin jantan tersebut dikenal dengan spermatozoatozoa. Pada tahun berikutnya, 1678, seorang dokter dan anatomi Belanda, Reijnier (Regner) de Graaf, menemukan folikel pada ovarium kelinci.
Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan uang dipakai semennya. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal.
Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoatozoa, bukan pada cairan semen. Dia membuktikannya dengan menyaring semen yang baru ditampung. Cairan yang tertinggal diatas filter mempunyai daya fertilisasi tinggi. Peneliti yang sama pada tahun 1803, menyumbangkan pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup spermatozoatozoa. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoatozoa tetapi mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam. Hasil penemuannya mengilhami peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel kelamin dan fisiologi pembuahan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi.
Perkenalan pertama IB pada peternakan kuda di Eropa, dilakukan oleh seorang dokter hewan Perancis, Repiquet (1890). Dia menasehatkan pemakaian teknik tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Hasil yang diperoleh masih kurang memuaskan, masih banyak dilakukan penelitian untuk mengatasinya, salah satu usaha mengatasi kegagalan itu, Prof. Hoffman dari Stuttgart, Jerman, menganjurkan agar dilakukan IB setelah perkawinan alam. Caranya vagina kuda yang telah dikawinkan dikuakkan dan dengan spuit diambil semennya. Semen dicampur dengan susu sapi dan kembali diinsemiasikan pada uterus hewan tersebut. Namun diakui cara ini kurang praktis untuk dilaksanakan.
Pada tahun 1902, Sand dan Stribold dari Denmark, berhasil memperoleh empat konsepsi dari delapan kuda betina yang di IB. Mereka menganjurkan IB sebagai suatu cara yang ekonomis dalam pengunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang berharga dan memajukan peternakan pada umumnya.
Penanganan IB secara serius dilakukan di Rusia, sebagai usaha untuk memajukan peternakan. Peneliti dan pelopor terkemuka dalam bidang IB di Rusia adalah Elia I. Ivannoff. Tahun 1899 ia diminta Direktur Peternakan Kuda Kerjaaan Rusia, untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan pemakaian IB. Dan dilah orang pertama yang berhasil melakukan IB pada sapi dan domba.
Hasil spektakuler dan sukses terbesar yang diperoleh adalah di Askaniya-Nova (1912) yang berhasil menghasilkan 31 konsepesi yang 39 kuda yang di IB, sedang dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23 kuda yang di IB. Tahun 1914, Geuseppe amantea Guru Besar fisiologi manusia di Roma, banyak mengadakan penelitian tentang spermatozoatologi, dengan hewan percobaan anjing, burung merpati dan ayam. Kemudian dia berhasil membuat vagina buatan pertama untuk anjing. Berdasar penemuan ini banyak peneliti lain membuat vagina buatan untuk sapi, kuda dan domba. Tahun 1926, Roemelle membuat yang pertama kali membuat vagina buatan untuk sapi, dan orang pertama yang membuat vagina buatan untuk domba dan kambing adalah Fred F. Mckenzie (Amerika Serikat) pada tahun 1931. Pada tahun 1938 Prof. Enos J. Perry mendirikan koperasi IB pertama di Amerika Serikat yang terletak di New Jersey.
Kemajuan pesat dibidang IB, sangat dipercepat dengan adanya penemuan teknologi pembekuan semen sapi yang disposori oleh C. Polge, A.U. Smith dan A.S. Parkes dari Inggris pada tahun 1949. Mereka berhasil menyimpan semen untuk waktu panjang dengan membekukan sampai -79 0C dengan mengunakan CO2 pada (dry ice) sebagai pembeku dan gliserol sebagai pengawet. Pembekuan ini disempurnakan lagi, dengan dipergunakannya nitrogen cair sebagai bahan pembeku, yang menghasilkan daya simpan yang lebih lama dan lebih praktis, dengan suhu penyimpanan -169 0C.
B. Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan di Indonesia
Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun limapuluhan oleh Prof. B. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI) didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati), Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan Bali (Baturati). Juga FKH dan LPP Bogor, difungsikan sebagai stasiun IB untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya, Aktivitas dan pelayanan IB waktu itu bersifat hilang, timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.
Pada tahun 1959 dan tahun-tahun berikutnya, perkembangan dan aplikasi IB untuk daerah Bogor dan sekitranya dilakukan FKH IPB, masih mengikuti jejak B. Seit yaitu penggunaan semen cair umtuk memperbaiki mutu genetik ternak sapi perah. Pada waktu itu belum terfikirkan untuk sapi potong. Menjelang tahun 1965, keungan negara sangat memburuk, karena situasi ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan, sehingga kegiatan IB hampir-hampir tidak ada. Stasiun IB yang telah didirikan di enam tempay dalam RKI, hanya Ungaran yang masih bertahan.
Di Jawa Tenggah kedua Balai Pembenihan Ternak yang ditunjuk, melaksanakan kegiatan IB sejak tahun1953, dengan tujuan intensifikasi onggolisasi untuk Mirit dengan semen Sumba Ongole (SO) dan kegiatan di Ungaran bertujuan menciptakan ternak serba guna, terutama produksi susu dengan pejantan Frisien Holstein (FH). Ternyata nasib Balai Pembibitan Ternak kurang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, kecuali Balai Pembibitan Ternak Ungaran, dan tahun1970 balai ini diubah namanya menjadi Balai Inseminasi Buatan Ungaran, dengan daerah pelayanan samapi sekarang di daerah jalur susu Semarang – Solo – Tegal.
Inseminasi buatan telah pula digalakkan atau diperkenalkan oleh FKH IPB, di daerah Pengalengan, Bandung Selatan, bahkan pernah pula dilakukan pameran pedet (Calf Show) pertama hasil IB. Kemajuan tersebut disebabkan adanya sarana penunjang di daerah tersebut yaitu 1) rakyat pemelihara sapi telah mengenal tanda-tanda berahi dengan baik, 2) rakyat telah tahu dengan pasti bahwa peningkatan mutu ternak melalui IB merupakan jalan yang sesingkat-singkatnya menuju produksi tinggi, 3) pengiriman semen cair dari Bogor ke Pengalengan dapat memenuhi permintaan, sehingga perbaikan mutu genetik ternak segera dapat terlihat.
Hasil-hasil perbaikan mutu genetik ternak di Pengalengan cukup dapat memberi harapan kepda rakyat setempat. Namun sayangnya peningkatan produksi tidak diikuti oleh peningkatan penampungan produksi itu sendiri. Susu sapi umumnya dikonsumsi rakyat setempat. Akibatnya produsen susu menjadi lesu, sehingga perkembangan IB di Pangalengan sampai tahun 1970, mengalami kemunduran akibat munculnya industri-industri susu bubuk yang menggunakan susu bubuk impor sebagai bahan bakunya.
Kekurang berhasilan program IB antara tahun 1960-1970, banyak disebabkan karena semen yang digunakan semen cair, dengan masa simpan terbatas dan perlu adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. Disamping itu kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan kurang dapat perhatian.
Dengan adanya program pemerintah yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dimulai tahun 1969, maka bidang peternakan pun ikut dibangun. Tersedianya dana dan fasilitas pemerintah akan sangat menunjang peternakan di Indonesia, termasuk program IB. Pada awal tahun 1973 pemerintah measukan semen beku ke Indonesia. Dengan adanya semen beku inilah perkembangan IB mulai maju dengan pesat, sehingga hampir menjangkau seluruh provinsi di Indonesia.
Semen beku yang digunkan selema ini merupakan pemberian gratis pemerintah Inggris dansSelandia Baru. Selanjutnya pada tahun 1976 pemerintah Selandia Baru membantu mendirikan Balai Inseminasi Buatan, dengan spesialisasi memproduksi semen beku yang terletak di daerah Lembang Jawa Barat. Setahun kemudian didirikan pula pabrik semen beku kedua yakni di Wonocolo Suranaya yang perkembangan berikutnya dipindahkan ke Singosari Malang Jawa Timur.
Untuk kerbau pernah pula dilakukan IB, yakni di daerah Serang, Banten, dengan IPB sebagai pelaksana dan Dirjen Peternakan sebagai sponsornya (1978). Namun perkembangannya kurang memuaskan karena dukungan sponsor yang kurang menunjang, disamping reproduksi kerbau belum banyak diketahui. IB pada kerbau pernah juga diperkenalakan di Tanah Toraja Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara dan Jawa Timur.
Hasil evaluasi pelaksanaan IB di Jawa, tahun 1972-1974, yang dilaksanakan tahun 1974, menunjukan anka konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21,3 – 38,92 persen. Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan IB, tidak terletak pada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi IB, perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit.
C. Tujuan, Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘.
Tujuan Inseminasi Buatan
a) Memperbaiki mutu genetika ternak;
b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ;
c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan IB
a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Kerugian IB
a) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
b) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
c) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
d) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
Pustaka:
Bearden, HJ and Fuquay JW, 1984. Applied Animal Reproduction. 2ndEdition. Reston Publishing Company, Inc. A Prentice-Hall Company. Reston. Virginia.
Evans G and MaxwelI WMC, 1987. Salamon’s Artificial Insemination of Sheep and Goats. Butterworths. Sydney.
Foote RH, 1980. Artificial Insemination. In Reproduction in Farm Animal 4thEdition. Hafez, E.S.E. (Ed.). Lea and Febiger. Philadelpia.
Hafez ESE, 1993. Reproduction in Farm Animai. 6th Edition. Lea and Febiger. Philadelpia
Salisbury, G.W dan N.L. Vandemark, 1985, Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan Pada Sapi, diterjemahkan R. Djanuar, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Toelihere MR, 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
—————–, 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

Virus

Penyakit pada Ternak Sapi Perah dan Sapi Potong

Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya.

