Entri Populer

Selasa, 22 Februari 2011

pengertian garam

Garam natrium sulfide yang dihasilkan biasanya tidak murni sebagai Na2S, tetapitercampur dengan Na2S2O3 dan Na2SO3 yang juga merupakan reduktor. Natrium sulfideadalah senyawa yang biasanya digunakan dalam penyamakan kulit pada proses limingsebagai perontok bulu. Hal ini dapat terjadi, karena senyawa sulfide dapat memutuskanjembatan sulfide dari bulu/ keratin yang akhirnya lepas dari kulit.

Natrium sulfide dapat dibuat dengan konvensional yaitu dengan mereaksikan garamNa2SO4 dan serbuk arang yang dipanaskan pada suhu 9000C - 10000C. dalam perdagangankadang-kadang Na2S bercampur dengan natrium hidrosulfit, sehingga perlu pengujianuntuk mengetahui kadar Na2S murni maupun reduktor lain selain Na2S. kadar natriumsulfide yang baik apabila mempunyai kadar Na2S sebanyak 70%. Prinsip pengujian kadarNa2S ditambah dengan larutan iodide 0,1 N berlebihan kemudian kelebihan iod dititrasikembali menggunakan larutan standar natrium thiosulfat.

Cara uji jumlah reduktor dilakukan dengan cara sebagai berikut; larutan Na2Sditambah larutan yod 0,1 N yang berlebihan. Kemudian kelebihan iod dititar kembalidengan larutan natrium thiosulfat 0,1N. sedangkan cara uji reduktor selain Na2S, larutansulfide ditambah seng karbonat supaya sulfidanya mengendap, disaring dan ditambahkanyod o,1 N berlebihan, kelebihan yod kembali dititrasi dengan larutan thiosulfat 0,1N.dibuat juga titrasi blanko, selisih dari jumlah reduktor dan reduktor selain Na2s adalahkadar Na2S, kualitas Na2S dikatakan baik apabila mempunyai kadar Na2S 70% keatas. Na2Sdikatakan mempunyai kualitas cukup apabila mempunyai kadar Na2S antara 50%-69%.Sedangkan Na2S dengan Kualitas kurang baik apabila mempunyai kadar kurang dari 50%.
Fungsi Natrium Sulfida dalam Proses Penyamakan Kulit

Menurut Mann (1960), bahwa tujuan proses pengapuran adalah untukmenghancurkanepidermis di mana rambut dan wol juga dihilangkan, menghilangkankelenjar keringat dan pembuluh darah yang terdapat pada substansi kulit, serta membukatenunan serat sehingga memudahkan penetrasi bahan penyamak dan untuk membengkakankulit.

Thorstensen (1976), mengatakan bahwa proses pengapuran yang biasa dikerjakandalam larutan dengan menggunakan pH antara 12,0 – 13,0. Kebengkakan mula-mulaterjadi padagr ain danflesh, sedangkan padacor ium tergantung lama perendaman dalamkapur. Kebengkakan pada proses pengapuran akan mengakibatkan diameter serat menjadilebih besar, sedangkan panjang serat tetap.


Bienkiewiez (1983), mengatakan bahwa pada prinsipnya proses pengapuran terjadikarena aksi gugus hidroksi (OH-). Reaksi antara metil hidroksida dan gugus fungsionalpada protein kulit dapat digambarkan sebagai berikut :
Proses penghilangan bulu dapat terjadi karena aksi gugus hidroksil yang memutus

ikatan antar sistein (- S – S -) yang terdapat pada protein keratin.
Reaksi :
CH-CH2-S-S-CH2-CH

CH- CH2-SOH + S- CH2-OH
OH-
Salah satu hasil dari reaksi tersebut terbentuk H2S yang juga dapat memutuskan
ikatan antar sistein (S – S).

Derajat kebengkakan pada kolagen dalam media asam maupun basa sama baiknya,tergantung pada nilai pH. Maksud ketergantungan tersebut terletak pada derajat disosiasi /penyebaran muatan komponen yang digunakan. Pengaruh pH pada protein kulitkemungkinan dapat mengakibatkan keadaan kulit tidak bengkak, kebengkakan seimbang(normal) dan kebengkakan tidak seimbang.
Sharphouse (1975), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil dalam
proses pengapuran antara lain :

Kadar larutan atau prosentase jumlah kemikalia di antaranya penggunaan Na2S atau sulfidalainnya, walaupun pembuangan bulunya cepat tapi pengaruh terhadap kulit kurang baikkarena Na2S dalam air akan membentuk NaOH dan NaSH dengan Ca(OH)2 akan terbentukNaOH dan Ca(OH)2 basa kuat yang terbentuk akan menambah alkalitas larutan danlangsung menambah kebengkakan kulit sehingga kulit jadinyaloos e.

Pelepasan atau pembuangan bulu berhubungan dengan penguraian keratin. Keratinadalah substansi yang sangat kuat terhadap zat kimia, karena rantai peptidanya sangat kuat.Ikatan kimia jaringan peptida tersebut adalah jembatan disulfida. Jembatan hidrogen dalamcollagen jauh lebih lemah dibandingkan dengan jembatan ikatan disulfida. Dalam collagenjuga terdapat ikatan cystin yang merupakan zat asam amino. Jika asam amino berdirisendiri berarti ikatanya sangat kuat. Menghancurkan keratin secara kimia dapat terjadidengan persyaratan sulfida atau sulfhidrat sangat mudah terikat pada keratin. Pengikatantersebut hanya terjadi pada kebasaan yang tinggi. Berarti ikatan sulfida pada keratin padawilayah asam atau netral tidak mungkin. Kolagen sama sekali tidak dipengaruhi olehsulfid, tetapi terdapat suatu kesamaan pada keratin dan collagen, kedua-duanya dapatmengikat alkali.


Proses pemecahan cystin secara kimiawi belum diketahui secara pasti.
Digambarkan kira-kira terjadi seperti cystin ditambah Natrium Sulfida sebagai berikut:
NH2
NH2
CH2
S
S
CH2
CH
Cystein
COOH
COOH
[-------- S-------- S-------- ] + 2 Na2S------------------------------->
Cystein
reaksi reduksi
[-------- S-------- Na + Na------- S-------- ] + Na2S2
Cystein
Reaksi oksidasi
Pada satu sisi terjadi reduksi disisi lain terjadi oksidasi.

