Entri Populer

Selasa, 27 Desember 2011

-AIR

2.1.  PENDAHULUAN

Di planet bumi ini air berada dalam tiga wujud yaitu cair, padat dan gas atau uap.  Pada kondisi biasa berada dalam keadaan cair, diruang angkasa kadang kala dalam bentuk partikel es dan pada beberapa tempat dimuka bumi berada dalam bentuk salju dan es.
Air sangat penting dalam kehidupan, sebagai alat pengangkut zat-zat makanan dan limbah / kotoran dari suatu  proses metabolisme, sebagai medium pereaksi dalam suatu reaksi, sebagai bahan penstabil dalam proses biopolimerisasi dan sebagai penentu dalam reaktifitas protein dalam tubuh dan lain sebagainya.
Umumnya dalam bahan pangan air merupakan komponen utama dan yang terbanyak, tapi mempunyai kandungan yang berbeda untuk setiap bahan.  Air pada jaringan hidup seperti bahan pangan dapat sebagai penentu dari viabilitas, daya terima dan mutu serta kesegaran dari suatu bahan.  Karena itu tingginya kandungan air dalam bahan pangan membutuhkan suatu metoda pengawetan yang efektif agar bahan dapat disimpan lama.   Mengeluarkan air melalui pengeringan atau membuatnya menjadi kristal melalui pembekuan dapat merubah sifat alami dari bahan.  Sebaliknya mengembalikan air pada kondisinya semula melalui rehidrasi atau pelelehan, tidak sepenuhnya mengembalikan kesegaran atau mutu bahan.  Adanya air mempengaruhi kemerosotan mutu bahan secara kimia dan mikrobiologi.  Karena pentingnya air sebagai komponen bahan pangan diperlukan pemahaman, mulai dari mempelajari struktur, proses pembentukan, bentuk molekul dari sifat fisik dan kimianya dan perilakunya.  Kandungan air dari beberapa bahan pangan seperti terlihat pada pada Tabel 2.1 menunjukkan  bahwa  banyaknya air  dalam  suatu bahan tidak dapat ditentukan dari penampilan fisik bahan tersebut, misalnya kentang yang mengandung 78 % air dibandingkan dengan madu yang hanya mengandung air 20 %. Kelihatannya secara fisik madu lebih banyak mengandung air dibandingkan dengan kentang.

Tabel  2.1.  Contoh Kandungan Air Beberapa Bahan Pangan Hasil Pertanian
Bahan
Kadar Air (%)
Tomat
Selada
Kubis
Bit
Kentang
Jeruk
Pisang
Semangka
Daging
Susu
Madu
Mentega, margarin
Beras
Susu bubuk
95
95
92
90
78
87
75
93
65
87
20
16
14
4
Sumber : deMan, John M (1989) Principle of Food Chemistry,  Terjemahan oleh Kosasih, P.  Kimia Makanan (1997)


2.2.    SIFAT FISIK DARI AIR DAN ES
 
Sifat-sifat fisik dari air dan es di sajikan pada Tabel 2.2. Yang menarik dari sifat air dan es adalah es mempunyai kecepatan pindah panas (thermal conductivity) empat kali lebih besar dari kecepatan pindah panas air pada suhu yang sama.  Hal ini menunjukkan bahwa es memindahkan energi panas lebih cepat dibandingkan dengan air yang tidak bergerak (misalnya air dalam sel-sel jaringan bahan).  Demikian pula difusifitas thermal dari es sembilan kali lebih besar dari besar difusifitas air.  Itulah sebabnya bahan pangan lebih cepat membeku daripada bahan tersebut dilelehkan kembali.

Tabel 2.2. Sifat Fisik Air dan Es
Berat Molekul
Sifat fase transisi
Titik lebur pada 1 atm (°C)
Titik didih pada 1 atm (°C)
Suhu kritis (°C)
Tekanan kritis (atm)
Titik tripel
Panas penguapan pada 100 °C
Panas sublimasi pada 0 °C
18.0

0.0
100.0
374.15
218.0
0.0099 °C
9.75 Kkal/mol ; 538.7 Kkal/gr

12.16 Kkal/mol ; 674.98 Kal/gr


20OC
0 OC
0 OC
-20 OC
Berat jenis (gr/cm3)
0.9982
0.9998
0.9168
0.9193
Viscositas (cps)
1.0020
1.7870
-
-
Tekanan uap (mmHg)
17.535
4.579
4.579
0.776
Kapasitas panas (Kal/gr °C)
0.9988
1.0073
0.501
0.466
Konduktifitas thermal
(cal / (det cm2) (°C/cm)
1.429
1.348
5.35
5.81
Difusifitas thermal (cm2/sec)
0.0014
0.0013
-0.011
-0.011
Konstanta dielektrik
80.36
88.00
91.0
98.0
Sumber : Fennema, O, 1976. Dalam Principle of Food  Science, Part I    Food Chemistry.  Fennema, O (eds) 1976.  P.13 - 37.

2.3.  STRUKTUR MOLEKUL AIR

Air merupakan molekul yang sangat kecil.  Berbeda dengan molekul kecil lainnya seperti NH3, CH4, HF dan H2S, air dalam keadaan biasa berbentuk cairan, sedangkan zat-zat (senyawa) diatas berbentuk gas.  Rumus molekul air adalah H2O.  Menurut Winarno (1984) sebuah molekul air terdiri dari sebuah atom oksigen yang berikatan kovalen dengan dua buah atom hidrogen.  Ikatan kovalen antara oksigen dan hidrogen merupakan ikatan yang sangat kuat sehingga air adalah senyawa kimia alam yang paling mantap.  Semua atom dalam molekul air terjalin menjadi satu oleh ikatan yang sangat kuat, yang hanya dapat dipisahkan oleh energi listrik atau zat kimia seperti logam kalium.
Menurut Davis dan Day (1961) cit Winarno (1984) sebuah atom oksigen mempunyai sebuah inti dengan delapan proton.  Pada kulit dalam atom oksigen dua proton telah terisi dengan dua elektron, sedangkan kulit luar hanya berisi enam elektron, jadi atom oksigen masih belum penuh, atau masih kekurangan dua elektron.  Sedangkan sebuah atom hidrogen mempunyi kulit elektron tunggal sekeliling intinya, yang berisi hanya satu elektron.  Karena itu satu atom oksigen yang kekurangan dua elektron pada kulit luarnya, akan cepat bergabung dengan dua elektron lain, dalam hal ini adalah dua elektron dari dua atom hidrogen untuk memenuhi ruang pada kulit luar, sehingga kulit luar atom oksigen terisi penuh oleh dua elektron hidrogen sehingga merupakan bentuk yang mantap yaitu sebuah molekul air atau H2O seperti terlihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1.  Pembentukan molekul air (Davis dan Day, 1961 cit Winarno, 1984)
a.       Sebuah atom oksigen dan dua atom hidrogen
b.      Molekul air, setiap elektron hidrogen saling memanfaatkan (sharing) sepasang elektron dengan oksigen.
c.       Terjadinya dua kutub positif dan negatif (dipolar)
Dalam pembentukan sebuah molekul air dua buah atom hidrogen mendekat pada sebuah atom oksigen sehingga membentuk dua ikatan kovalen yang saangat kuat, yang masing-masing memiliki energi sebesar 110.2 Kkal per molekul.
Pembentukan ikatan kovalen dari dua atom hidrogen dengan satu atom oksigen membentuk benda ruang yang disebut tetrahedron,  yaitu sebuah benda ruang yang dibatasi oleh empat buah segitiga sama sisi.  Secara skematis dari sebuah molekul air dapat dilihat Gambar 2.2.  dan Gambar 2.3

Gambar 2.2. Konfigurasi molekul  air dalam tetrahedron

Sudut yang terjadi karena ikatan atom oksigen dengan dua atom hidrogen dari sebuah molekul air pada konfigurasi tetrahedron disebut dengan sudut ikatan , yang besarnya 104.5° yang mana sudut ini hampir sama dengan sudut tetrahedron yaitu 109° 28’.  Atom oksigen berada pada inti tetrahedron.  Jarak antara atom oksigen dengan atom hidrogen dalam tetrahedron adalah 0.96 A° dan radius Vander Waal dari atom oksigen adalah 1.4 A° sedangkan dari atom hidrogen adalah 1.2 A° (lihat Gambar 2.3) 

Gambar 2.3.  Skema sebuah molekul air dengan radius Van Der Waal (Fennema, 1976)

2.4.  IKATAN ANTAR MOLEKUL AIR

Karena kekuatan elektronegatifitas dari atom oksigen yang sangat kuat, maka terjadi perpindahan satu elektron dari atom hidrogen  ke atom oksigen mengisi bagian yang tidak bermuatan yang kosong.  Akibatnya atom hidrogen akan kehilangan satu elektron dan meninggalkan atom hidrogen yang bermuatan positif, maka terjadilah ikatan H – O pada dua buah tangan dari tetrahedron.  Ujung kedua tangan dari tetrahedron yang mempunyai atom hidrogen positif tersebut, disebut tangan bermuatan positif (Hydrogen donor sites), sedangkan dua ujung tangan oksigen dari tetrahedron yang menerima dua elektron disebut tangan bermuatan negatif (Hydrogen acceptor sites)  (Fennema, 1976).  Dengan demikian terjadilah sebuah molekul air dengan kutub positif dan negatif secara permanen.  Karena itu sebuah molekul air mempunyai dua kutub  atau  dwipol  (dipolar). 
Tak   ubahnya    sebagai   sebatang magnet yang mempunyai kutub  yang berbeda pada kedua ujungnya.  Karena itulah molekul air dapat bergabung dengan sesama molekul air atau  bereaksi dengan senyawa lain, baik yang bermuatan positif maupun yang bermuatan negatif (Meyer, 1960).
Daya tarik menarik diantara kutub positif dari sebuah molekul air dengan kutub negatif dari molekul air yang lainnya menyebabkan penggabungan molekul-molekul air melalui ikatan hidrogen. 