Secara umum penyakit hewan adalah segala sesuatu yang menyebabkan hewan menjadi tidak sehat. Hewan sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan ciri-ciri (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) tidak mengandung bahan-bahan yang merugikan manusia sebagai konsumen, dan (c) mampu berproduksi secara optimum.
Banyak sekali penyakit yang dapat menyerang sapi perah namun demikian yang terpenting adalah mastitis, anthrax, PMK (penyakit mukut dan kuku), BSE atau mad cow dan lainnya. Disamping itu penyakit yang mungkin sehari-hari dapat dihadapi peternak seperti busuk kuku (foot rot), kembung perut dan lain-lainnya.

1. Mastitis atau Radang Ambing

Mastitis atau radang ambing merupakan penyakit terpenting pada sapi perah, tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Mastitis merupakan peradangan kelenjar susu yang disertai dengan perubahan fisik, kimiawi dan mikrobiologi. Secara fisis pada air susu sapi penderita mastitis klinis terjadi perubahan warna, bau, rasa dan konsistensi.

Mastitis dipengaruhi oleh interaksi 3 faktor yaitu ternak itu sendiri, mikroorganisme penyebab mastitis dan faktor lingkungan. Menurut para ahli penyebab utama mastitis adalah kuman Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysagalactae, Streptococcus uberis, Stafilokokus aureus dan Koliform. Faktor lingkungan, terutama sanitasi dan higienis lingkungan kandang tempat pemeliharaan, posisi dan keadaan lantai, sistem pembuangan kotoran, sistem pemerahan, iklim, serta peternak itu sendiri dan alat yang ada.

Tanda-tanda klinis penyakit
Mastitis terutama yang klinis dapat dilhat dengan adanya perubahan bentuk anatomi ambing dan fisik air susu yang keluar. Sedangkan mastitis subklinis dapat didiagnosis melalui uji kimiawi atau uji mikrobiologis. Faktor-faktor yang sering menjadi penyebab tidak langsung atau mendorong meningkatnya mastitis antara lain anatomi (besar dan bentuk ambing, puting), umur ternak, jumlah produksi susu, dan lainnya. Faktor ternak terutama dipengaruhi oleh stadium laktasi, sistem kekebalan, kepekaan individu, anatomi dan umur serta penanganan pasca pemerahan.

Gejala klinis mastitis nampak adanya perubahan pada ambing maupun air susu. Misalnya bentuk yang asimetri, bengkak, ada luka, rasa sakit apabila ambing dipegang, sampai nantinya mengeras tidak lagi menghasilkan air susu jika sudah terjadi pembentukan jaringan ikat. Pada air susu sendiri terjadi perubahan bentuk fisik maupun kimiawi.

Pada mastitis subklinis, perubahan secara klinis pada ambung maupun air susu tidak nampak namun dengan pengujian secara mikrobiologi dan kimiawi akan nampak adanya perubahan. Penurunan produksi yang tidak wajar merupakan gejala yang dapat diperhatikan peternak untuk mendeteksi mastitis subklinis.

Perbedaan Air Susu Sapi Mastitis dan Normal

Air susu pada sapi normal
A. Fisik
  • Warna Putih kekuningan
  • Rasa agak manis
  • Bau harum asam
  • Konsistensi cair, emulsi merata

B. Kimiawi
  • Kasein normal
  • Protein total normal
  • Albumin normal
  • Globulin normal
  • Gula susu normal
  • Laktosa normal
  • Tekanan osmose isotonis
  • PH air susu normal
  • Jumlah SCC (sel/ml air susu) 0 – 200,000
  • PMN (%) 0 - 25

C. Mikroorganisme
  • Jumlah bakteri total dan sel radang yang dianggap aman < 500.000

Air susu pada sapi penderita mastitis
A. Fisik
  • Warna putih pucat agak kebiruan
  • Rasa getir atau agak asin
  • Bau asam
  • Konsistensi pecah, lebih cair, kadang ada jonjot, endapan fibrin dan bila dipanasi pecah.

B. Kimiawi
  • Kasein menurun
  • Protein total menurun
  • Albumin meningkat
  • Globulin meningkat
  • Gula susu menurun
  • Laktosa menurun
  • Tekanan osmose hipotonis
  • PH air susu alkalis
  • Jumlah SCC (sel/ml air susu) di atas 400.000
  • PMN (%) di atas 25

Diagnosa


Diagnosa mastitis dapat dilakukan dengan melihat perubahan patologi anatomi terutama pada ambing dan menguji perubahan fisik dan kimiawi serta mikrobiologis air susu. Uji yang biasa dilakukan misalnya dengan Uji CMT dan lainnya Gejala klinis lainnya seperti demam, penurunan nafsu makan juga sering menyertai penderita mastitis.

Tindakan Penanganan

Usaha untuk mengatasi mastitis sebaiknya ditekankan pada usaha pencegahan. Dengan memperhatikan faktor-faktor predisposisi dan melakukan sanitasi secara teratur dan benar baik  terutama terhadap kandang dan peralatan serta memperhatikan kesehatan pekerja khususnya pemerah. Kebersihan kandang, kebersihan sapi, jumlah sapi dalam kandang, cara pemberian air susu pada pedet, metode pemerahan, pemberian desinfektan pada puting setelah pemerahan merupakan sebagaian masalah yang belum dapat diatasi oleh peternak kita.

Pengobatan dilakukan dengan memperhatikan jenis antibiotika, jumlah yang digunakan, aplikasinya,. Antibiotika ada yang bersifat long acting maupun jangka pendek, begitu juga cara  pemberiannya. Beberapa antibiotika yang biasa digunakan antara lain Penisilin, Streptomisin, Ampisilin, kloksasilin, neomisin, oksitetrasiklin, tetrasiklin.

2. Antraks atau Radang Limpa
Penyakit antraks (Anthrax) atau radang limpa, merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis atau dapat menular ke manusia. Kasus muncul terutama pada musim pancaroba.  Antraks menyerang hewan khususnya ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing, babi), burung unta dan hewan menyusui lainnya.

Penyebab penyakit antraks adalah bakteri bacillus anthracis. Sumber infeksi utama adalah ternak terinfeksi, air dan tanah. Bahan-bahan lainnya misalnya bahan pakan juga diketahui menjadi sumber infeksi setelah bahan tersebut tercemari baik oleh spora maupun kumannya. Bentuk spora tahan terhadap pemanasan pada suhu tinggi, pemanasan secara kering dengan suhu 150°C dapat membunuh spora antraks dalam waktu 1 jam, sedangkan pemanasan basah dengan autoclaf pada suhu 120°C akan memusnahkan spora dalam waktu 15 menit. Bentuk vegetatif akan mati dengan pemanasan 55 – 60°C.

Masa inkubasi penyakit antraks biasanya berkisar antara 1 - 3 hari dan kadang dapat lebih dari 2 minggu. Sedang tanda-tanda umum pada tipe akut dan kronis adalah demam, sesak nafas, depresi dan lemah serta kadang disertai kejang. Tanda-tanda ternak terserang antraks biasanya berbeda antar spesies.

Ada beberapa tipe antraks yaitu:
  • Tipe kutaneus (kulit), yang biasanya menyebar melalui kulit yang luka. Penyebaran penyakit biasanya melalui kontak langsung dengan bahan terkontaminasi. Spora dari tanah atau karkas yang terkontaminasi kuman menjadi penyebab kasus tersebut,
  • Tipe inhalasi, antraks tipe ini seringkali disebabkan ternak atau orang yang menghirup debu yang tercemari spora, sehingga masuk melalui saluran pernafasan, penyakit menimbulkan demam yang tinggi, batuk kering, cyanosis, shock dan rasa sakit yang luar biasa dan akhirnya menimbulkan kematian.
  • Tipe gastrointestinal. Tipe gastrointestinal dapat terjadi jika ternak mengkonsumsi bahan yang terkontaminasi kuman basil antraks.

Pengendalian penyakit

Ternak terserang antrak jika ditangani dengan cepat akan tertolong dengan antibiotika seperti penisilin, tetrasiklin, streptomisin dan antibiotika lainnya. Program yang paling baik untuk mencegah antraks adalah vaksinasi secara teratur pada daerah-daerah endemi antraks. Program vaksinasi dilakukan satu kali dalam setahun dengan menggunakan vaksin spora antraks (hidup) galur 34 F2 (sterne strain). Dosis yang dianjurkan, untuk sapi dan kerbau adalah 1 ml/ekor sedangkan untuk kambing dan domba adalah 0.5 ml/ekor.

Penyakit pada Ternak Sapi Potong
Penyakit pada sapi potong relatif tidak sekomplek penyakit pada sapi perah. Namun demikian banyak juga penyakit yang selain menyerang sapi perah juga menyerang sapi potong TBC, Anthrax, PMK (penyakit mukut dan Kuku), BSE atau Mad Cow dan lainnya. Disamping itu penyakit yang mungkin sehari-hari dapat dihadapi peternak seperti diare, cacingan, kembung perut dan lain-lainnya.

1. Diare (mencret)
Penyakit ini sering terjadi terutama pada musim penghujan. Penyebab diare antara lain mikroorganisme yang mencemari kandang, karena kandang kurang bersih, becek, ventilasi kurang baik dan lain-lainnya.

Kadang-kadang pemberian pakan yang tidak teratur dan cacingan juga menjadi penyebab diare.