Na2S mereduksi jembatan sulfid hingga menjadi ikatan sulfid poly (poly sulfid),yang berarti merupakan peningkatan oksidasi. Bisa juga terjadi Na2S8 dimana ikatan baruyang terjadi disebut Cystein. Proses kimia ini merupakan proses yang mungkin terjadi, tapiapakah persis seperti itu belum diketahui. Pada pengamatan dengan kenaikan jembatancystein ini karena keratin membengkak. Secara sistematis juga terjadi pemecahanHydrolisis karena pembengkakan keratin. Dimaksudkan dengan pemecahan hydrolisistersebut adalah pemecahan rantai sulfida pada keratin. Maka dapat dibayangkan selaluterdapat penghancuran bulu dan rambut jika digunakan bahan kimia yang reduktif.Bagaimanapun juga walaupun dilakukan proses untuk tidak menghancurkan rambut, jikadipakai bahan penghancur epidermis, berarti akan berpengaruh menghancurkan. Prosespenghancuran rambut dapat dikendalikan dengan pengaturan suhu, waktu dan pH, jumlahzat yang digunakan, perbandingan air dan kulit, serta pembebanan mekanis dalam drum,bobot bulu dan kulit, sehingga kemungkinanya sangat luas, apakah ingin diperhatikanbulunya atau dihancurkan.

Kapur Ca(OH)2 diperlukan untuk menaikkan nilai pH 12,6 – 13,00 sedangkan Na2Suntuk membengkakkan kulit. Dengan penambahan Na2S, maka terjadi penghancurankeratin. Suhunya sebaiknya antara 25o C – 30o C.
Selain proses reduktif ada proses oksidatif dengan Na2O2 (Natirum peroksida) atau
dengan anhidrid peroksida (H2O2) + 2 CH3COO, yang bukan merupakan asam. suatu ubstansi yang sangat oksidatif adalah NaOCl2 (Chlorid). Ini cukup berbahaya karena harusdalam larutan alkali disamping biayanya sangat tinggi. Hydrogen peroksida memiliki batasledakan sangat rendah, berarti jika ditambah air atau H2O2 lagi bisa terjadi ledakan. Tetapimemberikan keuntungan peltnya sangat lembut dan putih bersih. Karena sifatnya sangatkeras, pigmen dalam rambut akan menjadi putih. Jika hanya ditambah kapur saja dapatterjadi imunisasi.

menyulap kulit jadi duit

Mau duit? Ayo kita mulai usaha penyamakan kulit hewan, sebenarnya mau buka usaha apa saja tergantung kita sendiri. Apalagi bila sudah mengenal usaha tersebut tentu saja lebih mempunya kesiapan menghadapi berbagai kendala. Terutama  lihat prospek jangka panjangnya. Terus sudah punya pasar belum? Sebaiknya sebelum start coba petakan dengan jelas kekuatan permintaan dan jalur distribusinya.
Bisnis kulit memang menguntungkan karena pasar masih terbuka lebar. Namun untuk memulainya, pengusaha membutuhkan modal besar. Dengan modal Rp 200 juta, pengusaha hanya dapat memiliki 4 molen dan dikategorikan sebagai pengusaha kecil. Namun, bisnis penyamakan kulit tidak harus memiliki mesin yang banyak. Pengusaha yang tidak memiliki modal peralatan yang cukup, dapat menggunakan mesin milik pengusaha besar asal memberikan bayaran yang sesuai.
Selain mesin, pengusaha pun harus membeli bahan-bahan kimia untuk proses penyamakan kulit. Bahan-bahan kimia tersebut harganya sangat mahal karena sebagian besar masih impor dari Eropa. Hanya kapur dan garam yang tidak perlu impor, sedangkan sisanya yang mencapai 60% dari kebutuhan harus mengimpor. Namun, keuntungan yang diperoleh pun dapat selangit bila pengusaha mampu membaca peta pasar. Pangsa pasar masih sangat luas. Jangankan untukpasar internasional, pasar lokal dan nasional pun masih memiliki banyak celah. Namun, bagi pengusaha kecil masih sulit untuk mencari celahnya. Keterbatasan dana pun masih menjadi masalah. Ketika ada pesanan yang cukup besar, mereka terpaksa menolaknya karena modal tidak mencukupi. Bagi pengusaha kecil, hingga saat ini masih sangat berat untuk tetap bertahan. Selain terbatasnya kualitas dan kuantitas hasil produksi, mereka pun minim akses terhadap pasar yang lebih luas. Barang hasil produksi mereka
hanya untuk memenuhi pasar lokal.
Namun berbeda bagi pengusaha besar, gairah kebangkitan mulai terasa. Mereka mampu menjual hasil produksinya ke hampir seluruh tempat di Indonesia, bahkan sudah diekspor melalui perusahaan pengekspor ke beberapa negara seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan Cina. Proses dalam industri penyamakan kulit bertujuan untuk merubah kulit hewan menjadi lembaran-lembaran kulit jadi yang siap untuk dipergunakan menjadi bahan baku produk kulit seperti : sepatu, tas, kerajinan, dll.
Terdapat 2 jenis kulit yaitu kulit berkelas yang bebas dari pewarna dan tidak mengandung metal lebih besar dari 62,5 ppm, sedangkan kulit samak adalah kulit setengah jadi sebagai bahan baku untuk industri sepatu atau garmen.  Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses yang saling berurutan. Pada saat kulit mentah (rohet) memasuki proses awal, akan diseleksi untuk menghasilkan (menyisihkan) kulit berkelas. Tahapan proses dilakukan dalam drum yang berkapasitas memproses 400 – 600 lembar kulit sekaligus. Penyamakan dilakukan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivitas mikroorganisma, proses kimia maupun fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap faktor-faktor perusak tersebut. Yaitu dengan memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan kulit yang berupa jaringan kolagen sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak.  Zat penyamak bisa berupa penyamak nabati, sintetis, mineral, dan penyamak minyak.
Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, dan garis besarnya dibagi 3 proses utama yaitu proses awal (beam house atau proses rumah basah), proses penyamakan, dan finishing. Proses awal terdiri atas perendaman (untuk mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, kulit basah lebih mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit), pengapuran (membengkakan kulit untuk melepas sisa daging, menyabunkan lemak pada kulit, pembuangan sisik, pembuangan daging, pembuangan kapur (deliming) (untuk menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari pengerutan kulit, menghindari timbulnya endapan kapur), pengikisan protein, pengasaman (pickle) (untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap seranga bakteri pembusuk). Pada kulit sapi, dilakukan proses pembuangan bulu menggunakan senyawa Na2S.
Sesuai dengan jenis kulit, tahapan proses penyamakan bisa berbeda. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit berasal dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dll), dan skin (untuk kulit domba, kambing, reptil dll). Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tetapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. Penyamak krom menghasilkan kulit yang lebih lemas, lebih tahan terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit.
Proses penyelesaian (finishing) menentukan kualitas hasil akhir (leather). Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit, bahan penyamak yang digunakan, dan kualitas akhir yang diinginkan. Proses finishing akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti kelenturan, kepadatan, dan warna kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal. proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan air dalam kulit akan terdorong keluar (striking out). Beberapa proses lanjutan lainnya adalah pengeringan (mengurangi kadar air kulit sampai batas standar biasanya 18 – 20 %), pelembaban (menaikkan kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakuan fisik di proses selanjutnya), pelemasan (melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali), pementangan (untuk menambah luasnya kulit), pengampelasan (untuk menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa dicat untuk memperindah tampilan kulit.
Alat dan mesin yang digunakan dalam melakukan proses penyamakan adalah sebagai berikut :
  • Timbangan, berfungsi untuk mengetahui berat kulit dan bahan-bahan kimi yang akan digunakan.
  • Pisau seset atau pisau fleshing, digunakan untuk membuang daging yang masih melekat pada kulit saat proses buang daging.
  • Papan kuda-kuda, digunakan untuk meniriskan atau menggantung kulit setelah proses penyamakan
  • Papan pentang, digunakan untuk mementang kulit agar kulit lebih lemas dan memperoleh luas yang maksimal.
  • Mesin ampelas, digunakan untuk meratakan bagian dalam kulit sehingga diperoleh kulit yang lebih tipis dan lemas.
  • Meja dan papan staking, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang dikerjakan secara manual.
  • Drum milling, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang telah disamak.
  • Drum putar (Tannning Drum), digunakan pada proses perendaman, pencucian, serta proses-proses lain yang menggunakan air dan bahan-bahan kimia.
  • Alat-alat lain yang digunakan adalah spraying, ember, corong plastik, selang air, gunting, pisau dan kertas pH.
diolah dari berbagai sumber.
Sumber gambar : http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1202889533