Gambar 2.4.  Ikatan hidrogen molekul air dalam konfigurasi tetrahedron (Fennema, 1976)
Ikatan hidrogen adalah ikatan antara atom hidrogen dari sebuah molekul air dengan atom oksigen dari molekul air yang lain.  Ikatan hidrogen bersifat sangat lemah dan mudah putus dibandingkan dengan ikatan kovalen.  Kemampuan molekul air membentuk ikatan hidrogen menyebabkan air mempunyai sifat yang unik, dapat tampil seperti molekul yang besar yang disebut Cluster, tapi dapat juga menjadi molekul kecil. Yang paling kecil adalah satu molekul H2O dengan berat molekul 18.  Ujung-ujung atau sudut-sudut  yang bermuatan  negatif  dari   satu  molekul  air
dapat mendesak inti hidrogen yang lain dari molekul air yang berdampingan dan menyebabkan terjadinya pertukaran ikatan hidrogen.  Ikatan-ikatan  hidrogen  yang  terjadi antara molekul-molekul air yang berdampingan dapat menyebabkan air pada tekanan 1 atmosfir dan suhu 0 – 100 °C bersifat mengalir, karena kelompok-kelompok kecil molekul air bergabung dengan pola tertentu melalui ikatan hidrogen, tapi kelompok-kelompok tersebut bergerak bebas dan menyebabkan terjadinya pertukaran ikatan hidrogen.  Kondisi ini memperlihatkan air seperti mengalir.  Ikatan hidrogen ini tidak hanya mengikat molekul air satu sama lain, tapi juga mengikat senyawa-senyawa lain yang mempunyai oksigen atau nitrogen seperti metanol atau karbohidrat yang mempunyai gugus hidroksil (OH).  Senyawa-senyawa ini akan membentuk hidrat dengan air.
Disamping itu setiap molekul air mempunyai jumlah hidrogen donor dan hidrogen aseptor yang sama.  Beda dengan molekul lainnya seperti NH3 dan HF (Hidrogen Florida) yang sama-sama memiliki konfigurasi molekul berbentuk tetrahedron, tapi NH3 mempunyai tiga hidrogen donor dan satu hidrogen aseptor, sedangkan HF memiliki satu hidrogen donor dan tiga hidrogen aseptor.  Dengan demikian air mempunyai sifat yang berbeda dengan kedua senyawa diatas, dalam hal titik cair (lebur), titik didih dan panas penguapan.  Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.3. berikut ini.
Tabel 2.3.  Sifat Fisika beberapa hidrida
Senyawa
Titik lebur (°C)
Titik didih (°C)
Panas penguapan (Kal/mol)
CH4
NH3
HF
H2O
-   184
-          78
-     92
               0
-          161
-            33
    +      19
    +     100
2200
5550
7220
9750
Sumber  : deMan, John M 1989.   Principle of Food Chemistry.  Terjemahan oleh Kosasih, P.  1997.  Kimia Makanan.

2.5.    STRUKTUR ES DAN PEMBEKUAN
 
Es merupakan senyawa yang terdiri dari molekul-molekul air atau H2O (HOH) yang mengkristal.  Berbeda dengan air, struktur kristal es berbentuk segi enam beraturan seperti terlihat pada Gambar 2.5.  Satu atom H terletak disatu sisi diantara sepasang (dua) atom oksigen dari molekul-molekul air lainnya (Winarno, 1984).

Gambar 2.5. Ikatan molekul air membentuk heksagon beraturan dalam es (Wislyng dan Muklethaler, 1965 cit Winarno, 1984)

Pada Gambar 2.6. satu molekul air dalam kristal es dapat mengikat empat molekul air yang berada disekitarnya Molekul air W dapat bergabung dengan molekul air 1, 2, 3, dan W’ melalui empat ikatan hidrogen.  Jarak antara dua atom oksigen yang berdekatan ( O – O ) dalam kristal es adalah 2.76 A°.  Besar sudut yang dibentuk oleh tiga buah atom oksigen ( O – O – O ) adalah 109°, hampir sama dengan besar sudut tetrahedron yaitu 109° 28’.  Pembekuan secara perlahan-lahan mengakibatkan terbentuknya kristal es yang besar dalam bahan.  Sebaliknya pembekuan secara cepat mengakibatkan terbentuknya kristal es yang kecil-kecil baik pada antar sel atau dalam sel jaringan bahan.  Selama pembekun pangan air dirubah menjadi es dengan derajat kemurnian yang tinggi, sedangkan  konsentrasi bahan   yang  terlarut  dalam cairan
yang belum membeku akan naik perlahan-lahan.  Biasanya disertai dengan perubahan  pada pH, viscositas, tekanan osmosis, tekanan uap dan sifat-sifat lainnya.  Jika air membeku, terjadi perubahan, volume air bertambah lebih kurang 9 %.  Bila bahan  pangan yang dibekukan, maka volume pangan yang dibekukan akan berubah yang ditentukan oleh besar kandungan airnya dan konsentrasi bahan yang terlarut, seperti larutan gula (sukrosa) dan lainnya.  Jumlah dan jenis bahan yang terlarut akan mempengaruhi jumlah dan ukuran (size), struktur, lokasi / daerah dan orientasi dari kristal es (Fennema, 1976).  Perubahan volume dalam beberapa produk buah-buahan pada proses pembekuan dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Pada kondisi suhu 0 °C satu unit kristal es dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Gambar 2.6. Satu unit kristal es pada 0°C (Fennema, O, 1976)
Tabel 2.4.  Pertambahan Volume Produk Buah pada Proses    Pembekuan
Produk
Penambahan volume selama perubahan suhu 70 °F ke 0 °F
Sari buah apel
Sari buah jeruk
Frambus utuh
Frambus hancur / olahan
Arbei utuh
Arbei hancur / olahan
8.3
8.0
4.0
6.3
3.0
8.2
Sumber :  deMan, John M (1987), Terjemahan oleh Kosasih, P.  Kimia Makanan (1997).

2.6.  AIR DALAM BAHAN PANGAN

Air dalam bahan pangan dalam beberapa buku disebut air terikat karena berada dalam jaringan bahan.  Yang dimaksud dengan air terikat atau bound water adalah air yang berada dalam suatu bahan, termasuk bahan pangan.  Pengertian ini kuranglah tepat karena derajat keterikatan air dalam suatu bahan tidak sama tergantung keadaan bahan sendiri, sebagian air yang dikandung oleh bahan pangan tidak dalam keadaan bebas, melainkan terikat dalam berbagai bentuk ikatan oleh komponen-komponen penyusun bahan, malahan ada air yang tidak terikat atau air bebas.
Menurut Fennema (1976), berdasarkan derajat keterikatan air di dalam suatu bahan, maka air dapat dibedakan atas empat tipe.

Tipe I adalah tipe air yang terikat erat pada molekul lain dalam bahan melalui ikatan hidrogen yang berenergi besar.  Air tipe ini termasuk air yang terikat pada lokasi dan zat tertentu seperti air pada DNA.  Molekul air ini membentuk hidrat dengan molekul-molekul senyawa yang mengandung atom O dan N seperti karbohidrat, protein dan garam-garam.  Air tipe ini tidak dapat dibekukan, tapi sebagian dapat dihilangkan melalui pengeringan biasa.  Beberapa ahli mengatakan bahwa air tipe ini adalah bound water.
Tipe II adalah molekul air yang membentuk ikatan hidrogen senyawa-senyawa lain dan molekul-molekul air lain seperti yang terdapat dalam pipa-pipa kapiler (micro capillary, dengan ukuran diameter < 1 mm) yang mempunyai sifat berbeda dengan air biasa.  Air tipe II lebih sukar untuk dikeluarkan bila dibandingkan dengan tipe III dan apabila dihilangkan akan menurunkan nilai aktifitas air.  Apabila air ini sebagian dikeluarkan dari bahan menyebabkan dapat menghentikan pertumbuhan mikroba dan mengurangi / menurunkan berbagai jenis reaksi kimia yang dapat merusak bahan.  Bila air tipe II dikeluarkan seluruhnya dari bahan, sehingga bahan akan diperkirakan mempunyai kandungan air berkisar 3 – 7 % (tergantung pada bahan dan suhu), maka kestabilan optimum dari bahan akan tercapai kecuali bagi produk-produk yang mengandung lemak yang mudah teroksidasi (lemak tidak jenuh).

Air tipe III adalah air yang berada (terikat) secara fisik pada jaringan matrik bahan seperti pada jaringan dinding sel bahan pipa kapiler ( > 1 mm ) dalam serat dan lain-lain.  Air tipe III ini mempunyai aktivitas air sedikit lebih rendah dari air murni.  Air tipe III ini adalah air mayoritas yang ada dalam jaringan sel-sel makanan yang berasal dari tanaman dan hewan.
Air ini merupakan air bebas yang mudah dihilangkan tapi dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhan dan kelangsungan reaksi kimia seperti reaksi hidrolisa, aktifitas enzim dan reaksi pencoklatan.  Apabila air tipa III ini diuapkan seluruhnya, maka kandungan air bahan pangan akan berkisar antara 12 – 15 % dengan Aw 0.8 (Fennema, 1976).

Air tipe IV adalah air yang tidak terikat pada jaringan bahan, mempunyai sifat-sifat air biasa dan keaktifan penuh, tapi tidak persis sama betul seperti air murni, karena iar tipe ini berada dalam jaringan sel-sel hidup.  Air ini dapat divisualisasikan dalam perubahan aktifitas air apabila dilakukan proses pengeringan atau pembekuan terhadap bahan.