Cara mengatasinya adalah memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Pengobatan dapat dilakukan secara sementara dengan obat tradisional. Jika mencret terus menerus upayakan setidaknya ternak mendapatkan minum (tambahkan gula dan garam) sebagai pengganti cairan tubuh.

2. Pneumonia (Radang Paru)

Penyakit radang paru ini terutama disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Namun demikian iklim (misalnya cuaca yang terlalu dingin) dan lingkungan (misalnya banyak debu atau partikel makanan khususnya konsentrat yang masuk ke saluran pernafasan dan lain-lainya) seringkali menjadi pendorong utama timbulnya pneumonia. Faktor kandang misalnya ventilasi, kandang terlalu lembab, angin yang masuk terlalu kencang, kelembaban yang terlalu tinggi, kurang sinar matahari, stress atau penanganan ternak yang kurang baik sering menjadi penyebab keradangan.

Gejala yang terlihat antara lain hidung ingusan terus menerus, cekung hidung kering, demam, batuk-batuk, frekuensi pernafasan cepat dan dangkal, kadang nampak kesulitan bernafas, nafsu makan ternak berkurang dan pertambahan bobot badan rendah.

Pencegahan penyakit antara lain dapat dilakukan dengan memperhatikan perkandangan yang baik misalnya perhatikan ventilasinya, sinar matahari upayakan masuk sampai ke kandang (lantai), jaga angin supaya tidak langsung mengenai ternak, memperhatikan cuaca atau iklim, jaga sanitasi kandang dan lingkungan, jaga kontak dengan orang yang sedang sakit radang baik paru maupun pilek biasa dll. Jika memungkinkan pengobatan dengan antibiotika seperti Penstrep, oksitetrasiklin sesuai dengan petunjuk petugas.

3. Keropos Kuku atau Busuk Kuku

Penyakit ini walaupun tidak mematikan namun namun mengganggu produksi. Penyebab penyakit antara lain bakteri atau kuman. Tanda-tandanya antara lain kepincangan, kuku koyak dan berbau busuk.

Tanah yang becek merupakan media perkembangan kuman penyebab penyakit busuk kuku dan menular dari ternak satu ke ternak lainnya. Penanganannya adalah kuku digunting sampai pada bagian jaringan yang sehat. Semprot dan bersihkan dengan antiseptik misalnya dengan antisep, obat merah, iodium, dll kemudian ditutup. Pemotongan kuku secara teratur sangat membantu pencegahan penyakit. Hindarkan tempat yang memungkinkan adanya penyebaran penyakit.

istilah anatomi ternak

Yang berhubungan dengan kepala, leher, dan Badan :

1. Dorsal : Superior, bagian atas, bagian punggung.
2. Ventral : Inferior, bagian bawah, bagian perut
3. Medial : Internal, bagian tengah
4. Lateral : external, bagian luar, samping, sisi, tepi
5. Cranial : Mendekati kepala
6. Caudal : Mendekati ekor
7. Oral : mendekati mulut
8. Aboral : menjauhi mulut
9. Anterior : bagian depan
10. Posterior : bagian belakang

Yang berhubungan dengan anggota badan :

1. Proximal : Superior, Mendekati badan (Ke atas)
2. Distal : Inferior, Menjauhi badan, menuju kaki
3. Dorsal : bagian muka kaki depan
4. Voral : bagian belakang kaki depan
5. Plantar : bagian belakang kaki belakang

Yang berhubungan dengan tofografi tulang :

1. Tuberculum : Benjolan kecil
2. Processus : Tonjolan, penjuluran (besar)
3. Alae : Tonjolan, Penjuluran (kecil) terdapat pada os atlas
4. Spina : tajuk, duri
5. Crista : rigi
6. Linea : garis
7. Caput : Kepala
8. Collum : Leher
9. Margo : tepi, pinggir, sisi
10. Condylus : Bonggol
11. Cavitas/cavum : Cekungan, Lubang, rongga
12. Acetabulum : Mangkuk, Lekuk (sendi)
13. Facies : permukaaan
14. Fossa : lekuk yang besar (dalam)
15. Fovea : Celah
16. Articulatio : Persendian, Pertemuan dua tulang yang bergerak
17. Foramen : Lubang, celah, liang
18. Canal : saluran
19. Fissura : celah belahan
20. Sulcus : Alur
21. Nocta : Titik, lekuk yang tajam (insisura)
22. Sutura : Pertautan dua tulang yang tidak bergerak
23. Sinus : Rongga udara yang bertempat di dalam tulang atau antara tulang
24. Columna : Batangan, susunan
25. Superficial : bagian lapisan sebelah atas
26. Profundus : Bagian permukaan lapisan sebelah bawah.
27. Angulus : Suatu sudut
28. Meatus: Sekat antara dua bagian
29. Tuberositas : tonjolan yang agak besar

laporan anatomi dan histologi ternak

Selasa, 23 Agustus 2011

teknologi pengolahan kulit

Resume Kuliah Teknologi Kulit ke 6 dan 7

PROSES PENYELESAIAN


Terdiri dari:
1. Netralisasi
2. Pewarnaan
3. Pelemakan
4. Pengeringan
5. Pementangan
6. Pengecatan
7. Pemanasan/seterika

Netralisasi  reaksi pengikatan zat warna pada substansi kulit tidak terlalu cepat sehingga zat warna dapat meresap kedalam substansi kulit sebelum berikatan

Tujuan  menetralkan substansi kulit samak dari asam-asam yang terikat maupun yang bebas
 penyamakan krom bermuatan positif sangat kuat  intensitas muatan positif dikurangi  zat warna bermuatan negative tidak terlalu cepat berikatan dengan substansi kulit

Zat kimia  Bicarbonat 2%
Borax 1 – 3 %


Pewarnaan  Pemberian zat warna yang dapat menyerap ke dalam jaringan kulit sehingga berfungsi sebagai warna dasar

 memantulkan warna dari cahaya
 terdapat ikatan rangkap
 yang mengandung gugus cromophore dinamakan chromogen  gugus ethylene, carbonyl, carbomine

Penggolongan zat warna:
1. Zat warna basis
2. Zat warna asam
3. Zat warna substansi
4. Zat warna belerang

Zat warna basis  garam dari basa zat warna –NH2 dengan asam anorganik

berionisasi dalam air : R-HN3Cl R-NH 3+ Cl-

 kurang baik untuk kulit samak krom

Zat warna asam  garam dari zat warna –SO3H dan atau –COOH dengan basa organik
Berionisasi dalam air: R-SO3Na R-SO3- + Na+  asam anionis  bisa untuk krom
Zat warna Substansi  sama dengan zat warna asam tetapi molekulnya lebih besar, reaktif, sensitive terhadap keasaman  pH > 5

Zat warna Belerang  mengandung sulfur dalam molekulnya, larut dalam basis (alkalis)

Pedoman praktis  pelarut air suling
 temperature 80 – 85 0C
 banyaknya air 20 – 25 kali zat warna
 zat warna belerang dilarutkan  Na2S kemudian di filtrasi

PELEMAKAN
 agar kulit menjadi lemas dan lentur setelah dikeringkan
 minyak dalam air (W/O)
 perlu emulgator  teepol, sabun, minyak tersulfon,

Terbanyak digunakan  minyak tersulfon
Fungsi lemak  pelumas serat kulit yang bergesekan  meningkatkan fleksibilitas, kemuluran, dan daya tahan sobek

Asal lemak  hewan dan tumbuhan  minyak wool, minyak ikan, minyak olyf, minyak jarak

Pengikatan lemak  lemak yang masuk ke dalam kulit sebagian diikat oleh serat kolagen

Kulit samak krom  dilakukan pengemulsian
 tinggi derajat sulfonasi  kadar lemak tinggi
 tinggi kadar Cr2O3  pengikatan lemak tinggi
 ikatan terjadi antara lemak dengan krom dan substansi kulit

Metode Pelemakan:
1. Meminyaki permukaan dengan menulas
Kulit sebelum dikeringkan  zat penyamak tidak keluar, cegah oksidasi, rajah lebih elastis  minyak ikan, campuran minyak ikan dan minyak mineral, minyak tersulfon

2. Pelemakan pada tong berputar
Tujuan sam air 500C  hasil lebih bagus
3. Pencelupan pada lemak panas
Tujuan  memasukan lemak padat pada jaringan kulit (impregnasi)  kulit teknis  paraffin padat, wax, talg, dan hars  suhu 850C  sisa lemak dicuci pakai larutan soda dan dinetralisir dengan asam
4. Melicker
 untuk kulit box, sandang, dan kulit ringan lainnya
 minyak atau lemak tersulfon, sabun, kuning telur, dan vetalkohol sulfat
Pengenceran  tambah emulgator diencerkan dengan air panas sedikit-sedikit
Cara  kulit diputar dalam 100 – 200% air 30 – 400C  masukan cairan licker dan diputar 45 – 60 menit

Pengeluaran air dan pengeringan kulit samak
 air dikeluarkan secara mekanis  dijemur/diagin-anginkan
Faktor berpengaruh 1. Struktur tenunan
2. Zat higroskopis dalam kulit
3. Kadar air udara
4. Suhu udara
5. Aliran udara
Pengeringan nabati  Rh 94% - 60 %; keceptan udara 40 – 70 m/mnt; T 24-250C

Pengerjaan berikutnya  mekanis : 1. Pengetunan (Stacking)
2. Pementangan (Recking/toggling)
3. Penghampelasan (buffing)
4. Perapihan (trimming)

PENGECATAN
Pengecatan  warna hanya melekat di permukaan dalam media bahan perekat
Komponen zat 
1. zat warna (pigmen)
Zat anorganis mengandung logam (Pigmen kuning = PbCr4/Pb kromat, CaS/calsium sulfide; Pigmen merah = Fe2O3 /besi oksida, Pb3O4/ timbale oksida; Pigmen biru= FeCl6; pigmen hitam  jelaga)
2. bahan perekat (binder)
Fungsi melekatkan warna dan memperbaiki permukaan kulit
Contoh  collodium, varnish, casein, albumine, dextrin, dan bahan plastik
3. pelunak (softener)
Fungsi  memperlunak bahan perekat yang umumnya keras dalam keadaan kering sehingga memenuhi syarat-syarat elastisitas kulit
Contoh  tributyl phosphate (C4H9)3PO4, triphenyl phosphate (C6H5)3PO4, diaethyl phtalat C6H4(COOC2H5)6, dibuthylptalat C6H4(COOC4H9)2

Golongan Cat  didasarkan nama bahan perekatnya:
1. Cat kollodium
2. Cat protein
3. Cat plastik

Untuk kulit sandang (jaket)  cat protein  bersifat porus untuk bernapas dan penguapan air.