Sabtu, 19 Februari 2011

PENGOLAHAN HASIL TERNAK



A.   SUSU
  1. Kandungan Gizi  air susu Sapi
No.
Gizi
Kandungan (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Air
Lemak
Protein
Lactose
Abu
Calori
87,25 %
3,80 %
3,50 %
4,80 %
0,65 %
640 Cal/kg

  1. Susunan air susu :
Air :          
1.    Larutan/Cairan
-    Air dan lactose
-    Vitamin yang larut dalam air
-    Beberapa mineral
2.    Emulsi : antara lemak dan air
3.    Colloid  : antara putih telur/protein dan mineral

Lemak : rata-rata 3,8 %

Protein :
-    Casein
-    Albumin
-    Globulin

Karbohidrat : lactose 4,8 % yang terdiri dari :
-    Glucose
-    Galaktose

Vitamin : yang larut dalam lemak Vit A, D, E, K
                yang larut dalam air Vit C, B komplek, riboflavin   

  1. Sifat-sifat air susu :
a.    Warna      :
-          Putih kekuning-kuningan.
-          kehijau-hijauan, banyak mengandung
Vit. B komplek.
-          kebiru-biruan, tercampur air.
-          kuning, banyak mengandung butir-butir darah merah/Hb.
b.  Rasa Sedikit manis karena mengandung lactose.
c.    Bau specific susu serta mudah dipengaruhi bau-bauan disekitarnya serta makanan yang diberikan.
d.    Temperatur         : Pada waktu pemerahan 37-38 c
e.    Berat Jenis Ditentukan pada 3-4 jam setelah pemerahan B.J antara 1.028-1.082.
f.     Titik Beku            : -0,50-0,52 c
g.    Titik didih : 101 c (standar milk codex, 100,17 c
h.    Ph : Normal 6,4             

  1. Pengawetan Air Susu
Mendinginkan air susu
1.    Dengan Kotak Pendingin.
Bahan dari kayu, bagian dalam dilapisi seng/alumunium. Botol susu diletakan didalam timbunan es batu dalam kotak tersebut.
Untuk lebih dingin ditambah garam dari serbuk gergaji.
Diaduk agar pendinginan merata.
2.    Dengan aliran air.
Cara ini dilaksanakan di daerah pegunungan.
Bak penampung dari tembok/semen.
Temperature sekitar 10-15 c
3.    Surface Cooler.
Dibuat dari pipa yang berkelok-kelok yang dialiri air dingin.
Air susu dialirkan pada pipa air dingin.
4.    Refrigerator.
5.    Freezer.
6.    Cooling Unit.

Pemasangan Air Susu
Cara pemanasan :
a.    Menggunakan panic berdinding 2 lapis atau panic berisi air susu dimasukan dalam panic lain yang berisi air mendidih.
b.    Dasar panic/bidang dalam panci disemir dengan mentega.
c.    Pemanasan harus berhati-hati.
d.    Sebaiknya panic diletakan diatas plat asbes.
e.    Pemasakan air susu hendaknya mencapai titik didih (100.17 c) 

Pasteurisasi Air Susu
a.    Pasteurisasi lama : temperature 62-65 selama 0,5-1 jam. Temperature 72 selama 20 menit.
b.    Pasteurisasi sekejap : Temperatur 85-95 c selama 1-2 menit
Keuntungan Pasteurisasi :
a.    Air susu dapat disimpan lebih lama pada suhu yang rendah (10 c).
b.    Air susu tidak lagi mengandung kuman pathogen.
c.    Baud an nilai gizi sedikit dan menurun (pada Pasteurisasi sekejap).

Sterilisasi Air Susu
Sterilisasi dilakukan di dalam sterilisator dengan menggunakan tekanan dari uap air panas.
Cara :
d.    pemanasan pendahuluan pada temperature 35 c selama ½ -1 jam.
e.    Pasteurisasi sekejap pada temperature 90 c selama 1 menit.
f.     Air susu homogen (diratakan) pada temperature tinggi (susu Pasteurisasi 90 c).
g.    Air susu didinginkan sampai temperature mencapai 40 c.
h.    Air susu dimasukan ke dalam botol-botol/kaleng yang sudah steril, ditutup secara sempurna.