2.7.  AKTIFITAS AIR

Besarnya kadar air suatu bahan pangan bukan merupakan parameter yang absolut untuk dapat dipakai meramalkan kecepatan terjadinya suatu proses kimia terutama kerusakan pada bahan pangan.  Sebagian air yang dikandung oleh bahan pangan tidak dalam keadaan bebas, melainkan terikat dalam berbagai bentuk ikatan oleh komponen-komponen penyusun bahan.
Aktifitas kimia dari air atau sering disebut dengan aktifitas air (water activity) dan disingkat dengan Aw, merupakan ukuran yang dipakai untuk menentukan kemampuan air dalam melangsungkan proses-proses kimia dalam sel jaringan hidup seperti mikrobiologis, oksidasi, hidrolisa, reaksi enzimatis dan lain-lain atau kombinasi semuanya (M. Adnan, 1982).  Aktifitas air (Aw) adalah jumlah air yang ada dalam bahan pangan yang dapat digunakan untuk kelansungan proses-proses kimia pada bahan.  Untuk  mikroba,  Aw  adalah  jumlah  air  yang  ada  dalam  bahan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya.  Dalam hal ini berbagai mikroba mempunyai Aw minimum agar dapat tumbuh dengan baik.  Dibawah Aw minimum akan terjadi penundaan pertumbuhan dari mikroba, sampai pada suatu tingkat Aw tertentu mikroba tidak lagi dapat hidup.  Tabel 2.5. menunjukkan Aw minimum berbagai golongan mikroba.

Tabel.2.5. Aw Minimum dari Mikroba                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
Mikroba
Aw minimum
Bakteri
Ragi
Jamur
Bakteri halofilik
Fungi Xerofilik
Ragi Osmofilik
0.91
0.88
0.80
0.75
0.65
0.60
Sumber :  Bone, 1969 cit   M. Adnan (1982)

Disamping itu ada beberapa mikroba terutama kelompok cendawan mempunyai kemampuan menghasilkan toxin atau zat racun pada Aw tertentu,sehingga sangat berbahaya sekali bila cendawan tersebut tercemar pada bahan pangan.  Beberapa cendawan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6 Aw Minimum untuk Syarat Pertumbuhan dan Pembentukan Toxin Berbagai Jenis Jamur
Jenis Jamur
Nama Toxin
Aw minimum
Pertumbuhan
Pembentukan toxin
Aspergilus     - flavus
Penicillium –patullum
A.    ochraceus
A.    ochraceus
Stachybotys  - atra
Aflatoxin

Patulin

Ochratoxin
Asam penisilat
Stachybotryn
0.78 – 0.80

0.81

0.77
0.76
0.96

0.83

0.85

0.85
0.81
0.94
Sumber :  Troller (1980) cit M. Adnan (1982)

Dengan diketahuinya Aw minimum dari berbagai mikroba baik untuk pertumbuhan atau untuk pembentukan toxin merupakan informasi yang sangat penting dalam usaha untuk mencegah kerusakan bahan pangan.  Karena sebagian besar dari bahan pangan segar mempunyai Aw diatas Aw minimum mikroba, karena itu banyak bahan pangan yang rawan terhadap serangan berbagai mikroba, seperti terlihat  pada Gambar 2.7
Aktifitas air mempunyai nilai praktis khusus dalam usaha pengawetan bahan pangan dan penyimpanan dengan menurunkan nilai Aw bahan pangan dibawah atau sama dengan nilai Aw minimum dari berbagai mikroba.  Pada penyimpanan bahan pangan seperti biji-bijian memerlukan pembuatan kurva isoterm
sorpsi air dari bahan hingga diketahui berapa kadar air yang cocok dengan Aw yang dikehendaki.  Karena besaran Aw adalah kelembaban relatif dibagi 100, maka kelembaban relatif dalam tempat penyimpanan harus diatur sesuai dengan besarnya Aw.  Contoh lain penggunaan Aw adalah pada pembuatan makanan berkadar air sedang (intermediate moisture food) selalu berdasarkan pada pengaturan Aw, sehingga kerusakan dapat dihindari.  Demikian juga pada proses pengeringan atau pembuatan sari buah pekat (juice concentrate) selalu berdasarkan pada Aw.

                                          Bahan Makanan    Aw




      90

Buah-buahan
Sayur-sayuran
0.97
0.97

Text Box: Kadar Air, %      80


Telur

0.97
         
      70



Daging


0.97
       
      60



         
      50


Keju
Roti

0.96
0.96

      40

Jam, Jelli
0.82 – 0.94

      30



         
      20

Buah kering
Madu
0.72 – 0.80

0.75
         
      10

Krekker, Sereal
0.10
         





Gambar 2.7. Hubungan kadar air dan Aw berbagai bahan (Kaplow, 1970)

Dalam mempertahankan stabilitas dari produk yang diolah, agar tidak mengalami kerusakan, yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan kecepatan reaksinya maka dapat dipedomani peta stabilitas dari Labuza (1972) cit M. Adnan (1982) sebagai fungsi
dan aktifitas air.

Gambar 2.8.  Hubungan kecepatan reaksi dengan aktifitas air dalam bahan makanan (Labuza, et al , 1972 cit M. Adnan, 1982)

Untuk menetapkan besaran Aw dari suatu bahan pangan adalah dengan menempatkan contoh atau sampel dari pangan didalam suatu wadah yng tertutup, yang telah diisi dengan sederetan larutan yang mempunyai kelembaban nisbi yang tetap (RH – constant, lihat Tabel 2.7).  Setelah beberapa waktu yang telah ditetapkan, akan terjadi suatu keseimbangan, antara contoh bahan pangan dengan larutan ataupun sebaliknya.
Dengan percobaan ini, akan dapat ditentukan pada keseimbangan RH mana, contoh bahan pangan itu tidak lagi berubah beratnya (mempunyai berat yang tetap).
Apabila nilai keseimbangan RH (Equilibrium Relatif Humadity = ERH) ini kita catat dan dibagi dengan 100, maka akan diperoleh nilai Aw.  Atau dengan kata lain dikatakan :


            Aw   =   ERH  /  100  ……………………….(2.1)
dimana  :
ERH  =  RH bahan pangan dalam keadaan seimbang dengan RH larutan
Sedangkan  :  RH  =  100  x  p / po
dimana  :
              p    =  tekanan parsial uap air pada bahan
  po  =  tekanan uap air pada keadaan jenuh pada suhu yang sama
Oleh karena itu :
                        Aw  =  ERH  /  100
                                =  RH  /  100
                                =  100 . p / po
                                         100
                        Aw  =  p / po ………………………  (2.2)

Cara lain untuk menetapkan Aw adalah dengan menggunakan hukum Roult (M. Adnan, 1982) yaitu :
           
Aw  =  Mw  /  (Mw  +  Ms) ……………(2.3)

dimana :
            Mw  =  jumlah molekul air
            Ms  =  jumlah molekul pelarut (solute)

Penggunaan hukum Roult untuk penentuan Aw sangat cocok, khususnya dalam formulasi untuk menghasilkan bahan pangan dengan Aw yang dikehendaki.
Hubungan antara aktifitas air (Aw) dengan kandungan air suatu bahan pada suhu tertentu pada keadaan seimbang disebut dengan kurva Isoterm Sorpsi Lembab (ISL) atau kurva Moisture Sorption Isoterm (M. Adnan, 1982). 
Tabel 2.7.  Larutan yang mempunyai RH - tetap
Bahan
Kelarutan rata-rata dalam air panas (gr/100 ml)
RH – tetap pada suhu ruang *)
( % )
Li Br
LiCl. H2O
K (CH2 COO)
MgCl. 6H2O
K2 CO3
NaBr. 2H2O
Na NO2
Na Cl
KCl
Ba Cl2
K2 SO4
240
100
500
300
150
120
150
40
50
50
20
7
11
22
32
43
58
65
75
85
90
97
*) RH – tetap akan berubah sedikit bila suhu berubah.



Contoh penetapan Aw :
 












Kadar air seimbang dari suatu bahan adalah kadar air bahan pada saat tercapai keseimbangan dengan kelembaban relatif udara disekitarnya.  Setiap kelembaban relatif mempunyai kadar air tertentu yang dapat diukur.
Setiap bahan mempunyai kurva ISL yang berbeda seperti terlihat pada Gambar 2.9. untuk gelatin dan lempeng jagungDari gambar ini dapat dilihat bahwa pada Aw yang sama dari dua bahan dapat mempunyai kadar air yang berbeda.

Gambar.2.9. Kurva ISL dari gelatin dan lempeng jagung (Kaplow, 1970)

Kurva ISL umumnya berbentuk letter S (sigmoid).  Karena kurva ini merupakan isoterm, oleh karena itu setiap suhu akan mempunyai kurva tersendiri, seperti terlihat pada Gambar 2.10. (Fennema, 1976).
Kurva ISL dapat dibuat dengan mengumpulkan data kadar air seimbang mulai dari kelembaban relatif yang sangat rendah sampai kelembaban relatif yang tinggi (Winarno, 1984).  Sampel bahan dalam jumlah yang sedikit diletakkan pada wadah yang mengandung RH yang tetap (konstant) seperti dalam desikator yang berisi larutan jenuh antara lain Litium Chlorida dengan RH 11 %, MgCl dengan RH 32 %, NaCl dengan RH 75 % dan kalium sulfat untuk RH 97 %.  Setelah keseimbangan tercapai pada masing-masing larutan, dihitung kadar airnya secara gravimetris atau cara lain.  Dengan demikian didapatkan hubungan antara kadar air bahan dan RH dalam keadaan seimbang.  Bentuk umum dari ISL dapat dilihat pada Gambar 2.11.
Gambar 2.10. Kurva isoterm sorpsi lembab dari kentang pada beberapa suhu (Fennema, 1976)
Gambar 2.11.   Bentuk umum kurva isoterm Sorpsi Lembab (Labuza et al, 1972)