Pelarut  bensin, bensol, toluene, xylol, methyl alcohol, aethyl alcohol, buthyl alcohol, keton, ester, aethyl acetate dan aether

Contoh:
Pigmen : Eukanol schwart ………………………… 100 gr
Perekat : Cacein ……………………………………. 30 gr
Pelarut : Amoniak …………………………………. 8 cc
Pelunak : Turkish Red Oil ………………………….. 8 – 12 cc
Pengkilat : Eukanol Glanz N …………………………. 20 – 30 cc
Pengencer : Air ………………………………………… sd/ 100 cc

Cara  pewarna pakai sikat  pakai kwas/sprygun

Fiksasi  untuk mengikat zat warna
Cat protein  semprot formalin, press panas, glacing machine, rol press (kulit sol)

Resume Kuliah Teknologi Kulit ke 3 dan 4

PROSES SIAP SAMAK


Tujuan: Membuat Kulit dalam Keadaan Siap Untuk Dikerjakan Dalam Larutan Penyamak  Beam House

Keperluan Air : 5 -6 m3 untuk Tiap 100 kg Kulit

Macam-Macam Air:
1. Air Hujan
2. Air Tanah
3. Air Permukaan (sungai, rawa, danau)  perlu di jernihkan

Zat yang perlu diperhatikan dalam air: - Ca dan Mg  kesadahan air:
1. Kesadahan sementara  dihilangkan dengan pemanasan
2. Kesadahan tetap

Penentuan Derajat Kesadahan:
1. 10 Kesadahan Jerman (0 KD) = 1 mg CaO/100 ml air
2. 10 Kesadahan Perancis (0 KP) = 1 mg CaCO3/100 ml air
3. 10 Kesadahan Inggris (0 KI) = 1 mg CaO/70 ml air

Pembagian jenis air menurut derajat kesadahannya:

Jenis Air Kesadahan (0 KD)
Air Lunak 0 – 8
Air Setengah Lunak 8 – 16
Air Sadah 16 – 20
Air Sangat Sadah > 20

Metoda Penurunan Kesadahan Air:
1. Metoda Kapur Soda Ca(OH)2 dan Na2CO3
2. Metoda Permutit  SiO2Al2O3Na2O.6H2O
3. Metoda Wolfatit (W)  bahan syntetis

Persyaratan air untuk proses kulit:
1. Bersih dan jernih
2. Tidak sadah
3. Logam atau zat besi < 5 mg/liter
4. Kwantitas cukup


PELEMASAN ATAU PERENDAMAN

Tujuan: 1. Rehidrasi kulit kering atau kulit awet
2. Membersihkan kulit dari kotoran
3. Menghilangkan garam/zat kimia proses pengawetan
4. Melarutkan protein lain

Zat Kimia: zat memiliki sifat desinfektan dan pembasah (wetting agent)  teepol, molescal, cismolan

Cara Kerja: 1. Kulit kering  800% - 1000% air
molescal atau cismolan 1- 2 permil
Asam Formiat 1 – 5 permil
NaOH dan KOH 1 – 2 permil

2. Kulit Pikel  Netralisir dengan NaHCO3 1 – 2 permil
3. Kulit Garaman  R1/ Rendam 12 – 24 jam, tambah desinfektan
R2/ Air mengalir


PENGAPURAN
Tujuan: melepaskan epidermis beserta bulunya dan membuka tenunan kulit
Menyabunkan lemak agar mudah larut dalam air untuk dibuang

Zat kimia: - Sulfida  Na, Ca, NH2, dan As
 merusak membrane basalis  epidermis lepas dan bulu lepas
 memutus jembatan S – S dari sistin menjadi sistein
- Hydroksida  Ca, Ba, Na, K
 membuka tenunan kulit

Cara Kerja: 1. Cara peleburan  memperoleh “bulu hidup”
Kulit dihamparkan setelah perendaman  bagian sub cutis dilabur
dengan adonan:
R : Na2S : 2 – 4% dari bobot kulit basah
Ca(OH)2 : 5 – 10% dari bobot kulit basah
H2O : 300% dari bobot kulit basah
Biarkan 1 – 2 jam  digerus degan pisau cuci bersih  rendam
dalam larutan Ca(OH)2

2. Cara perendaman
R : Na2S : 2 – 4 %
Ca(OH)2 : 5 – 10%
H2O : 300%
Perlu diaduk  buka tenunan


BUANG KAPUR
Tujuan: Agar kapur yang ada pada kulit menjadi hilang/berkurang

Cara membuang Kapur:
1. Kapur bebas
 dicuci dengn air biasa

2. Kapur terikat
Zat kimia : asam organic  HCl, H2SO4,
Asam anorganik  HCOOH, CH3COOH
Garam  (NH4)2SO4
Preparat khusu  decaltal
Alat pengetes  larutan penolphtheline (PP)


PELUMATAN (BATTING)
Tujuan  membuka tenunan kulit lebih sempurna dengan system enzim

Enzime  protease dan lipase
Oropon

Faktor-Faktor yang berpengaruh:
1. Temperatur, 50 0C
2. pH  7,5 – 8,5
3. Aktivator  garam ammonium

R/ Bahan Pelumat
Air 500C, 300%
Enzilon

PICKLE
Tujuan : mengawetkan kulit, dan menyiapkan kulit agar dapat langsung disamak
Menurunkan pH kulit menjadi 3

Zat Kimia: asam  H2SO4, HCl, HCOOH
Garam  NaCl, Na2SO4

Resume Kuliah Teknologi Kulit ke 4 dan 5

PROSES PENYAMAKAN


Penyamakan adalah suatu rentetan pengerjaan pada kulit dengan zat-zat atau bahan-bahan penyamak sehingga kulit yang semula labil terhadap pengruh kimia, fisis, dan biologis menjadi stabil pada tingkat tertentu

Secara Garis Besar Bahan Penyamak:
1. Organik
- nabati
- syntetis
- lemak
- aldehyd
2. Anorganik (mineral)
- crom
- alumunium
- ferum
- zingkum

Secara Praktis Bahan Penyamak dibagi:
1. Nabati
2. Syntetis
3. Aldehyde dan Minyak
4. Mineral

Nabati: substansi yang terdapat didalam bahan penyamak yang mempunyai daya dapat merubah kulit mentah menjadi kulit samak
- Tidak dipikel
- Cotoh: kulit sol, splitidico, pakaian kuda, kulit teknis, dan kulit lapis
- Tumbuhan Penghasil: - Mimosa,eik, mangrove dan frichten  bark
- Quehrancho, kastanin  kayu
- Valonen, trillc, divi-divi, algorabilia, myrobalam  buah
- Sumak, gambir  daun
- Produksi Dunia: - Quebracho 38%
- Mimosa  16%
- Kastanin  10%
- Eik  6%
- Mirobalan 5%
- Valonea, trillo, fitchen  4%
- Gambir  3%
- Lainnya 18%
- Mangrove: - Rhizophora Mucornata, Rhizophora Conlugata
- kadar zat penyamak  24 - 40%
- warna terlalu merah gelap, hasil samak tidak berisi
- Quebarcho: - Quebarcho lorentzi  ekstraksi kayu
- Gambir: - Uncaria Gambir  ekstrak daun dan ranting
- Sifat umum: - berat molekul tinggi, kompleks, gugus hydroksil phenolis
- rasa astringen (sepat)
- membentuk endapan dgn larutan garam berat
- endapat dgn gelatin
- warna biru tua
- bereaksi asam  COOH
- Procter & Stenhouse, membagi penyamak nabati pada 180 – 200 0C:
- Pyrogallol  C6H3(OH)3
- Pyrocatechin C6H4(OH)2
- Freudorberg, membagi atas sifat zat penyamak:
- zat penyamak dapat terhidrolisis asan fenol
- zat penyamak terkondensasi  ekstrak  katechine
- Teori penyamakan nabati:
1. reaksi antara –NH3+ dari kulit dengan anion zat penyamak  perlu kondisi asam
2. pengikatan semi polar
3. reaksi fisik  adsorbsi zat penyamak oleh serat kulit
- Metode penyamakan nabati:
a. Metoda lama:
1. Farbengang  pencelupan awal pada 6 – 8 bak  12-16 hr
2. Versenk  pencelupan dalam zat penyamak 30Be  1 mg
3. Versatz (penjenuhan)  sama dg versenk 4-6 bln
b. Metode dipercepat
1. Farbengang dan versenk  sama
2. diputar pada tong 6 – 8 rpm selama 3 hari, pada cairan zat penyamak 12 -16 Be.
c. Metoda cepat
1. langsung menggunakan tong putar 4 – 8 rpm selama 5-7 hari pada larutan penyamak 8 -15 Be