Temperature dan lamanya Sterilisasi
TEMPERATUR
LAMANYA PEMANASAN
120 c
127 c
126 c
120 c
11 c-117 c
109 c-113 c
100 c
1 menit
2 menit
3 menit
10 menit
25 menit
45 menit
5 ½ - 6 jam

  1. Pengolahan air susu
Pembuatan mentega
Cara pembuatannya :
1.    Pemisahan Cream
2.    Netralisasi cream dipakai basa NaOH
3.    Pasteurisasi lambat (60 c, 60 menit), juga dilakukan pasteurisasi cepat 74 c, 5 menit.
4.    Pemberian starter
5.    Pendinginan
6.    Penambahan starter
7.    Pewarnaan
8.    Pemukulan, untuk mendapatkan butir-butir lemak
9.    Bahan mentega dicuci air dingin, agar ampas mentega yang putih terus terbang
10. Pemberian garam sebanyak 1 ½ -3 % sambil terus diaduk
11. Pengulian/pengocokan dengan maksud :
i.      agar bahan menjadi homogen
j.      supaya lebih banyak butir-butir lemak yang pecah
k.    supaya butir-butir air mebjadi lebih kecil dan rata terbagi-bagi dalam mentega.
Macam-macam kerusakan mentega
·         Kerusakan oleh kuman :    -  rasa berubah
                -  warna berubah
·          Kerusakan oleh enzyme : tengik
·          Kerusakan oleh bahan-bahan kimia, missal logam.
Pembuatan Keju
1.    Keju yang terkenal berasal dari :
·         Belanda
·         Belgia
·         Australia
·         Amerika
2.    Macam-macam keju berdasarkan texturnya :
Soft Cheese :
-     Tidak difermentasi sampai matang, disebut : cottage cheese/cream cheese/myosost cheese.
-     Yang difermentasi sampai matang :
      a. Oleh jamur/ragi             : Camembert cheese
      b. Oleh bakteri                   : Limburger cheese
Semi solid cheese
a.   difermentasi oleh fungsi (jamur) disebut : Requefirt cheese/stilton cheese.
b.   difermentasi oleh bakteri disebut Brick cheese
      Hard Cheese
a.    Yang mempunyai gelembung gas (open texture) disebut Ementaler cheese-Swiss cheese.
b.    Yang tidak mempunyai gelembung udara (close texture) disebut Gauda cheese/Edam cheese/Romano cheese.

Veri hard cheese - Grating cheese/Romano cheese

3.    Klasifikasi berdasarkan Pembuatannya
Sour milk cheese
keju yang dibuat secara alam, susu diberikan mengendap dibantu bacteri laktat
Sweat milk cheese
susu yang diendapkan dengan rennet (enzyme rennin dari usus halus anak sapi)

4.    Klasifikasi berdasarkan daerahnya
1.    Stilton cheese                                  : Inggris
2.    Petit Swisse cheese                                    : Perancis
3.    Appen Zeller                                     : Swiss
4.    Leiden Cheese                                : Belanda
5.     Romadur Cheese                           : Jerman
6.    Danabler cheese/Mysella cheese            : Denmark
7.    Hal-hal yang penting dalam pembuatan keju :
- Bahan          : susu penuh atau skim milk
- Kadar           : air mempengaruhi sifat fisik
hard cheese           : 35 % , soft cheese : 50-80 %
                         
5.    Pematangan dipengaruhi oleh bakteri, enzyme, suhu dan kelembaban ruangan, mempunyai pengaruh terhadap aroma, rasa serta struktur phisik.
6.    Tiap keju menggunakan bakteri yang berlainan missal :
·         Cheddar cheese            : streptococcus lactis lactobacillus
·         Swiss cheese                 : bacterim shermani

7.    Cara membuat keju :
6.1 Bahan                       : 
-          Air susu penuh atau skim milk
-          Na Cl
-          rennet
-          Starter, digunakan streptococcus lactis atau S
-          cremonis
-          Ca Cl2
-          Zat warna
-          Lilin/paraffin

6.2 Alat-alat                     : 
-          Bak keju
-          Pisau pemotong
-          Alat pengaduk
-          Alat penekan
-          Ruangan kayu dari kayu jati
-           
6.3 Tahap dan pengolahan (cheedar cheese)
1.   Susu dipasteurisasi dahulu pada temperature 62-65oc selama 30 menit atau pada suhu 71,1-71,7oc selama 15-20 detik, lalu didinginkan pada suhu 300c.
2.   Masukan ke dalam bak-bak keju dan diantara bak-bak keju dialirkan air panas 45o selama 15 menit. Untuk mempercepat fermentasi oleh asam laktat diberi starter 0,5-1 %, aduk sampai 10 menit dan dibiarkan sampai derajat asam 0,5 % (biasanya tercapai setelah ½ - 1 jam)
3.   Pemberian zat warna dari tumbuh-tumbuhan sebanyak 0,5 – 3 cm larutan zat warna untuk 100 liter susu
4.   Penambahan rennet sebanyak 4,2 ml/liter susu, 40 menit kemudian terjadi coagulasi protein (casein) dan terbentuk tahu keju (curd) untuk mempercepat pembentukannya ditambahkan CaCl2 sebanyak 0,02 %.
      Agar tahu keju tidak tergumpal-bumpal, sebelum rennet ditambahkan harus dilarutkan dahulu ke dalam air dengan perbandingan 40 x pada temperature 85 – 90oF. pada permulaan penambahan rennet, susu diaduk untuk meratakan lemaknya dan rennet ditambahkan sedikit demi sedikit sambil doiaduk pelan-pelan secara konstan dalam beberapa menit setelah itu susu diaduk perlahan-lahan dekat permukaannya untuk mencegah pemecahan cream pengadukan dihentikan segera setelah ada tanda-tanda coagulasi.
5.   Pemotongan tahu keju dengan pisau untuk mengeluarkan cairannya yang disebut whey.
6.   Pemisahan tahu keju dengan whey, dengan cara:
-     disaring dengan kain blacu, whey akan menetes
-     bak keju diberi kran di bawahnya
7.   Penambahan garam 1 ½ - 3 %, sambil tahu keju ditumbuk-tumbuk sehingga whey yang tersedia dapat keluar.
8.   Bahan keju dicetak sambil ditekan ± 3 – 4
9.   Proses pengeringan selama ± 3 – 4 hari
10. Seluruh permukaan dilapisi lilin/paraffin
11. Proses pematang, dalam ruangan yang gelap/sejuk pada suhu 13 – 14oc dan R.H 90 %, selama 2 minggu sampai 6 bulan tergantung dari keju yang dibuat. Makin lama makin baik.        


Pembuatan Es kriem
1.    Komposisi es kriem
NO
ZAT MAKANAN
KANDUNGAN (%)
1.
2.
3.
4.
Lemak
B.K
Gula
Gelatin
10 – 19 %
30 – 35 %
15 %
0,5 %

2.    Bahan-bahan
2.1 -  Calon susu
      -  Susu Penuh
2.2 Gula : sucrose, dextrose, glucose
2.3 Bahan padat
     -  stabilizer : gelatin, Na-Alginot, teber, agar-agar
     -  zat warna coloric agent
     -  Flavoring agent 

3.    Cara pembuatan
·         3.1 6 telur (± 240 gram) ditambah gula 270 gr dikocok
·         3.2 Tepung maezena 40 gram ditambah cream susu 500 gram ditambah air 50 gram, ditambah susu penuh 350 gram, dikocok, lalu dipanaskan.
·         3.3 Campurkan adonan c1 dan c2, lalu diaduk dan dimasukan ke dalam tabung es kriem. Di dinginkan dalam air di ember, tambahkan flavoring agen aduk, simpan dalam temperature rendah.   