Kurva ISL dapat dilihat pada dua arah.  Bentuk desorpsi bila dimulai pada kadar air yang  tinggi,  sedangkan  absorpsi  dimulai

pada kadar air yang rendah.  Perbedaan antara kedua kurva ini disebut histeresis.  Menurut Rockland (1969) cit M Adnan            an (1982) kurva ISL dibagi atas tiga daerah, tergantung dari keadaan air dalam bahan dan sifat air pada berbagai tingkat Aw yang berbeda.  Ketiga daerah itu ialah daerah IL – I, IL – II dan IL – III.  Pada Gambar 2.11 dapat dilihat bahwa IL – I berada pada Aw 0 – 0.25,  IL – II pada Aw 0.25 – 0.75, sedangkan IL – III berada pada Aw diatas 0.75.
Ditinjau dari keterikatan air dalam bahan, maka air yang berada pada daerah IL – I merupakan lapisan tunggal atau hanya satu lapis molekul air (mono layer).  Ikatan air pada daerah ini bersifat ionik.  Karena itu air terikat dengan erat sekali, sehingga tidak dapat berfungsi dalam proses kimia , termasuk proses kerusakan.  Air berlapis tunggal inilah yang disebut sebagai air terikat (bound water), yaitu air yang tidak dapat membeku, walaupun suhunya diturunkan sampai 0°C.  Umumnya kadar air bahan di daerah ini berkisar 5 – 10 %.
Daerah IL – II tersusun oleh molekul air berlapis ganda atau berlapis-lapis meskipun air didaerah ini tidak terikat erat oleh komponen suatu bahan, namun air tidak dalam keadaan bebas.  Ikatan ini dalam komponen bahan umumnya dalam bentuk ikatan kovalen.  Karena itu kecepatan reaksi di daerah ini berlansung lambat.  Bahan pangan yang ktifitas airnya berada di daerah ini digolongkan dalam bahan pangan berkadar air sedang (intermediate moisture foods).  Biasanya kelompok bahan pangan ini mengandung kadar air antara 20 – 40 %, merupakan bahan pangan yang awet, meskipun tidak disimpan pada suhu refrigerasi.  Pembuatan makanan berkadar air sedang merupakan salah satu cara pengawetan bahan pangan dengan memakai dasar aktifitas air.
Air yang terdapat pada IL- III merupakan air yang tidak terikat atau air bebas, yang biasa dinyatakan sebagai air kondensasi kapiler, karena dalam keadaan bebas, air tersebut dapat berfungsi sebagai medium.  Untuk berlangsungnya proses kimiawi (sebagai pelarut) di daerah ini air terkondensasi pada struktur bahan, hingga kelarutan komponen menjadi sempurna.  Demikian juga proses kerusakan di daerah ini akan cepat berlansung.
2.8.       POLARITAS AIR

Bila diperhatikan bentuk tetrahedron dari molekul air, dapat dikemukakan bahwa sudut-sudut dimana atom hidrogen berada, membentuk daerah yang bermuatan positif,  sedangkan sudut-sudut dengan dua pasang elektron, membentuk daerah bermuatan negatif.  Karena itu molekul air mempunyai dua kutub atau disebut dwi kutub (dipolar) dengan sifat sangat polar, dimana molekul air adalah merupakan molekul polar yang permanen, atau mempunyai polaritas yang tinggi.
Kita harus membedakan molekul polar dari Na+Cl-, yang hanya dapat berdissosiasi menjadi Na+ dan Cl- melalui aliran listrik.  Sedangkan polar dari molekul air tak dapat berpisah dengan aliran listrik, sebab muatan (+-) berada pada satu molekul air itu sendiri.  Oleh karena itu bila suatu molekul air atau lain molekul polar ditaruh pada aliaran listrik, ia akan membentuk untaian atau rantai panjang yang bermuatan positif dan negatif, seperti : (+ -) (+ -) (+ -) dan seterusnya.  Panjang rantai ini dapat diukur , dan disebut : konstanta dielektrika, yang digunakan untuk menunjukkan derajat polaritas dari larutan.
Tabel 2.8.  Konstanta dielektrika untuk beberapa zat
Zat
Konstanta Dielektrika
Keterangan
Air
Glycerin
Methanol
Ethanol
Benzen
Lemak dan Minyak
80
48
34
24
  2
±2
Polar
non polar
non polar
non polar
non polar
non polar
 Dari Tabel 2.8 dapat dilihat bahwa iar memiliki konstanta dielektrika yang paling besar yaitu 80, maka dikatakan air adalah pelarut polar atau air mempunyai polaritas yang tinggi dibandingkan dengan zat lain.  Bila nilai konstanta dielektrik 50, berarti elektronegatifitas dari atom-atom yang berikatan relatif sama sehingga pembagian elektronnya merata, maka ikatannya disebut non polar.

2.9.       PERUBAHAN FASE DARI AIR
Titik beku air adalah pada suhu 0 °C.  Pada suhu ini air dan es berada dalam keadaan seimbang.  Ini berarti bahwa sampai pada keadaan semua air membeku, maka suhu 0 °C ini akan tetap.   Kita ingat bahwa es mempunyai berat jenis lebih rendah dari pada air.  Dapat kita buktikan bila es kita masukkan dalam air, ia akan mengapung.  Selama pembekuan, air akan bertambah volumenya, karena strukturnya berubah.  Apabila suhu kita turunkan menuju titik beku, maka ikatan hidrogen lebih banyak terbentuk dan kristal-kristal air (water clusters) akan terbentuk sampai semua molekul-molekul air akan terikat membentuk sebuah susunan heksagonal.  Pertambahan volume air selama terjadi proses pembekuan, adalah merupakan kejadian yang tidak diharapkan.  Umpamanya pada bahan  hasil pertanian bila terjadi pembekuan air dapat menyebabkan rusaknya atau pecahnya sel jaringan bahan tersebut, menghasilkan lunaknya tekstur dan akan menurunkan mutu bahan itu.
Disamping itu ukuran kristal yang terjadi juga merupakan masalah.  Hal ini haruslah menjadi pemikiran, dalam melakukan pembekuan bahan pangan.
Selanjutnya apabila es mencair suhu masih 0 °C, maka air akan berubah menjadi cairan yang mengandung ikatan hidrogen sebagian.  Apabila suhu dengan pelan-pelan dinaikkan menuju titik didih, maka ikatan hidrogen yang masih tertinggal akan putus.  Sedang pada suhu titik didih (100 °C), maka air dan uap air berada dalam keadaan seimbang, tapi suhu tetap 100 °C sampai semua air akan menguap.  Uap air adalah terdiri dari molekul-molekul air yang bebas yang tidak mempunyai ikatan hidrogen.  Uap air adalah molekul air yang mempunyai berat molekul yang sangat kecil yaitu 18 karena terdiri dari satu molekul.
Untuk memahami semua perubahan dari air ini perhatikan Gambar2.12. berikut.
a
b
Gambar 2.12.  Perubahan fase air
a.  Pengaruh suhu pada tekanan 76 mmHg
b.    Triple point air
Untuk ringkasnya dapat dikemukakan bahwa :
-          Es adalah merupakan molekul air dengan 100 % ikatan  hidrogen (fully hidrogen bonded).

-          Air adalah merupakan molekul air dengan sebagian ikatan hidrogen (partly hidrogen bonded).
-          Uap adalah sama sekali tidak mempunyai ikatan hidrogen (not hidrogen bonded), atau molekul-molekul air kurang lebih menjadi bebas satu sama lain, ikatan hidrogen menjadi putus.

Kita perlu memahami bahwa apabila air dipanaskan dalam keadaan hampa udara (vacuum), maka air kan mendidih pada suhu dibawah 100 °C.  Sedangkan es akan menyublim, bila tekanan udara diturunkan sampai 4 mmHg.
Kondisi ini merupakan dasar dari banyak hal dalam pengolahan pangan, seperti dalam pengeringan dengan memakai sistem pengeringan vakum dan pengeringan beku (freezer drying).

2.10.        PENETAPAN KADAR AIR DALAM BAHAN

Kelihatannya penetapan kadar air dalam bahan pangan pada prinsipnya adalah mudah, tapi dalam prakteknya sukar untuk memperoleh hasil yang memuaskan.  Salah satu sebabnya adalah tergantung pada keadaan bahan, dan tipe dari air yang dikandung bahan itu.
Kandungan air dari bahan dapat ditentukan dengan beberapa cara, sebagai berikut :
2.10.1.  Metoda Oven
Metoda ini memakai suhu 100 °C, kadang-kadang suhu dapat 105 °C tergantung bahan.  Dengan metoda ini sejumlah berat dari contoh bahan, ditempatkan di dalam oven sampai beratnya tetap atau tak berkurang lagi.  Biasanya berat contoh adalah 5 – 10 gram, yang bila diperhitungkan dapat diperoleh berat contoh yang telah dikeringkan / residu berkisar 1 – 2 gram.
Selisih berat sebelum dengan sesudah dikeringkan adalah jumlah / banyak air yang diuapkan, yang diperhitungkan secara prosentase sebagai kandungan air bahan. 
Secara skematis, metoda oven ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Ulangi sampai berat tetap













5 – 10 gram               Dinginkan bahan         Timbang bahan
contoh di                   kering sampai              yg telah kering
dalam oven               suhu kamar                  (residu)
suhu 100-105 ºC


Perhitungan :
(Berat contoh +  Wadah)  -  Berat wadah  =  Berat contoh  (A)
(Berat wadah + contoh kering) - Berat wadah  = Berat residu  (B)

Kadar air (%)  =    A  -  B    x    100 %  …………..  (2.4)
(berat basah)             B

Kadar air (%)  =         B            x   100 %  …………  (2.5)
(berat kering)            A

Keuntungan dari metoda oven  :
-          Cepat, mudah dan murah, dapat diulangi untuk beberapa contoh Tapi kelemahannya ialah butuh waktu lama, hasil kurang teliti, sebab tidak semua yang diuapkan adalah air, termasuk juga bahan-bahan yang mudah menguap, seperti alkohol dan asam organik lainnya yang ada dalam bahan.  Disamping itu juga faktor-faktor lain seperti :
-          Pengaruh panas terhadap zat-zat tertentu yang menyebabkan lepasnya zat-zat yang mudah menguap.
-          Tipe dari pada air yang ada  dalam bahan yaitu air bebas dan air terikat yang berbeda-beda pada setiap produk, yang tidak dapat diuapkan dengan suhu yang sama.
-          Suhu yang berbeda dapat menyebabkan kandungan air yang berbeda nyata.