Syntetis: bahan penyamaknya hasil syntetis  Neradol D dari Stiasny 1911

- Penggolongan secara umum:
- Syntesis alifatis  derivat paraffin  sulfonat, alcohol, lemak
- Syntesis aromatis  phenolis, non phenolis, bensol, kresol, katachin, aniline, nitrobensol
- Penggolongan secara praktis:
- zat penyamak pembantu  tidak punya daya menyamak  memperbaiki proses penyamakan  asam-asam sulfon
- zat penyamak pengganti  menggantikan zat penyamak  resin syntesis
- zat penyamak kombinasi  sebagai pembantu atau pengganti  basyntan, tanigan, irgatan

Minyak/Lemak: dapat menyamak  trygliserida tak jenuh  angka yodium 120-160
- Teori pengikatan minyak pada kulit:
- Knap  lemak diserap kulit kemudian oksidasi  asam oxy berikatan dengan kulit
- Fahrian,  oksidasi ikatan rangkap 2 atom O  peroksida O-O bereaksi dengan gugus amino dari kolagen
- Mathur  hydrolisa triglyserida  lemaknya terpisah  asam oxy yg berikatan dengan kolagen

Aldehyd: hanya untuk kombinasi terutama pada kulit suede.
- Reaksi pengikatan:
1. pengikatan methyloamine
2. pengikatan methylol pada rantai peptida

Mineral: sebagai bahan penyamak utama  logam dapat membentuk molekul besar yang mempunyai daya menyamak kulit  krom, alumunium, ferum, cobalt, ziroonium

- Kimia krom : - valensi 2,3,4,5,6,7
- masking  sisa asam dalam molekul komplek  reaktifitas berkurang  baik untuk permulaan penyamakan
- hydrolisa krom oleh air (Cr……H2O)  (Cr….OH)- + N+
- agregasi  olation (pengikatan molekul yang sama menjadi lebih besar dengan menghasilkan air)  Polymerisasi (pengikatan molekul yang sama menjadi lebih besar tanpa mengeluarkan air)  daya menyamak
- basisitas  perbandingan antara valensi OH dan valensi Cr  Cr +++ 0%; Cr(OH)++Cl2 33,33%; Cr(OH)2+Cl 66,66%; Cr(OH)3 100%.
- Teori Penyamakan krom
- Teori Knap  pengendapan krom pada serat-serat kulit
- Teori Thomas, Kelly, Wilason (teori ionogen) ikatan zat penyamak pada kolagen terjadi oleh ion-ion sehingga terbentuk garam
-Teori Stiasny (teori koordinasi kompleks)  ada ikatan coordinatif antara krom kompleks dan kolagen
- Teori Gustavson (teori zwiter ion)  mula-mula terjadi ikatan antara kation kompleks dengan kolagen kemudian terjadi ikatan koordinatif antara gugus peptide dari kolagen dengan kompleks krom
- Prosedur penyamakan krom
- dilakukan pada drum berputar, haspel, bak aduk  Bantu penyerapan zat penyamak
- Kulit dimasukan dalam drum putar
- Air 70% dari berat bloten + garam 2% putar 5 menit
- masukan krom, putar 2 jam
- tambahkan Na2CO3 9% dari jumlah krom, 4 X 15’  basisitas naik, putar 3 jam  pH 4,5
- kematangan penyamakan  uji didih  ambil sepotong kulit, ukur dengan sedikit tarikan, masukan dalam air mendidih 10’, ukur kembali kalau berkerut penyamakan belum baik

Resume Kuliah 1 dan 2

DASAR TEKNOLOGI KULIT
Timbulnya ilmu ini bersifat empiris.
Umpamanya:
• Orang Indian kuno (INCA) mencoba-coba merendam kulit hewan segar dalam rendaman kulit kayu yang rasanya kesad ( Gambir, Mangrove, Mimosa, Golongan Dicotyledon)
• Orang Eskimo mencoba dengan otak beruang ternyata membuat kulit hewan menjadi awet dan lebih lemas (Kulit Beludru)

Dengan berkembangnya ilmu kimia, fisika, ilmu teknologi kulit ini mengikutinya.


A. ASPEK UMUM

PENGERTIAN KULIT
Kulit merupakan organ terbesar dari tubuh yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan mempunyai beberapa fungsi yang penting besarnya ± 10-12% dari tubuh.

FUNGSI KULIT
1.Melindungi tubuh dari kehilangan cairan tubuh yang berlebihan.
2.Memelihara temperatur tubuh
3.Organ peraba.
4.Menyimpan lemak dalam lapisan subcutan
5.Memelihara tubuh.
6.Rambut mempunyai fungsi sebagai isolasi untuk mencegah kepanasan/kedinginan.
7.Warna bulu dapat digunakan untuk menyamar.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kulit yang dihasilkan baik kualitas/kuantitasnya adalah:
1. Umur
2. Jumlah dan kualitas pakan yg diberikan
3. Jenis ternak
4. Penyakit
5. Cara pemeliharaan
6. Jenis kelamin
7. Musim
8. Cara penanganan dan pengolahan kulit.

 PENGULITAN
Adalah suatu kegiatan memisahkan kulit dari tubuh ternak yang sudah disembelih, sehingga dihasilkan kulit segar.

KULIT : 1.Kulit mentah/segar
2.Kulit mentah/kering
 Penjemuran /ruang pemanas

KULIT MENTAH
Yang dimaksud kulit mentah adalah bahan baku kulit yang baru ditanggalkan dari hewannya sampai yang telah mengalami proses-proses pengawetan.

Pada umumnya hewan : (Mamalia, Reptil, Aves, Pices, Amphybia)  kulitnya dapat
diawetkan/disamak

Paling banyak digunakan adalah kulit :
 Sapi, kerbau, kambing, dan domba

Untuk keperluan khusus:
 Anjing, beruang, buaya, ular, dan ikan.

Kulit hewan pada umumnya mempunyai sifat alami yang sangat bervariasi.
Diantaranya :
• Faktor umur
• Keturunan
• Lingkungan
• Management
• Bangsa (Breed) dll

Contoh:
• Kulit sapi FH ≠ Sapi potong Ongole
• Kulit sapi FH jantan ≠ Sapi FH betina
• Kulit sapi FH tua ≠ Sapi FH muda
• Kulit sapi FH kurus ≠ Sapi FH gemuk
meskipun satu bangsa.


B. SIFAT UMUM KULIT MENTAH

Kulit mentah bersifat mudah busuk.
Sesuai dengan bentuk badan hewan, kulit dibagi menurut jaringan collagen yang terpadat, longgar bahkan sampai ke tipis.
Diantaranya:
• Punggung
• Perut
• Kaki
• Leher
• Ekor
• Kepala

Daerah satu dan lainnya mempunyai sifat yang berbeda. Secara lateral (sisi), Daerah punggung tertebal dan berangsur-angsur menipis kedaerah perut.


C. SIFAT FISIK KULIT MENTAH

1. MAKROSKOPIS
Berbagai hewan mempunyai bentuk kulit mentah yang berbeda sesuai dengan bentuk hewannya.
Contoh:
• Kulit ular memanjang dan bersisik
• Kulit babi bundar
• Kulit buaya mempunyai lapisan tanduk
Berbungkul-bungkul.
• Kulit kambing mempunyai bulu rambut
• Kulit domba berbulu ikal

Bentuk kulit yang dipakai sebagai dasar adalah bentuk umum dari hewan sapi, kerbau, kambing, dan domba.


Untuk memperoleh hasil yang mendekati homogenitas, maka kulit dibagi secara tofografi menjadi beberapa daerah:

a. Daerah croupon (butt)
b. Daerah kepala dan leher
c. Daerah kaki, perut, dan ekor


PERTUMBUHAN KULIT
Tumbuh pada fase embrionik minggu ke 4 – 5
Berasal dari dua bagian embrionik:
a. Epidermis  ectoderm
b. Dermis  mesoderm

2. MIKROSKOPIS
Secara histologis kulit hewan dibagi menjadi 3 bagian :
a. Lapisan epidermis
b. Lapisan dermis/corium/cutis
c. Lapisan hypodermis/sub cutis

A. Epidermis
- Lapisan bagian luar, terdiri dari sel-sel keratin, sel-sel epithel yang dapat berkembangbiak.
- Berstruktur seluler
- Tebalnya 1% dari tebal kulit
- Kulitnya keras/banyak sel-sel tua/sel-sel mati

- terdiri dari 5 lapisan ( dalam  luar)
1. Stratum Basale/Germinativum
2. Stratum Spinosum
3. Stratum Granulosum
4. Stratum Lucidum
5. Stratum Corneum.

B. Dermis/corium/cutis
- Bukan sel-sel, tetapi berupa serabut-serabut yang tersusun seperti anyaman yang halus.
- Tenunan pengikat yang padat, yang kepadatannya tergantung pada jenis ternak, umur.
- Serabut terdiri dari serabut kolagen, elastin dan retikulin  menentukan kulit jadi.
- Disebut kulit sebenarnya, karena merupakan bahan dasar utama dalam proses penyamakan kulit yang akan diubah menjadi Leather.
- Tebalnya ± 80-85% dari tebal kulit.
- Lapisan ini dibedakan menjadi 2 bagian:
a. Pars papilaris (luar)
b. Pars reticularis (dalam)
 antara kedua bagian ini tidak ada pembatas
yang jelas.

a. Pars papilaris:
- Menembus kedalam papilar
- Lapisan tipis, mengandung serabut penyambung yang jarang.
- Mempunyai fungsi khusus yaitu menghubungkan khorium dan epidermis.
- Daerah kantong rambut, sel lemak kelenjar keringat, kelenjar lemak dan kelenjar sebaceous.
- Menentukan rupa dari kulit samak
- Serabut kolagen, elastin yang bertanggungjawab terhadap elastisitas dan kekuatan kulit.


b. Pars Reticularis
- Lebih tebal dari Pars papilaris (tebal pada hewan besar = 75 -85%, pada hewan kecil 45-50%)
- Terdiri dari jaringan penyambung yang padat
- Sel-sel lebih sedikit, serabut tenunan pengikat yang lebih banyak daripada sap papilaris
- Serabut kolagen, elastin yang teratur
- Terdapat pembuluh darah, serat-serat dan tenunan lemak.