Pembuatan susu kental manis
Sweetened Condensed Milk
1.    Komposisi zat makanan susu kental manis di Indonesia
NO
ZAT YANG TERKANDUNG
PROSENTASE (%)
1.
2.
3.
Lemak
Bahan kering
Gula
9,5
35,5
42,0

2.    Pembuatan (sederhana)
2.1 Alat-alat :
-          panic besar dan kecil
-          alat pemanas (kompor)
-          sendok
-          gelas ukuran, corong, penyaring
-          alat pengukur derajat keasaman (lacto densi meter)
-          botol/kaleng yang tertutup sebagai wadah

2.2 Bahan baku :
-          susu murni
-          susu krim
-          gula pasir
-          air aquadestilata
-          arang (norit untuk menyerap kotoran yang terdapat dalam larutan gula serta untuk pemucat

2.3 Pembuatan :
-          gula dan air dipanaskan, tambahkan arang/norit
-          larutan gula disaring
-          air susu diuapkan/dipanaskan sambil diaduk-aduk, sampai mencapai kekentalan 2 ½ kali susu semula
-          kemudian ke dalam susu kental tadi dimasukan air gula kental sambil diaduk. Lalu dipanaskan lagi sampai volumenya seperti semula (± kekentalan 2 ½ susu murni)
-          susu kental didinginkan dalam air mengalir sambil diaduk-aduk pelan-pelan agar tidak berbusa dan kristal-kristal lactose yang mungkin terjadi kecil-kecil
-          lalu dipak dalam kaleng, botol dll, disimpan pada suhu kamar  

Pembuatan susu asam (Joghurt)
Susu yang diasamkan melalui proses peragian/fermentasi. Bersifat sangat mudah dicerna dalam usus dan dapat dibuat dari susu kambing, kerbau serta air susu sapi.

Pembuatan :
1. Bahan        : susu murni atau susu bawah (skim milk)
2. Proses pembuatan :
o   Pembuatan starter, yakni pupukan murni dari strepto coccus thermophilis dan bacteri lactobacillus bulgaricus dalam susu yang steril.
o   Air susu dipanaskan dulu pada temperature ± 60oC dan ditambahkan 3 5 % susu kering tak berlemak agar agak kental dan diaduk-aduk sampai rata.
o   Pemanas ditingkatkan sampai titik didih selama 15 – 30 menit lalu didinginkan sampai mencapai temperature sekitar 44 – 45oC.
o   Starter ditambahkan (dalam temperature 44 – 45o C) sebanyak 2 -3 % aduk-aduk/kocok dengan baik
o   Tempatkan pada temperature 44 – 45o C dalam waktu 3 – 4 jam (sampai mencapai PH 4,4 – 4,5)
o   Untuk menghentikan perkembangan bacteri-bacteri yoghurt lebih lanjut segera yoghurt tersebut masukan ke dalam alat pendingin. Dalam tahan selama 2 minggu disimpan dalam keadaan dingin/beku.


3. Komposisi yoghurt import :   
NO
ZAT MAKANAN
PRESENTASE KANDUNGAN (%)
1.
2.
3.
4.
Lemak
Laktose
Air
Bahan kering
3,7 %
3,5 %
87,3 %
2,7 %

Pembuatan Karamel (gula-gula susu, permen susu)
1. Bahan                    :
·         air susu                : 5 kg
·         gula pasir                        : 3 kg
·         essence               : vanilie
·         (Penambahan rasa)      :
·         coklat
·         air jeruk
·         kopi, dsb

2. Alat-alat     :
·         panci
·         kompor
·         papan tipis dengan batas dipinggirnya
·         botol penggiling

3. Pembuatan  : -   Air susu dan gula dipanaskan pada api yang tidak
                                 terlalu besar lalu ditambahkan salah satu essence yang disukai terus diadu-aduk sampai mengental.
  - Adonan yang sudah mengental dituangkan kedalam papan yang sudah diulur/diolesi minyak/mentega dan permukaannya diratakan dengan botol penggiling.
  -   Adonan setelah dingin dan membeku dipotong-potong menurut ukuran tertentu lalu dibungkus.       

Pembuatan Tahu keju
1. Bahan                    :
·         Air susu (susu yang sudah rusak)
·         bahan pengawet, asam benzoate 2 %
·         bumbu : garam, merica (tergantung dari kesukaan)

2. Alat-alat :
·         kompor            
·         alat kukusan
·         saringan kawat
·         cetakan-cetakan kaleng

3. Pembuatan  :
    • Air susu dipanaskan sampai terlihat rumnya. Bagian atas dibuang dan endapannya diambil.
    • Endapan disaring dengan saringan kawat sambil ditekan-tekan agar air tersaring semua. Airnya ditampung dan diaduk-aduk sampai rata.
    • Tambahkan garam harus, merica (bumbu-bumbu) dan tambahkan pula pengawet asam benzoate 2 % sambil diaduk-aduk agar temperature rata.
    • Adonan dimasukan ke dalam cetakan kaleng lalu dikukus selama ± 2 jam sambil dibolak-balik agar air yang ada di atasnya terbuang.
    • Tahu keju selanjutnya dapat dipotong-potong untuk dimasak/digoreng dengan mentega sehingga dapat dipakai sebagai lauk atau melapisi roti.     

B.   DAGING
1.    Kandungan Zat gizi dalam 100 gram berbagai macam daging
ZAT GIZI
KELINCI
SAPI
AYAM
KERBAU
  1. Kalori (cal)
  2. Protein (gram)
  3. Lemak (gram)
  4. Kapur (mg)
  5. Zat besi (mg)
111
16 – 20
2,5 – 6,2
10
2
125
18 – 20
5 – 18,9
7
2,1
12
20
5
10
2
125
20
5
7
2

2.    Pengolahan Daging
Mutu daging dipengaruhi oleh :
·         cara-cara pemeliharaan ternak
·         perlakuan menjelang hewan dipotong (lelah, lapar, dll)
·         cara-cara pemotongan hewan itu