2.10.2.  Metoda Pengeringan Vacuum (Vacuum  drying)
Pemakaian vacuum drying ini biasanya diikuti dengan penurunan suhu yang digunakan.  Oleh karena itu dengan metoda ini dapat dicegah kerusakan zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan terbentuknya zat-zat yang mudah menguapp, karena pengaruh suhu tinggi yang digunakan.  Diketahui bahwa air akan dapat mendidih pada suhu yang lebih rendah apabila tekanan udara diturunkan (vacuum).  Malah pengeringan pada suhu 0 °C adalah memungkinkan seperti keadaan dibawah ini :
             
        Tekanan                                   Titik didih air
        760 mmHg (1 atm)                                100 °C
        4.6  mmHg                                                0 °C

Melalui suatu percobaan-percobaan tertentu dengan mempergunakan alat vacuum dryer, maka titik didih air dapat diturunkan dengan penurunan tekanan udara.
Dengan            demikian keuntungan dari pemakaian metoda vacuum ini adalah kerusakan karena panas dapat teratasi, tapi sebaliknya ditemukan suatu kelemahan metoda ini yaitu; zat-zat yang mudah menguap selain dari air masih ada kemungkinan rusak, dan air terikat masih sukar untuk diuapkan.

2.10.3.  Metoda Destilasi (Distillation Method)

Metoda ini telah digunakan semenjak 70 tahun yang lalu.  Pada metoda ini dikenal dua cara “destilasi”, sebagai berikut:

a.       Dengan, Brown dan Duvel Apparatus air disuling dari suatu pelarut tertentu yang mempunyai berat jenis yang lebih rendah dari pada air, tapi mempunyai titik didih yang tinggi.  Alat Brown dan Duvel memakai pelarut minyak mineral.  Contoh sampel yang akan ditentukan kadar airnya dimasukkan ke dalam tabung bola (flask), setelah itu masukkan  minyak mineral kemudian dipanaskan dengan suhu sesuai dengan petujuk pada alat, biasanya 190 °C.
Air pada bahan akan menguap, dan masuk kedalam kondensor (condenser).  Disini uap air akan mengembun.  Tetesan embun air akan jatuh dan ditampung dengan sebuah gelas ukur.  Dengan demikian kandungan air contoh dapat ditentukan.
-           
Gambar.2.12. Alat BROWN dan DUVEL untuk mengukur kadar air bahan memakai minyak mineral sebagai pelarut
b. Alat yang kedua, tidak memakai minyak mineral sebagai pelarut, tetapi memakai xyline, toluene atau tetrachlorethylene (perhatikan  Gambar 2.13)
Prinsip kerja alat ini adalah sama, hanya dalam pelarut dan gelas untuk menampung air menyatu dengan kondensor

Metoda destilasi ini adalah metoda yang umum digunakan untuk menetapkan kandungan air dari bahan.
Keuntungannya antara lain :
-          air cepat dapat diuapkan, karena suhu tinggi.
metoda destilasi dapat mengurangi kerusakan zat-zat dalam bahan, dibandingkan dengan metoda oven.


Kelemahannya :
-          reaksi kimia dapat dikurangi, tapi tak dapat dihentikan
-          pengaruh panas juga dapat ditekan, dengan jalan memilih pelarut-pelarut yang mempunyai titik didih yang lebih rendah dari air, tapi dapat mengakibatkan waktu destilasi akan bertambah panjang / lama.
Untuk analisa yang bersifat rutin, metoda destilasi tidak dapat digunakan, karena cukup mahal.

2.10.4.  Metoda Kimia
Ada dua metoda kimia ini yaitu ;
a.  Metoda titrasi reagen KARL FISHER
Metoda Karl Fisher ini ditemukan pada tahun 1935, menetapkan kadar air bahan berdasarkan reaksi kimia, air melalui titrasi langsung dari bahan basah dengan larutan iodin, sulfur dioksida dan larutan pyridin dalam metanol.
Reaksinya adalah sebagai berikut :

2 H 20   +   SO2   +  I2                 H2SO4   +   2HI
Caranya :
Sejumlah contoh (sampel) dilarutkan di dalam campuran SO2– piridyn dalam metanol.  Larutan ini kemudian dititrasi dengan larutan yod dalam metanol.  Kelebihan yod yang tidak dapat bereaksi dengan air, dinyatakan sebagai bentuk yod yang bebas.  Sedangkan jumlah yod yang dibutuhkan untuk titrasi dapat ditentukan secara visual, dengan menambahkan beberapa tetes indikator yang dapat menimbulkan warna kuning kecoklatan (yellow – mahagony brown culler) terlihat.  Dalam pelaksanaan titrasi ini harus dijaga bahwa semua reagen, labu titrasi dan buret harus ditempatkan pada ruangan tertentu (yang bebas dari dari pengaruh tekanan dan kelembaban udara). Untuk metoda ini lihat Gambar 2.14.


Gambar 2.14. Alat untuk menetapkan kandungan air dengan metoda KARL – FISHER

Metoda KARL – FISHER ini adalah metoda yang paling baik menetapkan kadar air dari bahan pangan yang tidak banyak mengandung air (low moisture foods), seperti pangan kering (buah-buahan dan sayur-sayuran), kembang gula, bubuk coklat, bubuk kopi, lemak minyak.  Metoda ini pernah didemontrasikan dengan sukses sekali pada penetapan kadar air dari gula, madu dan berbagai jenis pangan yang kaya dengan gula reduksi dan protein.
                                                     

2.11.  DAFTAR PERTANYAAN


1.      Sebuah molekul air terbentuk dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Jelaskanlah proses terjadinya sebuah molekul air dan buatlah gambar konfigurasinya.
2.      Jelaskan pula proses pembentukan dari kristal es dan apa beda struktur kristal es dengan air.
3.      Berikan alasan kenapa proses pembekuan air lebih cepat waktunya dibandingkan dengan waktu pelelehan kembali.
4.      Penetapan konstanta dielektrika digunakan untuk apa ? jelaskan.
5.      Apa yang dimaksud dengan kurva isoterm sorpsi lembab ? Bagaimana cara menetapkannya.
6.      Jelaskan empat tipe air yang ada dalam bahan hasil pertanian.
7.      Apa yang dimaksud dengan Aw, dan jelaskan cara penetapannya.
8.      Jelaskan hubungan Aw dengan beberapa kecepatan reaksi kimia didalam jaringan hidup.
9.      Penetapan kandungan air dalam bahan dapat digunakan dengan metoda Karl Fisher. Untuk bahan yang bagaimana metoda Karl Fisher ini dapat digunakan ?. Jelaskan alasannya.
10.  Apa maksud dari titik triple point, dan pada suhu dan tekanan berapa terjadinya.
11.  Jelaskan kenapa air pada tekanan 1 atm dan suhu 0 – 100O C dapat mengalir.

DAFTAR BACAAN


Adnan, M. 1982, Aktivitas Air dan Kerusakan Bahan Makanan. Agritech – Yogyakarta.
DeMan, John M. 1989. Principle of Food Chemistry. Terjemahan Oleh Kosasih, P. 1997. Kimia Makanan. Penerbit ITB-Bandung. Hal 1-35.
Fennema, O,R. 1976. Water and Ice In : Food Chemistry. Edt by Fennema O.R. Marcel Dekker, Inc. New York and Basel. P. 13-38.
Kaplow, N. 1970. Commercial Development of Intermediate Moisture Food. Food Technology 24.889.
Labuza, T.p., L. Mc Nally, D Gallagher, J. Hawkes and F. Hurtado. 1972.  Stability of Intermediate Moisture Foods. J.Food sci, p.37:154.
Meyer, L.H. 1961. Food Chemistry. Reinhald Publishing Corporation – New York. P. 5-8.
Purnomo, H. 1995. Aktivitas Air dan Peranannya Dalam Pengawetan Makanan.
Rockland, L.B dan Niski, S.K. 1989. Influence of Water Activity on Food Product Quality and Stability. Food Technology. P..34 : 42-51.
 

Tata Cara Pemupukan

Untuk mendapatkan hasil pemupukan yang memuaskan, tidak hanya penting memakai dosis pupuk yang tepat saja tetapi juga penting diketahui cara pengunaan pupuknya. Dengan berkembangnya teknologi pertanian dan industri, telah melahirkan berbagai produk yang cara pemberiannya lain dari biasanya, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua cara pemberian/memupuk, yakni:
  1. Memupuk dengan cara pemberian melalui akar
  2. Memupuk dengan cara pemberian melalui daun
1. Memupuk melalui akar
Yaitu segala macam pupuk yang diberikan kepada tanaman lewat akar. Tujuannya tentu sudah jelas, yakni mengisi tanah dengan hara yang dibutuhkan oleh tanaman, supaya tanaman yang ditanam di atasnya tumbuh subur dan memberikan hasil yang memuaskan. Pada umumnya pemberian pupuk melalui akar dapat dilakukan secara:
1. Disebar (broad casting)
Pupuk yang disebarkan merata pada tanah-tanah di sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari sebelum tanam, kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah. Beberapa pertimbangan untuk menggunakan cara ini adalah:
a. Tanaman ditanam pada jarak tanam yang rapat, baik teratur dalam barisan maupun tidak teratur dalam barisan
b. Tanaman mempunyai akar yang dangkal atau berada pada dekat dengan permukaan tanah
c. Tanah mempunyai kesuburan yang relatif baik
d. Pupuk yang dipakai cukup banyak atau dosis permukaan tinggi
e. Daya larut pupuk besar, karena bila daya larutnya rendah maka yang diambil tanaman sedikit
Cara pemupukan ini biasanya digunakan untuk memupuk tanaman padi, kacang-kacangan dan lain-lain yang mempunyai jarak tanam rapat. Kerugian cara ini ialah merangsang pertumbuhan rumput pengganggu/gulma dan kemungkinan pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah lebih tinggi.
2. Ditempatkan di antara larikan/barisan
Pupuk ditaburkan di antara larikan tanaman dan kemudian ditutup kembali dengan tanah. Untuk tanaman tahunan ditaburkan melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus daun terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a. Pupuk yang digunakan relatif sedikit
b. Jarak tanam antara tanaman yang dipupuk cukup jarang dan jarak antara barisan pertanaman cukup jarang
c. Kesuburan tanah rendah
d. Tanaman dengan perkembangan akarnya yang sedikit
e. Untuk tanah tegalan atau darat
f. Bila mengkhawatirkan akan terjadi pengikatan unsur hara oleh tanah dalam jumlah yang cukup besar

3. Ditempatkan dalam lubang
Pupuk dibenamkan ke dalam lubang di samping batang sejauh kurang lebih 10 cm dan ditutup dengan tanah. Untuk tanaman tahunan pupuk dibenamkan ke dalam lubang pupuk yang melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus dan terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan sama dengan cara larikan/barisan.