C.Hypodermis/Sub cutis
- Lapisan terdalam dari kulit
- Terdiri dari jaringan penyambung yang menghubungkan khorium secara longgar dengan bagian tubuh yang berdekatan  memungkinkan dapat bergeser terhadap bagaian tubuh.
- Terdiri dari kolagen, elastin dan sel-sel lemak
- Pada proses penyamakan kulit lapisan ini dibuang secara mekanik dalam proses Fleshing


D. SIFAT KIMIA KULIT MENTAH
1.Unsur pokok non protein
a. Lipid…………………… 1,5%
b. Karbohidrat………….. 0,4 – 1%
c. Mineral……………….. 0,5 %
d. Enzym…………………. sedikit
e. Vitamin………………… sedikit

2.Unsur pokok protein
a. Protein berbentuk (Fibrous protein)
- collagen
- keratine
- elastin
b. Protein tak berbentuk (Globular protein)
- Albumin
- Globulin












II. PENGAWETAN KULIT

Sebelum dilakukan proses pengawetan, kulit harus dalam keadaan bersih dari kotoran: (feses, urine, tanah, dll).

Kotoran dapat menyebabkan:
• Hasil pengawetan kurang baik
• Kebusukan dipercepat

Pembersihan kulit segera dilakukan setelah pengulitan.
Pengawetan harus dilakukan paling lama 5 jam setelah pengulitan.

Prinsip umum pengawetan kulit:
• Pengeringan
• Penambahan bahan-bahan pengawet

Tujuan:
• Mematikan bakteri pembusuk
• Menonaktifkan bakteri yang masih hidup

Perlakuan Kadar air kulit maksimal (%)
Pengeringan
Bahan pengawet
Kombinasi 12-15
40
25-30

Pengeringan:
• Penjemuran
• Pendiangan
• Mesin pengering






A. Pengawetan dengan Penjemuran

Cara ini dilakukan di negara-negara tropis.
Negara produsen : India, Cina, Afrika, Amerika Serikat, dan Indonesia

Bahan pengawet 
Senyawa Natrium arsenat, Cortimol G, Formalin, Antimusin Cp, Garam jenuh.

R/ Larutan 1-2% arsen 5 menit
Atau 1-2 ‰ cortimol
Atau 2 gr/liter

Cara kerja :
Kulit dicelupkan ke dalam larutan arsen/cortimol. Pentangkan pada bingkai, jemur dengan kemiringan 600, permukaan daging mengarah ke atas, menghadap utara-selatan.

Lama penjemuran:
Kulit tebal (sapi, kerbau, kuda)…………….. 2-4 hari
Kulit tipis (domba, kambing, kelinci)……… 1-2 hari

B. Pengawetan dengan Garam

Pengawetan dengan cara ini dilakukan sebagai pengawetan sementara.

Garam yang biasa dipakai :
• NaCl
• Garam khari (NaCl 50% + Na2SO4 50%)

Garam khari : mempunyai sifat menarik molekul air untuk pembentukan kristalnya sehingga sifat higroskopis dari garam NaCl dapat dikurangi.



Garam yang baik mengandung Ca & Mg ≤ 2%

Pengawetan kulit dalam jumlah besar diperlukan khusus dengan syarat:
1. Tidak mudah insekta untuk tumbuh & berkembang biak.
2. Orang dapat bergerak bebas untuk mengerjakannnya.
3. Lantai berlapis beton, dengan kemiringan 100 dari garis horisontal (ada juga dengan lantai cembung).

Cara Penggaraman I (kering)
NaCl 40% dari berat kulit dapat disimpan selama 1 bulan.

Cara Penggaraman II (basah)
NaCl 30% dari berat kulit dapat disimpan selama 3 minggu.

Yang perlu diperhatikan dalam penggaraman.
1. Kemurnian garam  hasilnya lebih baik
Terlalu tinggi kadar Ca & Mg  sangat higroskopis
Beberapa zat logam  menyebabkan warna-warna
yang tidak disukai & sukar dihilangkan
2. Jangan menggunakan garam bekas
3. Kulit segar harus bersih dari tenunan lemak
4. Tumpukan kulit jangan terlalu tinggi


C. Pengawetan Dengan Pickle
Pickle adalah cairan yang terdiri dari. Larutan garam dapur (NaCl) dengan asam.
• H2SO4
• HCOOH (formiat)




Garam bersifat : mencegah pembengkakan kulit
oleh asam.
Asam bersifat bakteriostatik.

Kulit yang diawet tahan selama 1 tahun rendaman dilakukan oleh pabrik kulit besar (efisiensi dalam produksi)

Keuntungan:
1. Mutu kulit segera diketahui, bersih dari bulu dan kotoran lain.
2. Ruang angkat menjadi lebih kecil
3. Dapat langsung disamak  eksport

Resep pickle:

R/ Air : 100%  dari bobot kulit siap samak
NaCl : 10-20% pH : 3,5 – 4,0
H2SO4: 1,5-2,3%

R/ Air : 100%  dari bobot kulit siap samak
NaCl : 8% pH : 3,5 – 4
HCOOH: 0,8%
Bila diperlukan tambah fungisida/insektisida

D.Pedoman Kulit Awet
Menilai kulit awet:
1. Penciuman : memasuki ruang khusus (gudang)
Tercium bau busuk  ada kerusakan

2. Inspeksi
Dilihat lembar demi lembar dan perhatikan
• Kulit harus bersih
• Telentang dengan baik
• Warna yang merata
• Tidak ada warna yang mencurigakan


3.Palpasi
• Daerah yang dicurigakan diraba, ditekan bandingkan dengan baik
• Mencabut bulunya, yang busuk biasanya lebih lunak

Klasifikasi Nilai Mutu Kulit Awet
1. Primer  mutu yang terbaik
2. Intermediates  mutu pertengahan
3. Seconds  mutu kedua
4. Thirds  mutu ketiga
5. Rejects  mutu yang ditolak

SNI No ;

ISTILAH KULIT
1. Hide : Berasal dari kulit hewan besar yang dewasa (sapi, kerbau, badak, unta, paus) yang beratnya untuk setiap lembar kulit 15 kg atau lebih.

2. Skin : Berasal dari kulit hewan kecil yang sudah dewasa (domba, kambing, babi, unggas, reptil, ikan) yang beratnya kurang dari 15 kg atau dapat juga dipakai untuk kulit hewan besar yang belum dewasa (anak sapi, anak kuda).

3. Fur : Istilah yang digunakan untuk kulit berbulu yang telah mengalami proses penyamakan (domba, kelinci, minx, fox).

4. Pelt : Istilah yang digunakan untuk kulit berbulu yang mentah segar (belum disamak).

5. Furskin : Istilah kulit bulu yang telah diawetkan.

6. Rawhide : Istilah kulit yang tidak berbulu dan
telah mengalami pengawetan.

ANALISA KULIT SAMAK NABATI

ANALISA KULIT SAMAK NABATI

BAB I
PENDAHULUAN

 
1.1 Maksud dan Tujuan
    Dalam praktikum ini bertujuan untuk menentukan kualitas kulit samak nabati (kulit sol), sehingga dapat ditentukan apakah kulit tersebut telah sesuai dengan SNI atau tidak. Dari hasil pemeriksaan dapat dikemukakan melalui hasil kualitatif maupun kuatitatif, sehingga dapat dijadikan evaluasi dalam kesalahan-kesalahan proses penyamakan kulit tersebut. Singkatnya, analisa ini bertujuan sebagai kontrol dasar penyamakan kulit serta pencegahan kerusakan-kerusakan kulit yang mungkin saja bisa terjadi akibat perlakuan yang salah dalam pengolahan kulit tersebut.