3.    Pemotongan Hewan
a.    Syarat-syarat Pemotongan Hewan yang baik :
·         Darah harus sebanyak mungkin keluar
·         Pisau yang dipakai harus tajam
·         Sesudah dipotong, karkas ternak harus segera digantung, jeroan dikeluarkan dan dikuliti
·         Setelah dikuliti dan dibelah dua disimpan dikamar sejuk agar menjadi layu
·         Alat-alat harus selalu dalam keadaan bersih
·         Hewan dalam keadaan tenang tidak lelah, lapar, dll   
b.    Proses yang terjadi sesudah hewan dipotong :
·         Metabolisme zat makanan
·         Kontraksi otot (riqormortis)
·         Aktivitas enzyme menyebabkan terjadinya proses pematangan daging
·         Pembusukan

4.    Perngawetan Daging
a.    Pendinginan
Penyimpanan daging pada suhu sekitar 0oC dapat berupa :
·         karkas
·         potong-potongan daging
·         daging cincang

b.    Peng-es-an Daging
·         Daging dialiri udara dingin 40oC ± ½ hari
·         Masukan ke dalam ruangan dengan temperature 5oC pada temperature ini karkas dapat disimpan selama 3 – 4 bulan. Sedang pada 200C dapat tahan lebih dari 1 tahun
·         Daging harus dijaga jangan berdempetan satu sama lain
·         Yang baik, sebelum dieskan daging dibasahi dahulu/dibungkus dengan kain basah sehingga daging terbungkus oleh selapis es.  

c.    Pengeringan
·         Dengan mesin pengering
·         Dengan sinar matahari
Syarat-syarat daging yang akan dikeringkan :
1.    Irisan daging cukup tipis
2.    Memakai bumbu pengawet
    • Gula untuk menghambat pertumbuhan mikrorganisme 3 – 4 %
    • Garam sebanyak 12 %
3.    Lemak 30 % untuk menghindarkan ketengikan

d.    Pemakaian bahan-bahan kimia
Bahan kimia yang sering dipakai :
    • Garam
    • Asam
    • Gula
    • Sendawa (nitrat/nitrit)

e.    Pengasapan
Daya awet yang diperoleh ialah karena panas serta bahan-bahan kimia yang terkandung dalam asap kayu.
Bahan pengasapan :
    • Serbuk gergaji
    • Sekam yang agak basah
    • Kayu jati
    • Sabut kelapa
Bahan daging :
    • Daging biasa
    • Daging asin (daging curing)
    • Sosis

5.    Hasil-Hasil pengolahan daging
a.    Membuat Dendeng
Bahan                        : 1 kg daging sapi
                          1 sendok the sendawa
                          2 sendok makan air asam
                          1 sendok makan parutan lengkuas
                          5 sendok teh ketumbar
cara :
    • Daging diiris tipis-tipisb lebar
    • Semua bumbu diaduk jadi satu, lalu dicampur dengan potongan daging dan diremas sehingga bumbu meresap
    • Daging disimpan satu persatu diatas tampan, kemudian jemur sampai kering

b.    Membuat Abon
Bahan            : Daging 1 kg
              ½ butir kelapa/santan kental
              5 butir bawang putih
              1 sendok the terasi
              1  potong lengkuas
              1 ruas jari kencur
              minyak kelapa, gula dan garam
cara :
    • Rebus daging sampai empuk, pukul-pukul dengan ulekan kemudian suwir-suwir
    • Bumbu daging giling halus, campurkan dengan suwiran daging godok santan sampai kering/meresap
    • Tumbuk daging tersebut pada lumping sampai halus goring dengan minyak panas, aduk cepat-cepat sampai kering bila sudah matang diangkat kemudian ditiriskan 

c.    Membuat Corned Beef
Bahan                        : 1 kg daging sapi cincang
                          2 sendok the sendawa
                          5 butir lada halus
                          ¼ butir pala halus
                          4 sendok mentega dan garam secukupnya
cara :
    • Remas-remas daging, garam dan sendawa sampai lama kemudian biarkan semalam
    • Cuci daging tersebut sampai bersih dan godok dengan air secukupnya, masukan bumbu yang telah ditumbuk. Godok dengan api besar sesudah mendidih kecilkan, godok terus sampai daging empuk
    • Bila daging sudah empuk letakan dalam piring oleskan mentega diatasnya kukus 1 jam lamanya bila matang angkat

d.    Pembuatan Sosis
Bahan                        : Daging sapi 1 kg
                          Garam ½ %
                          Garam nitrat dan nitrit 0,02 %
  Gula ½ %
  Merica 0,1 %
  Lemak 35 %
  Terigu 2 %
  Es 10 %
            Alat-alat :
    • Penggiling daging
    • Pengisi sosis
    • Thermometer
    • Alat pengisap
Cara :
    • Daging dibersihkan dari tenunan pengikat, cuci, dipotong kecil digiling bersama bumbu
    • Dicampur dengan es, digiling kembali sambil ditambah lemak dibiarkan pada suhu 16oC
    • Dipindahkan kealat pengisi sosis, ditekan dimasukan ke dalam pembungkus
    • Dicuci dengan es bagian luarnya untuk menghilangkan daging yang melekat diputar sumbu horizontal
    • Diasap pada suhu 55 – 60oC selama 1 jam, lalu pada suhu 74 – 75oC selama 1,5 jam
    • Dimasak dalam air (80oC) selama 10 – 15 menit, lalu didinginkan pada lemari es suhu 2 – 7oC
Pembungkus sosis :
    • Bahan : Lambung, usus halus, usus besar dll
    • Buang bagian yang berkancing, balikan dan cuci
    • Timbang
    • Rendam dalam air garam 20 % biarkan 1 malam, markosa akan terlepas, bersihkan sampai lemak dan tenunan pengikat terlepas 
    • Simpan dalam garam kering (1 minggu)
    • Tiup dan keringkan (jemur)

e.    Membuat daging asin/daging kering
Bahan : Daging
             Garam 10 %
             Nitrat dan nitrit 1,5 gram/liter air
             Gula 100 gr/l
Cara :
    • Garam dilarutkan dengan air (10 %) ditambahkan nitrat, nitrit dan gula
    • Daging rendam dalam larutan pada suhu 5oC selama 7 – 14 hari
    • Sebelum daging direndam, disuntikan larutan pada pembuluh darah baru direndam
    • Setelah itu diiris-iris dikeringkan 





C.   TELUR
1.    Kandungan zat makanan pada telur
No
Zat makanan
Jumlah per 100 gram
Telur puyuh
Telur ayam
Telur itik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Air (gram)
Energi (Calori)
Protein (gram)
Lemak (gram)
Karbohidrat (gram)
Abu (gram)
94,8
149,8
10,3
10,6
3,3
1,0
74,0
163,0
12,4
11,7
0,9
1,0
71,0
189,0
13,0
14,5
0,5
1,0