Taman Rusa


Ternakan Rusa Di Pedu
Lembaga Kemajuan Pertanian Muda (MADA) telah mula melaksanakan projek ternakan rusa di Empangan Pedu pada tahun 1994 di kawasan seluas 2.6 ha. Daripada kawasan ini juga disediakan sebanyak 10 "paddock" untuk kawasan tanaman rumput. Rusa-rusa yang dipelihara ini akan dibiarkan meragut rumput-rumput yang ditanam mengikut giliran ‘paddock’ disamping memberi makanan tambahan berbentuk "pellet".
Terdapat dua objektif utama projek ini, iaitu menjadikan kawasan di Pedu ini sebagai tambahan untuk daya tarikan pelawat dan pelancong di samping tarikan lain yang ada dan sebagai tempat untuk pembelajaran, penyelidikan dan pemerhatian terutamanya kepada pelajar-pelajar.
Bilangan rusa di Empangan Pedu 134 ekor rusa (43 ekor jantan dan 91 ekor betina), Muda Resort 25 ekor rusa, (9 ekor jantan dan 16 ekor betina), Ibu Pejabat MADA 7 ekor rusa, (1 ekor jantan dan 6 ekor betina), Dark house’ rusa di Empangan Pedu dan Penjualan rusa hidup dan daging rusa

Jenis-Jenis Rusa
Pada permulaannya projek ini sebanyak 10 ekor rusa jenis Cervus timorensis telah dimasukkan ke kawasan ini. Rusa ini diambil daripada Pusat Ternakan Haiwan, Jabatan Perkhidmatan Haiwan (JPH) Behrang Ulu, Perak. Kemudian pada tahun 1997 sebanyak 4 ekor rusa jenis rusa sika (Cervus nippon) telah dibeli daripada perladangan haiwan swasta di Gunung Jerai dan seterusnya pada penghujung tahun 2001 pula seekor rusa jenis sambar (cervus unicolor) di beli daripada Zoo Melaka.

Daripada catatan rujukan didapati terdapat 40 keluarga rusa yang diketahui sehingga sekarang termasuk jumlah bilangan sub spesisnya. Antara jenis-jenis rusa yang diternak terdiri daripada spesis Red Deer (Cervus elapus), Wapiti atau Elk, Fallow Deer (Dama-dama), rusa sika (Cervus nippon), rusa chital (Axis-axis) dan yang biasa dan diternak secara meluas ialah rusa timor (Cervus timorensis). Di Malaysia terdapat juga rusa yang liar yang dikenali sebagai rusa sambar (cervus unicolor) dan dilindungi kerana populasinya yang semakin berkurangan.

Penyediaan Kawasan
Pemagaran Kawasan

Pemagaran kawasan ternakan hendaklah menggunakan pagar jenis "cyclone tight lock" yang mempunyai ketinggian 6 kaki. Kemudian di bahagian atas pagar ini ditambah lagi dua lapisan dawai (plain wire) bagi menambah ketinggian kepada 8 kaki. Beberapa "paddock" perlu dibuat bagi kawasan ternakan kerana dapat memudahkan pengurusan ternakan dan mengawal tanaman rumput yang ditanam sebagai makanan utama rusa. Oleh itu rusa-rusa akan dipindahkan daripada satu paddock kepada paddock lain apabila rumput di dalam paddock berkenaan telah berkurangan untuk diragut dan ini dapat menjamin kepada pertumbuhan rumput yang baik dan memudahkan pengurusan.

Penyediaan Tanah
Selepas kerja-kerja pemagaran selesai dibuat maka putaran tanah dilakukan untuk menabur benih-benih rumput. Selepas putaran pertama dilakukan baja ‘Christmas Island Rock Phospate’ (CIRP) dan ‘Mirate of Potash’ (MOP) ditabur. Kadar CIRP ialah 375 kg/ha dan MOP ialah 75 kg/ha. Kemudian putaran kedua dilakukan bagi menggaulkan baja-baja tersebut dengan tanah.

Menabur Benih Rumput
Rumput yang dicadang untuk ditanam bagi ternakan rusa adalah dari jenis campuran "guinea grass" (panicum maximum) dan "green panic", Brachiaria decumbens dan Brachiaria humidicola. Kadar benih yang ditabur adalah diantara 8 kg hingga 10 kg sehektar. Rumput jenis Brachiaria decumbens dan Brachiaria humidicola ini mempunyai ketahanan terhadap ragutan rusa, cepat pulih semula selepas rusa dimasukkan, tidak memerlukan banyak penyelenggaraan dan adalah jenis menjalar yang dapat memenuhi kawasan tanaman dengan sepenuhnya.

Pembajaan
Pembajaan yang disyorkan bagi rumput pastura dalam setahun ialah:
UREA (N) = 375 kg/ha
Rock Phosphate (P) = 375 kg/ha
Mirate of Potash (K) = 75 kg/ha

Baja UREA biasanya diberi antara 4 hingga 6 kali setahun. Ujian keatas rumput juga mesti dilakukan bagi mengetahui kandungan nilai nitrogen (N) yang ada. Nilai N dalam rumput mesti tidak melebihi daripada 15%. Nilai N yang tinggi boleh menyebabkan rusa menjadi sakit perut atau cirit-birit. Rock Phosphate biasanya diberi 2 kali setahun manakala Mirate of Potash hanya perlu diberi sekali setahun.

Penjagaan Rusa
Rusa timor (Cervus timorensis) didapati dapat menyesuaikan diri dengan iklim di Malaysia dengan cepat berbanding dengan lain-lain varieti. Penyelidikan dari Jabatan Perkhidmatan Haiwan mendapati antibodi haiwan tersebut amat kuat sehinggakan ia tidak perlu diberi suntikan pencegahan. Pemeliharaan rusa secara besar-besaran adalah lebih menguntungkan kerana didapati seorang pekerja boleh menjaga antara 300 hingga 500 ekor rusa. Tetapi beberapa perkara penting dari berbagai aspek perlu juga dilihat untuk ternakan rusa seperti pengurusan pastura, patology, pembiakan dan juga pemilihan penternak yang betul-betul berminat. (New Straits Times 3/3/95 - "Lifestyle – The healthy alternative")
Makanan
Rusa adalah sejenis haiwan herbivor yang dikategorikan sebagai haiwan yang mempunyai sistem pemindahan makanan yang sangat efisyen. Rutin makanan rusa adalah mudah kerana selain diberikan makan rumput ataupun bebas meragut ia juga boleh diberikan makanan tambahan iaitu bijian palet yang dicampur dengan multi-vitamin. Lain-lain daun tumbuhan juga boleh diberi sebagai makanannya melalui sistem potong dan bawa (cut and carry) seperti daun petai belalang, daun ubi, Acacia, Hibiscus, nangka, cempedak, lundai, ara dan lain-lain makanan seperti roti, pisang dan betik.

Pembiakan
Aktiviti pembiakan rusa sangatlah aktif kerana seekor rusa telah bersedia untuk mengawan ketika mencapai umur antara 18 hingga 20 bulan. Seekor rusa jantan mampu membuntingkan kira-kira 20 hingga 25 ekor rusa betina dalam satu jangkamasa dengan kadar kelahiran 70% anak rusa. Kajian yang dibuat menunjukkan empat ekor rusa jantan berjaya membuntingkan kira-kira 100 ekor rusa betina dengan kadar kelahiran sebanyak 77 ekor anak rusa. (Utusan Malaysia 16/2/98 – Rusa senang dipelihara, sukar diserang penyakit)

Rusa betina akan matang apabila berumur antara 18 hingga 20 bulan manakala rusa jantan pula apabila mencapai umur antara 2 hingga 3 tahun. Tempoh pusingan haid bagi rusa timor ialah 18.3 hari dan tempoh hamil pula ialah 235 hari. Biasanya rusa akan menghasilkan hanya seekor anak sahaja pada suatu masa dan kejadian kembar sangatlah jarang berlaku. (Risalah Mutakhir UUM, Jilid 9, bil 3 – 18/2/95)

Daging Rusa
Daging rusa terkenal sebagai makanan yang berkhasiat, berprotein tinggi, kurang lemak, kandungan kolesterol yang rendah dan menepati citarasa baru.

Harga daging rusa buat masa sekarang dipasaran adalah sekitar RM28.00 hingga RM30.00 sekilo tetapi sebelum rusa timor banyak diternak di Malaysia harga daging rusa import iaitu dari Fallow Deer ialah antara RM40.00 hingga RM50.00 sekilo. Harga ini adalah mahal jika dibandingkan dengan daging lembu dan ini membuatkan daging rusa kurang mendapat sambutan walaupun diketahui khasiat daging rusa lebih baik.