 
1.2 Dasar Teori
    a. Sekilas tentang penyamakan Nabati
        Kulit merupakan salah satu bagian dari makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan. Di zaman modern sekarang ini kulit hewan banyak dimanfaatkan sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Produk-produk yang menggunakan bahan kulit diantaranya adalah sepatu, ikat pinggang, tas, sarung tangan golf, dsb.
Tentunya bahan kulit yang berasal dari hewan tersebut tidak bisa begitu saja kita manfaatkan, karena hal ini harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu,proses ini yang dinamakan penyamakan kulit. Penyamakan kulit pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kulit mentah yang mudah rusak oleh aktifitas mikro organisme, kimiawi atau fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan lama. Mekanisme ini pada prinsipnya adalah pemasukan bahan-bahan tertentu kedalam jalinan serat kulit sehingga terjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dengan serat kulit.
Apabila bahan kulit hewan tersebut sudah stabil atau sudah disamak, maka barulah bahan kulit tersebut dapat dimanfaatkan. Proses penyamakan bahan kulit hewan tersebut memerlukan 3 tahapan, yaitu :

 
  1. Beam house operation
  2. Tanning operation
  3. Finishing operation
Harus diingat bahwa kulit merupakan bahan organik yang akan disamak, dan mempunyai sifat-sifat yang masih amat sensitif terhadap beberapa jenis kemikalia serta mikroorganisme, selam berlangsungnya proses penyamakan.
Untuk memperoleh hasil kulit tersemak yang sesuai, seperti yang diharapakan, maka pengontrolan selama proses berjalan harus dilakukan secara teliti dan terus menerus, agar dapat selalu disesuaikan dengan kondisi dan ketentuan yang diwajibakan untuk masing-masing penyamakan, seperti yang akan diuraikan dibawah ini, misalnya pengontrolan pH, kepekatan cairan, uji setelah proses berlangsung (tiap-tiap proses mengalami caran uji yang berbeda dengan proses lainnya, selama proses berlangsung). Dan dengan pengontrolan yang terus-menerus, kerusakan karena kelalaian dan kecerobohan dapat dihindarkan.
Bahan Penyamak Nabati
Tannin adalah subtansi pahit yang terdapat dalam babakan, buah kacang-kacanga, daun, akar atau biji. Dipakai untuk mengubah kulit hewan mentah menjadi kulit samak. Karena hal tersebut dari tumbuh-tumbuhan, maka dinamakan bahan penyamak nabati. Sumber bahan penyamak ini bermacam-macam sehingga akan berbeda-beda pula dalam kekuatan dan sifat, warna konsentrasi dan kualitasnya. Jadi hasil kulitnya pun sangat berbeda, bahkan diperuntukan penyamak berbagai macam kulit, antara lain kulit yang keras empuk, warna tetap atau terang, berat dan ringan. Tannin tersebut dapat digunakan sendiri-sendiri atau secara berbagai kombinasi untuk memperoleh berbagai efek.
Kulit yang disamak nabati umumnya berwarna coklat muda atau kemerahan sesuai dengan warna bahan penyamaknya. Ketahanan fisiknya terhadap panas kurang baik dibandingkan dengan kulit yang disamak khrom walaupun lebih baik dibandingkan dengan kulit yang disamak dengan minyak atau formaldehid. Kulitnya agak kaku, tetapi empuk, cocok untuk digunakan sebagai bahan dasar ikat pinggang, tas terutama yang pengerjaannya dengan tangan.
Bahan penyamak nabati ialah bahan penyamak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang mengandung bahan penyamak dapat diketahui:
  • Rasanya sepet,bila dirasakan dengan lidah
  • Warnanya akan menjadi hitam bila bersinggungan dengan besi

 
  • Bahan penyamak ini dapat dihasilkan dari :
  1. Babakan (kulit)     : akasia, sagawe, tungguli, bako2, mahoni, pilang dll
  2. Kayu            : Quebraco,eiken, mahoni,dll
  3. Daun            : sumoch,gambir,the, dll
  4. Buah            : pinang, manggis, sabut kelapa, valonea, divi2, dll

     
Kulit Sol
Kulit sol adalah kulit yang diperoleh dari penyamakan kulit sapi dengan menggunakan bahan penyamak nabati. Kulit sol digunakan sebagai lapisan bawah pada sepatu sehingga kulit tersebut harus keras. Dalam pengujian kulit sol perlu dilakukan pengujian secara organoleptis, fisis dan kimiawi untuk mengetahui kualitas dari kulit sol tersebut.
    Kulit Sol adalah kulit jadi, matang dari bahan baku kulit sapi yang disamak nabati, atau dikombinasikan krom nabati, umumnya digunakan sebagai bawahan sepatu, insole, maupun Out sole. Penggunaannya dalam sepau antara lain untuk : pengeras muka dan belakang, penguat tengah, sol luar, pengisi telapak kaki muka, pita, sol dalam, sol tengah, lapis hak.
Dalam penyamakan kulit sol, bahan baku yang kita gunakan akan mempengaruhu kulitasi kulit hasil samakan kita. Untuk itu kita perlu membahas tentang bahan baku dan bahan pewnyamak yang digunakan dalam proses penyamakan kulit sol.
Suda kita ketahui sebelumnya bahwa kulit sol merupakan kulit yang berasa dari penyamakan kulit sapi. Pada hewan sapi faktor jenis bangsa lebih besar pengaruhnya terhadap kulit dibandingkan dengan umurnya. Kulit sapi perah umumnya mempunyai rajah lebih halus dari pada kulit sapi tipe daging pada umur yang sama. Kulit sapi Brahmana mempunyai kelas yang sangat menonjol, hal ini menurunkan nilai kulitnya dibandingkan dengan jenis bangsa yang tidak berkelas.
    Kulit "Pedet" (anak sapi) mempunyai ciri-ciri yang sama dengan sapi dewasa tetapi sruktur kulitnya dalam keadaan lebih halus. Pada hewan sapi faktor umur lebih besar pengaruhnya terhadap kulit dibandingkan dengan jenis bangsanya. Pengaruh jenis bangsa tidak tampak pada saat "Pedet" sampai umurnya mencapai dewasa.
    Semakin tua hewan , akan semakin banyak bekas-bekas luka karena pukulan, guratan cap bakar, parasit. Hewan betina mempunyai rajah yang lebih halus dibandingkan hewan jantan. Hewan jantan pada umumnya mempunyai bobot rata-rata lebih berat dan daya tahan renggang yang lebih besar.
Pada kulit sapi goresan pada rajah yang tidak terlalu dapat diperbaiki dengan penanganan secara mekanik, umumnya Buffing (pengamplasan) kulit disebut "corrected grain" (Purnomo,1984).
Menurut Djoyo Widagdo (1980), pembagian kelas menurut kualitas (mutu) dari kulit sapi adalah sebagai berikut:
  1. Kualitas 1 atau prime
  2. Kualitas 2 atau Intermediet
  3. Kualitas 3 atau Second
  4. Kualitas 4 atau Third
  5. Kualitas akhir atau Rejek

     
    Analisa Kulit tersamak
  • Cara pengambilan contoh kulit
    Contoh kulit diambil secara acak dari jumlah lembar kulit dalam satu (1) tanding (bisa dalam side / lembar utuh)
    Tabel 6. Jumlah contoh kulit dan syarat lulus uji organoleptis
No
Jml kulit dalam satu tanding
Contoh kulit yang diambil
Jml yang memenuhi syarat
Lulus uji
Tidak lulus uji
1
2
3
4
5
6
7
8
9
s/d 50
51 - 150
151 - 280
281 - 500
501 - 1200
1201 - 3200
3201 - 10.000
10.001 - 35.000
35.001 - <
5
20
32
50
80
125
200
315
500
0
1
2
3
5
7
10
14
21
1
2
3
4
6
8
11
15
22
Kelas A, B, C kerusakan = 10%, 15%, 25%

 
Tabel 7. Jumlah contoh kulit untuk uji kimiawi dan fisis
No. Urut
Jml kulit dala satu tanding
Contoh kulit yang diambil
1
2
3
4
s/d 50
51 - 500
501 - 3200
3201 - <
2
3
5
8

 

 

 
  • Syarat Lulus Uji (SNI-0642-1989)
    Satu tanding dinyatakan lulus uji / diterima apabila: hasil uji contoh kulit secara organoleptis, fisi, dan chemis memenuhi persyaratan yang ditentukan.
    • Lulus kelas A jika organoleptis kerusakan 10%
    • Lulus kelas B jika organoleptis kerusakan 15%
    • Lulus kelas C jika organoleptis kerusakan 25%
    Satu tanding dinyatakan tidak lulus uji / ditolak apabila hasil uji, secara organoleptis, fisis dan chemis tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan.

     
  • Cara pengambilan contoh kulit (SNI-0642-1980)
    Setelah kita mendapatkan contoh kulit dari populasi kulit jadi tertentu (satu tanding), contoh kulit segera dipersiapkan untuk dipotong menjadi contoh uji (cuplikan), sesuai dengan jenis pengujiannya.
    Untuk pengujian kimiawi kulit, diambil dari semua bagian, bagian Krupon (K), bagian Leher (L), bagian Perut (P), untuk pengujian fisis dari bagian Krupon saja.

     

     

     
    Gambar 1. Gambar Pengambilan Contoh Uji
    Cara Kerja:
    • Gambarlah satu side dari kulit besar.
    • Tentukan bagian K, P dan L seperti gambar.
      • Bagian Krupon (K) dari pangkal ekor kearah leher dengan jarak 12,5 cm, dari garis punggung ke bawah dengan jarak 5 cm.
            Luas bagian krupon = 20 cm X 20 cm
      • Bagian perut diambil dari tengah-tengah bagian perut.
            L:uas bagian perut = 7,5 cm X 5 cm
      • Bagian leher diambil dari tengah-tengah bagian leher.
        Luas bagian leher = 7,5 cm X 5 cm
    Jika dianggap perlu, maka contoh dapat diperluas.
    Menurut SII-0019-70 / SNI 06-0235-1989, kulit sol sapi adalahkulit matang berasal dari kulit sapi yang disamak dengan zat penyamak nabati dan umumnya digunakan untuk sol pada pembuatan sepatu.
    Tabel 5. Syarat Mutu Kimiawi Kulit Sol Sapi
No
Uraian
Satuan
Persyaratan
1
Kadar air
%
Maksimum 18
2
3
Kadar abu jumlah
Kadar zat larut dalam air
%
%
Maksimum 2,5
Maksimum 10
4
Kadar minyak / lemak
%
Maksimum 2,0
5
Derajat penyamakan
%
60 - 95
6
pH
%
untuk pH 3,5 – 4,5 bila diencerkan 10 kali selisish pH maksimum 0,7

 
b. Jenis-Jenis Analisa Kulit Samak Nabati    
Pada dasarnya analisa kualitas nabati dapat ditentukan melalui 3 jenis analisa yang meliputi:
  1. Secara organoleptis
  2. Secara kimiawi
  3. Secara fisis

 
  1. Secara organoleptis
    Pemeriksaan secara oragnoleptis merupakan jenis pemeriksaan kulit samak dengan menggunakan panca indera. Pemeriksaan ini hanya dapat menentukan kualitas kulit secara sepintas, sehingga pemeriksaan ini kurang sempurna. Adapun alat pancaindera yang biasa digunakan dalam pemeriksaan kualitas kulit secara organoleptis adalah mata, perasa, pengecap, dan pencium. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan di pabrik-pabrik kulit pada penyortiran kulit, sebelum dianalisa lebih lanjut.