2.    Pengawetan Telur
a.    Penggaraman
Bahan                        : 1 kg bubuk batu bata
                          0,5 kg garam ditambah air
cara :
    • Bahan dicampur untuk melebur telur, leburan ditempelkan pada telur selama 10 hari
    • Telur direndam dalam larutan garam yang mengandung 0,25 kg garam dalam 1 liter air. Waktunya perendaman ± 10 hari

b.    Ekstrak Kulit Akasia
Bahan           : Kulit akasia kering ditumbuk sebanyak 240 gram direbus selama 1 jam dalam 30 liter air
Cara :
·         Telur dimasukan dalam larutan sampai terendam bila larutan telah dingin.
·         Telur dapat tahan lebih dari 2 tahun


c.    Minyak goring
Bahan                        : 360 butir telur diperlukan ¼ liter minyak goring
Cara :
·         Telur dicelupkan sebentar, kemudian simpan diatas rak telur
·         Telur dapat tahan lebih dari 3 minggu

3.    Pengolahan telur
a.    Pindang Telur
Bahan                        : Telur ayam/itik 100 butir
                          Garam; salam; laos
                          Daun jambu biji
                          Kulit bawang merah
Cara :
·         Campurkan semua bumbu ditambah telur, direbus dengan air 5 liter, bila telur sudah matang kulitnya dipecah-pecah supaya bumbunya meresap.
·         Bila airnya sudah sedikit diangkat
·         Telur dapat tahan sampai 2 minggu 

b.    Telur Asin
Bahan                        : Telur
                          Garam
                          Ampelas
                          Abu gosok
                          Adonan        : tanah liat/sekam : garam
                                                  Abu gosok : garam
Alat :               : kompor dan dandang
Cara :
·         Pengasinan dengan merendam telur dengan larutan air garam
·         Telur dicuci, dibersihkan kemudian diampelas
·         Buat larutan garam jenuh, telur yang sudah dicuci direndam dalam larutan selama 7 – 10 hari
·         Setelah selesai, telur asin disimpan/dimasak untuk dikonsumsikan

4.    Pengasinan dengan membungkus dengan adonan
·         Telur dicuci, diampelas
·         Dibungkus dengan adonan, biarkan selama 10 – 14 hari, telur diangkat lalu disimpan
·         Telur dimasak sampai matang untuk dikonsumsikan

D.   KULIT
1.    Teknik Pengulitan
a.    Metoda pengulitan dengan hamer yang ujungnya tumpul
      Caranya alat ini digerakan antara kulit dari bahan untuk memisahkan kulitnya
b.    Metoda kepalan tangan
      Dilakukan pada pengulitan domba dan kambing
c.    Metoda menggunakan mesin/listrik
      Sesudah selesai pengulitan, kulit dicuci untuk menghindarkan darah yang membeku dikulit

2.    Penanganan kulit sebelum diawetkan
a.    Diesek (membuang kelebihan daging)
      Kulit yang baru dilepas dibersihkan kelebihan kulitnya dengan pisau yang tajam dan melengkung daris mata pisaunya
b.    Pencucian
c.    Dielus
d.    Sudah dicuci kulit disampirkan di atas sampiran kulit biarkan air menetes selama 30 menit
e.    Sebelum diawetkan kulit segar dari pemotongan perlu ditimbang, penting umtuk dikontrol berapa penyusutan berat sesudah dikeringkan untuk control pembasahan kembali

3.    Pengawetan Kulit
a.    Pengawetan secara dikeringkan yang diberi racun (obat pembunuh bakteri)
·         Diesek (membuang kelebihan daging)
·         Kotoran yang melekat pada kulit dibersihkan dan dicuci bila perlu disikat
·         Sesudah dicuci kulit disampirkan diatas sampiran kulit dan biarkan airnya menetes selama ½ jam
·         Kulit diracun dengan larutan natrium arsenat 0,5 % selama 5 – 10 menit di dalam bak peracun, kemudian kulit digantung diatas bak
·         Kulit lalu ditarik dengan tali pada pentangan kulit diameter 5 – 10 cm. pentangan harus kuat dan teratur supaya bentuk kulit keringnya baik symetris dan rata
·         Bila kulit sudah dipentang, siap untuk dijemur penjemuran bagian daging diarahkan kearah datangnya sinar matahari antara jam 8.00 – 11.00 dan jam 15.00 – 17.00 kulit dapat kering dalam waktu 2 -3 hari
·         Sudah kering kulit dilepas dari pentangan dan dapat dilipat dua membujur dari ekor kearah kepala, disimpan 

b.   Pengawetan secara digarami dan dikeringkan
-     Kulit yang akan diawetkan, dibersihkan dari kotoran-kotoran, lalu direndam dalam cairan garam (Nacl) ± 20 kg/100 l air
-     Tiap 100 kg kulit basah dibutuhkan 400 l larutan direndam dalam bak kayu/beton
-     Kulit diangkat dari larutan garam, digantung diatas bak selanjutnya bagian daging dari kulit ditaburi garam ±  10 % didiamkan 1 -2 jam lalu dibentangkan dan dikeringkan 5 – 7 hari
-     Sesudah kering kulit dilipat dan disimpan
Keuntungan :
·         Kwalitas kulit lebih baik karena serat kulit tidak melekat satu sama lain
·         Selama waktu pengeringan kulit tidak lekas busuk
·         Kulit baik untuk dimasak, didalam soakingnya tidak membutuhkan waktu yang lama 
Kerugian :
·         Biaya pengawetan lebih mahal dibandingkan dengan pengawetan kering biasa atau diracun ± 45 % dari berat kulit basah

c.    Pengawetan secara diagram basah
·         Kulit sesudah dibersihkan dari kotoran darah dan daging, lalu dimasukan dalam larutan garam kenyang selama 1 hari 1 malam
·         Kulit direntang di lantai yang miring ditaburi garam, kulit yang paling bawah dan bagian daging ditaburi garam ±  30 % dari berat kulit basah
·         Kemudian ditaruh kulit lain diatasnya ditaburi garam begitu seterusnya sampai mencapai tinggi 1 meter
·         Diamkan semalam besoknya ditaburi lagi garam ±  20 % lalu didiamkan sampai beberapa hari 2 – 4 minggu supaya air bias mengalir keluar
·         Sudah selesai kulit digarami dapat disimpan sebagai kulit garaman. Dapat disimpan digudang kulit yang diangkat, ditumpuk (±  1m)
Keuntungan :
·         Pengawetan tidak tergantung pada panas matahari sedikit terjadi kerusakan-kerusakan kulit pada proses soaking, waktunya singkat cepat dan tidak membutuhkan ruangan yang luas