Syarat Kandang Kambing Yang Baik

Setelah lokasi kandang terpenuhi, langkah selanjutnya adalah menentukan bentuk atau desain kandang. Desain kandang harus tepat agar tidak menghambat pertumbuhan dan kesehatan ternak.
Ada tiga kandang yang perlu dibangun untuk beternak kambing secara intensif, yaitu kandang pejantan, kandang untuk induk yang hendak dan baru melahirkan, dan kandang pembesaran. Ketiga kandang tersebut membutuhkan perlakuan yang sama untuk memenuhi syarat hunian ternak yang sehat.
Berikut adalah beberapa persyaratan dari kandang kambing yang layak huni:
  • Dinding kandang memiliki ventilasi yang cukup baik.
  • Lantai kandang tidak menempel di tanah dengan jarak sekitar 50 cm di atas permukaan tanah (seperti rumah panggung).
  • Lantai kandang dibuat berlubang untuk memudahkan jatuhnya tinja dan air kencing.
  • Terdapat lubang sedalam 10-15 cm di bawah lantai untuk menampung kotoran (pupuk kandang).
  • Tanah di bawah lantai kandang dibuat miring dan disemen agar kotoran mudah digelontor. Air gelontoran dan kotoran langsung masuk ke saluran pembuangan dan terkumpul di lubang penampungan kotoran.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

Jenis & Fungsi Dari Kandang Kambing

Terdapat 3 jenis kandang kambing yang anda harus bangun dengan memiliki fungsi yang berbeda. Yuk ketahui jenis dan fungsi kandang untuk ternak kambing anda.
1. Kandang Pejantan
Kandang pejantan juga berfungsi sebagai tempat mengawinkan ternak secara terarah. Selain sebagai tempat hunian pejantan secara soliter (individu), sewaktu-waktu kandang ini juga dapat digunakan untuk mencampur induk betina yang sedang birahi dengan pejantan yang bertugas sebagai pemacek. Luas kandang pejantan sekitar 2.5-3 m2 per ekor.
2. Kandang Induk
Kandang induk diisi oleh induk kambing yang hendak dan baru melahirkan anak. Dengan adanya kandang khusus ini diharapkan induk kambing dapat menjaga kandungan dan mengasuh anaknya dengan baik sampai tiba saatnya anak kambing disapih dan tidak terganggu oleh kambing lain saat menyusui anaknya. Sesudah anak selesai disapih, kandang dibersihkan dan bisa diisi penghuni baru secara bergilir. Seekor induk kambing memerlukan luas lantai sekitar 1.0 m x 1.5 m atau 1.5 m2 dan anaknya 0.2 m x 0.2 m atau 0.04 m2 per ekor.
3. Kandang Pembesaran
Kandang pembesaran digunakan untuk memelihara anak kambing setelah disapih sampai mencapai usia remaja. Pemeliharaannya dapat dilakukan secara berkelompok (massal) atau secara individu (tunggal, per ekor).
Pemeliharaan kambing secara berkelompok tidak memerlukan sekat (pagar, dinding pembatas) di dalam ruang kandang. Pemeliharaan kambing secara individu, memerlukan sekat-sekat pembatas mirip kotak di dalam ruang kandang. Setiap kotak dihuni untuk satu ekor kambing saja.
Di kandang pembesaran inilah kambing muda digemukkan sampai waktunya dipotong atau dijual. Aktivitas ternak yang diperbolehkan hanya makan, minum dan tidur sepuasnya. Kambing tidak akan melakukan kegiatan tidak perlu yang bisa menghambat pertumbuhan bila dimasukkan ke dalam kamar masing-masing. Misalnya saling berebut pakan atau berkelahi sesama kambing.
Kandang  pembesaran juga bisa berfungsi sebagai kandang koloni, yaitu untuk memelihara kambing betina remaja secara bersama-sama sebelum bunting, atau kambing jantan remaja (lepas sapih) sampai umur 6-7 bulan. Luas kandang yang dibutuhkan untuk pembesaran adalah 1-2 m2 per ekor. Untuk keperluan ini, sekat-sekat kandang dihilangkan. Untuk satu unit kandang dengan lantai seluas 100-120 m2, jumlah kambing maksimal yang bisa ditampung sebanyak 50-60 ekor.
Untuk penggemukan, bentuk kandang pembesaran yang digunakan ada dua macam, yaitu kandang koloni dengan kebutuhan luas lantai rata-rata 1.5 m2 per ekor dan kandang individual (kandang bateri) dengan ukuran 60-70 cm x 1-1.2 m. Umumnya, ternak yang dipelihara didalam kandang ini selama 1-3 bulan saja.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

Sarana Dan Prasarana Kandang Kambing

Untuk mempermudah pemeliharaan ternak, kandang harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Perlengkapan kandang berupa tempat pakan, tempat minum, dan kotak garam. Selain itu, peralatan lain yang perlu dilengkapi adalah alat-alat pembersih kandang seperti sapu, sikat, sabit, alat pengangkut dan pembersih kotoran.
Tempat pakan hijauan untuk kambing betina dewasa memiliki panjang 40 cm per ekor, dan untuk jantan 50 cm per ekor. Bila dibuat memanjang dari sisi depan, tempat pakan hijauan sepanjang 40-50 meter bisa digunakan untuk 100 ekor kambing dewasa.
Untuk kambing remaja, tempat pakan hijauan yang dibutuhkan memiliki panjang 30-35 cm per ekor. Bila dibuat memanjang, tempat pakan hijauan sepanjang 30-35 meter cukup untuk 100 ekor kambing remaja.
Ember bisa dipakai sebagai tempat minum dan diletakkan di sisi kandang yang mudah dicapai. Umumnya, kambing tidak terlalu banyak minum, kecuali induk kambing yang sedang menyusui anak.
Untuk memenuhi kebutuhan kambing terhadap garam mineral, peternak perlu menyediakan kotak kecil untuk garam. Kotak tersebut berukuran 15 cm2 dan terbuat dari kayu. Kotak garam perlu diletakkan di tiap sisi sehingga kambing mudah menjilati garamnya. Satu kotak garam cukup untuk dua ekor kambing.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

Pemilihan Bibit Untuk Ternak Kambing

Baik buruknya kualitas kambing yang diternakkan tergantung pada dua faktor, yaitu bibit dan lingkungan hidup. Dalam pengembangbiakan kambing untuk tujuan pemeliharaan, bibit kambing yang dipilih harus baik dan sehat. Tujuan pemilihan bibit untuk menghasilkan keturunan sekaligus menghasilkan produksi yang baik.
Pembentukan bibit unggul kambing ternakan yang cocok dengan kondisi lingkungan setempat merupakan hal yang ditekankan dalam pengembangbiakan ternak kambing. Kambing kacang atau  kambing lokal lain dapat digunakan sebagai salah satu parent stock (bibit indukan) untuk pembentukan bibit unggul yang diharapkan.
Upaya pembibitan ditekankan pada pemurnian dan peningkatan produksi. Upaya ini dilakukan dengan cara seleksi genetik yang memperhatikan sifat-sifat unggul yang diharapkan. Contoh sifat unggul dari kambing yaitu kemampuan beranak kembarnya tinggi, pertumbuhannya cepat, dan mutu produksinya sesuai yang diharapkan konsumen.
Sumber:  Buku Penggemukan Kambing Potong

Pengaturan Perkawinan Pada Ternak Kambing

Pada umumnya, ternak kambing sudah mulai dewasa kelamin (masak) pada umur 5-10 bulan. Dewasa kelamin sangat tergantung dari ras atau tipe, jenis kelamin, dan lokasi pemeliharaan. Kambing tipe kecil lebih cepat mengalami dewasa kelamin dibandingkan kambing tipe besar.
Perkawinan induk kambing betina sebaiknya dilakukan pada umur 9-12 bulan. Pada umur ini secara fisik kambing sudah tumbuh dewasa sehingga mampu memproduksi susu dan menjalani masa kebuntingan. Penggunaan  induk betina sebagai produsen anak berlangsung sampai kambing berumur 5-6 tahun.
Siklus birahi seekor kambing betina antara 20-24 hari. Masa birahinya berlangsung selama 1-2 hari. Kambing betina tidak akan bunting bila dikawinkan dalam keadaan tidak sedang birahi. Kambing yang sudah bunting tidak mengalami masa birahi lagi.
Kambing pejantan bisa dikawinkan sesekali mulai umur 10 bulan, tetapi tidak dibiarkan melayani lebih dari 20 ekor induk betina sebelum umurnya genap satu tahun. Dalam tenggang waktu dua bulan itu, kambing jantan hanya kawin 16-20 kali saja atau maksimal dua kali kawin dalam seminggu. Pejantan dapat digunakan sebagai pemacek sampai umur 7-8 tahun.
1. Perkawinan di Tempat Terbuka
Perkawinan berlangsung di padang gembalaan atau tempat terbuka. Perkawinan dilakukan dengan melepaskan induk kambing pejantan ke dekat sekelompok induk kambing betina sepanjang waktu. Perbandinganny, satu ekor induk pejantan untuk 20-25 ekor induk betina.
2. Perkawinan di Kandang
Perkawinan yang paling baik berlangsung di dalam kandang dan diatur. Pejantan jangan sampai kawin dua kali dalam seminggu. Dengan cara ini, seekor pejantan dapat melayani induk betina  sampai 100 ekor dalam jangka waktu dua tahun.
Induk betina tak akan mau dikawinkan bila tidak dalam keadaan birah. Masa birahi kambing betina berlangsung antara 24 – 48 jam. Dalam satu kali kawin biasanya sudah cukup untuk menghasilkan keturunan. Tetapi untuk lebih meyakinkan, kambing betina dapat dikawinkan ulang setelah 6 – 12 jam sesudah perkawinan pertama.
Kambing betina yang sudah dikawinkan sebanyak tiga kali dalam masa subur tetapi belum juga bunting, sebaiknya diafkir untuk ternak potong.

jenis-jenis sapi potong

Disini kami berusaha meluruskan anggapan orang-orang mengenai sapi BRAHMAN!Bahwa sebenarnya yang dinamakan sapi BRAHMAN ialah sapi yang berwarna putih kepala agak kehitaman dan berpunuk besar,bukan yang berwarna coklat/merah seperti yang dikira selama ini.

1.BRAHMAN:sapi ini berasal dari india,namun banyak dikembangkan di Amerika,yang masuk ke Indonesia adalah dari Amerika.Bobot jantan maksimum 800kg dan betina 550kg.


2.LIMOUSINE:merupakan keturunan sapi Eropa yang berkembang diPerancis,sapi ini merajai di pasar-pasar sapiIndonesia dan merupakan sapi primadona untuk penggemukan,harganya mahal karena pertumbuhan badanya bisa mencapai 1,1kg per hari.