 
  1. Secara kimiawi
    Pemeriksaan secara kimiawi biasanya dilakukan di laboratorium dan menggunakan alat-alat serta bahan-bahan kimia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam proses penyamakan kulit yang dianalisa, sehingga bisa diketahui kandungan-kandungan kimiawi dari kulit tersebut secara spesifik, tergantung analisa yang dilakukan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

     

     
    1. Kadar air
      Uji kadar air ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak kandungan air dari kulit tersebut, sehingga kita dapat mengetahui apakah kulit tersamak tersebut kering atau tidak, sebab apabila kandungan airnya berlebihan atau lembab, maka akan mempengaruhi kualitas kulit, sebab kulit tersebut akan menjadi mudah rusak oleh mikroorganisme
    2. Kadar abu
      Analisa kadar abu dilakukan untuk mengetahui kadar zat anorganik yang terkandung dalam kulit samak tersebut. Biasanya zat yang terkandung berupa garam inggris, serta berasal dari bahan-bahan pemberat pada bagian daging yang berupa tanah liat dan lain-lain.
    3. Kadar minyak
      Analisa kadar minyak dilakukan untuk mengetahui kandungan minyak yang ada pada kulit samak. Biasanya minyak yang terkandung dalam kulit tersamak tersebut merupakan minyak yang berasal dari fatliquor. Terlalu banyak kandungan minyaknya menandakan kulit terlalu lemas, dan dapat mudah bercendawan dan mengadakan noda pada nerf, sedangkan apabila terlalu rendah menandakan kulit cepat mengering dan mudah retak dan pecah kalu terkena panas.
    4. Ph kulit tersamak
      Analisa ph kulit tersamak penting dilakukan sebab dalam analisa ini digunakan untuk mengetahui besarnya pH kulit samak tersebut. Jika pH terlalu tinggi biasanya menandakan bahwa dalam proses penyamakan, terutama pada proses netralisasi tiak sempurna.
      Sedangkan jika terlalu rendah menandakan bahwa dalam kulit tersebut terkandung asam-asam bebas organik/ anorganik yang dapat meresap pada kulit pada waktu penyimpanan.
    5. Kadar zat terlarut
      Kadar zat larut perlu dianalisa, sebab untuk menentukan banyaknya tannin yang tidak terikat, atau diisi terlalu banyak dengan benda-benda yang muah terlarut dalam air pada kulit tersamak tersebut. Sedangkan terlalu rendah menandakan bahwa bahan sol tidak diisi dengan bahan ekstrak penyamak.

       

       
    6. Kadar abu tak larut
      Kadar abu tak larut perlu dianalisa sebagai dasar penentuan derajat penyamakan, dalam kadar abu tak larut terkandung unsur-unsur anorganik yang ak bisa larut dalam air.
    7. Derajat penyamakan
      Derajat penyamakan perlu dianalisa, sebab untuk menetukana seberapa masaknya kulit tersebut. Jika derajat penyamak terlalu tinggi menandakan bahwa bahan penyamaknya terlalu tinggi dan menyebabkan kulit masak sempurna, serta baik fiksasinya. Sedangkan terlalu rendah menandakan bahwa kulit belum masak.

      BAB II
      UJI ORGANOLEPTIS

       
      2.1. Alat dan Bahan
      Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
    8. Alat
    9. Gunting
    10. Mistar

       
    11. Bahan
    12. Kulit sol sapi samak nabati


    2.2 Langkah kerja
    Adapun prosedur yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
  2. Kulit diamati menurut jenis kulit, kemudian dilakukan pengujian organoleptis secara visual. Meliputi uji kelepasan nerf, keadaan kulit, cat, ketahanan sobek, serta kelentingn.
  3. Kemudian menentukan luas kulit
  4. Menentukan tempat dan ukuran luas kulit pada krupon, leher, dan perut pada lembaran kulit dengan menggunakan penggaris
  5. Contoh kulit dipotong dengan menggunakan pisau satinlen steel, kemudian dipotong menjadi ukuran kecil-kecil
  6. Potongan kulit dicampur sehingga homogen
  7. Ditimabang dengan menggunakan wadah yang bersih
  8. Disimpan dalam tempat dan suhu kamar.


2.1.3 Pengamatan
  • Nerf kulit : cacat, warna kulit tidak rata, permukaan kulit tidak teratur
  • Flash kulit : masih banyak sisa daging, Keadaan kulit kaku
  1. Pembahasan
Dari hasil analisa yang kami laakukan menggunakan panca indera (organoleptis), terlihat bahwa nerf kulit sapi tersebut warnannya tidak rata, serta permukaannya juga tidak teratur. Kulit ini banyak memiliki cacat pada beberapa bagian secara acak. Apabila diklasifikasikan menurut pembagian jenis kulit yang dilakukan oleh Djoyowidagdo, (1980) kulit ini merupakan jenis kulit kualitas 4 atau reject, yang dalam hal ini memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Kualitas 4    
  1. Kulitnya kosong, strukturnya jelek, kulit lemas, warna layu.
  2. Cacat cukup banyak
Sedangkan apabila dibandingkan dengan (SNI-0642-1989) yang merupakan standar mutu produk kulit sol dari kulit sapi samak nabati, kulit ini merupakan jenis kulit kelas C, alasannya karena kulit ini memiliki cacat ± 25%, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa cacat yang ada pada kulit ini menyebar secara acak, terutama pada bagian nerf dekat leher. Pemotongannya pun tidak rata, sehingga pada saat mendiferensiasikan bagian-bagian pada kulit tersebut kami mengalami kesulitan karena sulitnya dibedakan bagian-bagaiannya, seperti leher, punggung, maupun ekor.
Adapun cacat yang ada pada kulit ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor:
  1. Jenis kulitnya memang sudah rusak dari kulit mentahnya, bisa disebabkan karena proses pengulitan yang tidak benar, maupun cacat pada hsapi tersebut ketika masih hidup.
  2. Karena proses mekanis pada proses penyamakan kulitnya.
  3. Karena formulasi ataupun prosedur penyamakan yang tidak benar.

BAB III
UJI KADAR AIR

 
3.1 Alat dan bahan
Alat
  • Gelas arloji
  • Cawan porselin
  • Crush porselin
  • Crush penjepit

 
Bahan
Sampel kulit nabati 5 gr

 
3.2 Prosedur Kerja
  1. Cawan porselin dibersihkan, kemudian cawan dimasukan kedalam oven untuk dikringkan selama 30 menit dengan suhu 105 0c, kemudian didinginkan dalam eksikator selam 10 menit.
  2. Sampel disiapkan dengan cara sampel ditimbang sebanyak 5 gram
  3. Sampel dimasukan kedalam cawan porselin, kemudian ditimbang
  4. Cawan porselin yang berisi sampel dimasukan kedalam oven dengan suhu 102 0 c selama 2 jam
  5. Cawan didinginkan dalam eksikator selama 10 menit, kemudian cawan yang berisi sampel ditimbang
  6. Dilakukan pemanasan berulang hingga diperoleh berat tetap

 
3.3 Hasil dan Perhitungan
Diketahui :
    Berat cawan kering    = 35,9979 gr
    Berat sampel        = 5,0034 gr
    Berat cawan + kulit    = 40, 9813 gr
    Berat kulit akhir     = 40 , 2756 gr

 

 
Ditanyakan : kadar air ...?
    % air = berat kulit awal – berat kulit akhir x 100
berat kulit awal    
= 40,9813 gr – 40,2756 x 100
5,002 gr
         = 14, 10835 %

Jadi kadar air dari sampel kulit sol tersebut adalah sebesar 14,108%


 
3.4 Pembahasan
Cara pengujian yang kami lakukan dalam analisa kadar air ini adalah dengan mengambil sampel kulit tersebut, kemudian memanaskan dalam oven dengan suhu sekitar 102°C selama 2 jam. Adapun kekurangan dari cara pengujian ini antara lain bahan-bahan organik atau gas yang mudah menguap akan ikut menguap sehingga mengurangi ketelitian. Sedangkan ketelitian dipengaruhi oleh ruang pengering., penggerakan udara di dalam pengering, tebal lapisan dan ukuran contoh konstruksi alat dan jumlah bahan seta posisinya dalam alat pengering.
Dari hasil perhitungan yang kami lakukan, kami mendapatkan kadar air dalam sampel kulit sol tersebut adalah sebesar 14,1%. Apabila dibandingkan dengan SNI 06-0235-1989. Kadar air dalam kulit tersebut belum melebihi ambang batas. Dan termasuk baik. Kadar air dalam kulit memepengaruhi kelembaban kulit samak tersebut. Semakin lembab atau banyak kadar airnya, maka kulit tersebut semakin mudah terserang oleh bakteri maupun jamur yang merusak kulit tersebut.