Kerugian :
·         Untuk daerah tropic pengawetan dengan garam basah disangsikan hasilnya, mengingat tempat ruangan cukup baik untuk pertumbuhan bakteri
·         Biaya pengawetan mahal karena disamping pemakaian garam juga perlu penyimpanan yang suhunya dibuat rendah

d.    Pengawetan secara di pickle
Bahan                        : 15 % garam dapur (Nacl)
                          Cairan pickle 1,2 % asam sulfat (H2SO4) ph ± 2,5
                          100 % air
·         Pengawetan kulit dengan cara ini untuk kulit yang sudah dihilangkan bulu-bulunya (dengan pengapuran) buang kapur dan di blitz (bate) kulit di putar dalam cairan pickle
·         Sudah kulit diputar dalam drum atau diremas dengan cairan pickle selama 2 jam lalu diperas
·         Kulit dapat dilipat memanjang punggungnya dimasukan kedalam tong kayu yang diberi dasar lapisan garam dapur dan kulit disusun tiap lembar
·         Akhirnya bagian yang paling atas ditutup dengan lapisan garam dan tong ditutup rapat
·         Kandungan air dalam kulit yang diawet ± 40 % ph 2 – 2,5

4.    Jenis-jenis Kulit
Berrdasarkan tujuan dari pemakaiannya, jenis-jenis kulit hasil penyamakan dalam perdagangan dibagi atas 5 macam kulit :
a.    Kulit Bawahan
Kulit Sol :
·         bahan dari kulit sapid an kerbau, berat diatas 1 kg berat bersih 30 kg
·         Sifat kulit agak kaku, bentuk tebal, kuat dan sukar dibengkokan
·         Untuk pembuatan sepatu-sepatu berat

Kulit Vache
·         Bahan dari kulit sapi betina, anak sapi, berat basah 15 – 35 kg
·         Sifat lebih lemas dari kulit sol
·         Digunakan untuk sol salam, sol luar, hap dan ram dalam pembuatan sepatu
 
Kulit Raam
·         Bahan dari kulit sapi, anak sapi, berat basah 15 – 35 kg
·         Untuk bahan penyambung antara kulit atasan dengan kulit bawahan

b.   Kulit Atasan
1.   Kulit Box :
-     bahan dari kulit anak sapi atau kerbau
-     proses penyamakan dengan chrome diwarnai hitam coklat
-     sifat lemas, kuat tidak mudah pecah
-     penggunaan untuk sepatu kerja
2.   Kulit Glace :
-     Bahan dari kulit kambing (chevrou) dan kulit kambing (chevrete)
-     Proses penyamakan chrome diberi sedikit garam
-     Digunakan untuk sepatu rumah
3.   Kulit nubuk dan Kulit velour :
-     Kulit nubuk bahan dari anak sapi
-     Penyamakan dengan chrome bagian nerf sedikit digosok
-     Kulit velour dari kulit anak sapi yang kecil, babi           
4.   Kulit Tahan Air
-     Bahan dari kulit anak sapi, berat bersih 15 – 15 kg
-     Proses penyamakan dengan chrome, nabati atau kombinasi, agar tahan air diberi gemuk yang banyak tebal kulit 1,8 – 2,8 mm
-     Untuk pembuatan sepatu lars dan ski
5.   Kulit Fahl
-     Bahan kulit sapi, kulit kerbau, berat basah 12 – 15 kg
-     Proses penyamakan secara nabati sedikit diberi gemuk tidak diwarnai kadang-kadang diberi warna hitam
-     Sifat lemas tahan apin, tahan tarik tebal 2,2 – 2,8 mm
-     Untuk pembuatan sepatu kerja, sepatu militer 

c.   Kulit pakaian
1.   Kulit sarung tangan
-     Bahan baku kulit anak kambing, anak domba, kijang, rusa
-     Proses penyamakan chrome, kombinasi chrome, penyamakan minyak
-     Sifat kulit tipis, lemas, ulet berwarna putih
2.   Kulit pakaian
-     Bahan baku dari kulit kambing, domba, kuda
-     Proses penyamakan dengan samak chrome
-     Sifat kulit lemas tapi cukup kuat, berisi, tahan air
-     Penggunaan sebagai kulit jaket dan mantel.
3.   Kulit pengisap keringat
-     Bahan dari kulit kambing, domba, babi
-     Penyamakan secara nabati
-     Sifat dapat menghisap keringat dan tidak mengandung garam yang merusak kulit
-     Penggunaan sebagai pelapis sebnelah dalam topi

d.   Kulit tas/sadel
1.   Kulit Blank
-     Bahan dari kulit sapi, anak sapi, sapi jantan,. Penyamakan secara nabati dengan penggemukan sedang
-     Sifat kulit elastis, mudah ditekuk, tebal 2,5 mm
-     Penggunaan sebagai kulit godel, tas, ransel, aktentas dll
2.   Kulit Meubel
-     Hampir sama dengan kulit blank sifatnya elastis dan kuat

3.   Kulit Vechet
-     Bahan dari kulit sapi jantan
-     Penyamakan secara nabati
-     Sifat kulit lemas, tips dan lemah, tebal 1 – 1,5 mm
-     Digunakan untuk pembuatan bantalan kursi, meubel dan jok mobil
4.   Kulit halus
-     Bahan dari kulit kambing, domba dan anak sapi penyamakan dengan nabati chrome
-     Digunakan untuk kulit sampul buku, kulit tas dan fattefale
5.   Kulit Reptil
-     Bahan dari hewan melata (buaya dan ular)
-     Penyamakan secara nabati, chrome atau shintetis, tawar
-     Penggunaan untuk tas wanita, dompet
6.   Kulit Ikan
-     Bahan dari hewan laut (anjing laut dan hiu)
-     Penyamakan secara nabati, chrome dan sintetis
-     Digunakan untuk peti file yang berharga

e.   Kulit Tehnis
1.   Kulit ban mesin
-     Bahan dari kulit sapi jantan dan anak sapi
-     Penyamakan secara nabati dan chrome untuk memperoleh kulit ban mesin tahan panas diatas 60oC
-     Sifat kulit lemas, mulurnya sedikit, tahan kelembaban dan panas
2.   Kulit alat-alat mesin tenun
-     Bahan kulit sapi berat atau kerbau
-     Macamnya kulit picker, apron
3.   Kulit manchet
-     Bahan dari kulit sapi ukuran berat, nak sapi, kambing
-     Penyamakan secara nabati atau chrome
-     Penggunaan untuk pompa, pentil, pipa air, press hydraulic, perpacking dsb
4.   Kulit pelindung kerja
-     Bahan dari kulit sapid an kulit belahannya
-     Proses penyamakan secara chrome
-     Sifat kulit tidak banyak berisi gemuk
-     Digunakan untuk topi, sarung tangan