3.CHAROLAIS:sapi jenis ini juga di kembangkan di negara Perancis,warna bulu perak dan merupakan jenis paling besar di negara tersebut,sapi ini jarang di jumpai di pasar-pasar tradisional.Pertumbuhan badannya perhari bisa mencapai 1,3kg.



4.HEREFORD:sapi ini juga merupakan sapi keturunan Eropa yang dikembangkan di Inggris,berat jantan rata-rata 900kg dan betina 725kg.



5.SHORTHORN:sapi jenis ini sama dengan hereford dan juga dikembangkan di negara Inggris bobot jantan rata-rata 1100kg dan betina 850kg.



6.SIMMENTAL:sapi ini berasal dari lembah Simme negara Switzerland,tapi banyak dikembangkan di Australia dan SelandiaBaru,bobot jantan rata-rata 1100kg dan betina 800kg,sapi jenis ini banyak kita jumpai di pasar-pasar tradisional.



7.ABERDEN ANGUS:sapi ini masuk di Indonesia melalui Selandia Baru,tapi awal mulanya berasal dari Skotlandia,bobot jantan rata-rata 900kg dan betina 700kg.




8.BRANGUS:sapi ini adalah persilangan betina Brahman dan pejantan Aberden Angus.



9.SANTA GERTRUDIS:sapi ini adalah hasil persilangan antara pejantan Brahman dan betina shorthorn di kembangkan pertama kali di King Ranch Texas Amerika serikat tahun 1943 dan masuk Indonesia mulai tahun 1973,bobot jantan rata-rata 900kg dan betina 725kg.



10.DROUGHMASTER:merupakan persilangan antara betina brahman dan pejantan shorthorn,dikembangkan di Australia dan jarang sekali kita jumpai di Indonesia.

MENGAPA HARUS MEMELIHARA KAMBING BOER "DAGING UNTUK MASA DEPAN"


Oleh Dr. Ted dan Linda Shipley, Malang, Indonesia
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer" artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg pada umur lima hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 - 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% - 50% dari berat tubuhnya.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.
KARAKTERISTIK KAMBING BOER JANTAN
Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25oC) hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.
Kambing Boer jantan dapat menjadi hewan yang jinak, terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan tumbuh dengan berat badan 120 - 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun). Mereka suka digaruk dan digosok di bagian belakang telinganya, hingga punggung dan sisi perutnya. Mereka dapat mudah ditangani dengan memegang tanduknya. Mereka dapat juga dilatih dituntun dengan tali. Namun, sebaiknya jangan mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.
Boer jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 - 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 - 3 tahun) dapat melayani 30 - 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat mengawini hingga selama 7 - 8 tahun.
KARAKTERISTIK KAMBING BOER BETINA
Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 - 12 bulan, tergantung besar tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu melahirkan anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat menghasilkan 1 - 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan lemak sangat tinggi yang cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya berumur 2½ - 3½ bulan induk mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga empat puting, tetapi kadangkala tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang kawinnya tidak musiman, ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat disebut "flagging". Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5 - 8 tahun. Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 - 90 kg. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.
PERKAWINAN SILANG DENGAN KAMBING LOKAL
Kambing lokal yang dipelihara di Indonesia berasal dari berbagai varietas kambing jenis perah. Jika Boer jantan dikawinkan dengan kambing lokal, baik secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1) yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer. Besarnya tubuh dan kecepatan pertumbuhannya akan tergantung pada besarnya kambing lokal yang dikawinkan. Tergantung dari ransum pakannya, hasil silangan jantan dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg dalam waktu enam sampai delapan bulan, dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih banyak dari yang dihasilkan anak kambing lokal dengan umur yang sama. Penting untuk dipahami bahwa protein membentuk otot. Penggunaan jagung, tanaman leguminosa dan rumput lokal merupakan sumber protein alami yang sangat bagus. Pada umur satu minggu, anak kambing harus disediakan pakan dari sumber yang sama dengan induknya. Meskipun mereka masih menyusu induknya, mereka akan mulai makan hijauan pada umur sangat muda. AIR MINUM TERSEDIA SETIAP SAAT ADALAH PENTING baik untuk induk maupun anaknya.
Kami menganjurkan peternak untuk mengkastrasi/ mengebiri semua persilangan Boer jantan. Hal ini akan mengurangi perkawinan yang tidak direncanakan dan untuk menghasilkan ternak dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi dalam mempersiapkan mereka untuk dijual sebagai pedaging. Pada umur 6 - 8 bulan, kambing Boer jantan sudah siap untuk dipasarkan. Betina 50% Boer dapat didaftarkan (diregistrasikan) ke Registrasi Kambing Boer Indonesia (Indonesia Boer Goat Registry) dan akan memperoleh Sertifikat untuk membuktikan garis keturunan (bloodlines) mereka. Pada saat kambing betina 50% Boer ini berumur kira-kira satu tahun, tergantung pertumbuhannya, ia dapat dikawinkan dengan pejantan Boer dari garis keturunan yang berbeda dengan ayahnya. Anak-anak yang lahir dari 50% Boer akan menjadi 75% Boer (F2). Kambing jantan 75% Boer hendaknya dikastrasi /dikebiri dan dijual untuk dagingnya. Betina 75% Boer, saat berumur satu tahun, dapat dikawinkan dengan pejantan Boer dari garis keturunan yang berbeda dengan ayah atau kakeknya. Ia akan menghasilkan anak-anak 88% Boer (F3). Generasi selanjutnya (F4) adalah 94% Boer dan generasi kelima (F5) adalah 97% Boer. Pada generasi kelima (97%) sertifikat registrasinya akan menunjukkan ternak tersebut sebagai "Kambing Boer Bangsa Murni" ("Purebred Boer Goat").
Istilah "Kambing Boer Bangsa Murni" akan digunakan oleh Registrasi Kambing Boer Indonesia jika seekor kambing sudah mencapai paling tidak generasi kelima baik dari sisi induk maupun pejantan berdasarkan catatan silsilahnya. Istilah "Breed-up" akan digunakan jika jenis kambing lain disilangkan dengan pejantan Boer, dan setiap generasi berikutnya selalu dikawinkan dengan pejantan kambing Boer. Setiap betina breed-up dapat diregistrasi. Pejantan HANYA dapat diregistrasi jika sudah mencapai generasi kelima (97%) dan disebut sebagai "Boer Bangsa Murni" dan digunakan sebagai bibit.
REGISTRASI KAMBING BOER INDONESIA
Untuk memperoleh Registrasi Kambing Boer secara Nasional (Boer Goat National Registry) adalah sangat penting. Setiap Kambing Boer Bangsa Murni, dan juga Boer silangan akan memiliki nilai tersendiri karena mereka masing-masing memiliki Sertifikat Pengenal sendiri yang menunjukkan bukti garis keturunan dan silsilah Boer mereka. Setiap breed-up menghasilkan kambing betina yang lebih berharga. Setelah generasi kelima, baik persilangan jantan maupun betina dapat diregistrasi sebagai "Boer Bangsa Murni". Dengan demikian, para peternak di Indonesia sekarang dimungkinkan untuk memiliki baik Kambing Boer Bangsa Murni maupun silangannya.
Kelompok kambing Boer Bangsa Murni Ter-registrasi yang ada di Malang saat ini, diimpor dari Australia. Mereka aslinya berasal dari kelompok kambing kualitas unggulan teratas di Afrika Selatan. Mereka disumbangkan oleh Latter-Day Saint Charities (LDSC) kepada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Mereka mewakili enam garis keturunan kualitas atas yang berbeda. Kelompok genetik yang besar ini tersedia untuk peternak Indonesia maupun negara-negara lain di Asia. Semen kambing Boer, dan ternak hidup akan siap untuk dijual pada tahun 2005. Semuanya akan dilengkapi sertifikat registrasi yang dikeluarkan oleh Perbibitan Kambing Boer Indonesia (Indonesia Boer Goat Breeders).
"Industri Kambing Boer Indonesia memiliki masa depan yang positif dan cerah. Dengan pengenalan Kambing Boer ke Indonesia, hal ini berarti peternak sekarang dapat menghasilkan ternak pedaging kualitas teratas dalam waktu lebih singkat dengan jumlah daging lebih banyak. Pangsa pasar untuk daging kambing, baik pasar lokal atau internasional terbuka sangat lebar."

Kambing Unggul Silangan Boer dan Kacang

Kawin silang (crossbreeding) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak secara cepat. Melalui cara ini, telah dihasilkan kambing unggul Boerka, hasil persilangan pejantan Boer (tipe pedaging) dengan induk kambing Kacang (tipe prolifik, beranak banyak). Kambing hasil silangan ini lebih unggul dibanding kambing lokal, yaitu, pertumbuhannya cepat dan bobot tubuhnya lebih besar. Daya adaptasi terhadap lingkungan tropik-basah pun sangat baik.
Kambing Boerka rata-rata meliliki bobot lahir 42% lebih berat dibanding kambing kacang. Bobot lahir anak jantan kambing Boerka cenderung lebih tinggi dibanding anak betina. Sejak disapih (umur 3 bulan) hingga dewasa (> 18 bulan), bobot tubuh kambing Boerka jantan rata-rata lebih tinggi 36-45% dibanding kambing Kacang, sedangkan Boerka betina lebih tinggi 26-40%. Pada umur 12-18 bulan, kambing Boerka jantan mencapai bobot tubuh 26-36 kg atau memenuhi persyaratan ekspor. Dengan demikian, kambing Boerka berpotensi dikembangkan secara komersial untuk tujuan ekspor.
Tingkat pertumbuhan anak kambing Boerka prasapih rata-rata 118 g/hari, jauh lebih tinggi dibanding anak kambing Kacang yang hanya 52-70 g/hari. Laju pertumbuhan kambing Boerka selama pasca sapih juga lebih tinggi dibanding kambing Kacang. Pada umur 3-6 bulan, misalnya, laju pertumbuhan kambing Boerka lebih tinggi rata-rata 42% dibanding kambing Kacang. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi memungkinkan kambing Boerka mencapai bobot potong pada umur yang lebih muda.
Karkas kambing Boerka lebih baik dibanding kambing Kacang, namun kandungan nutrisi maupun sifat fisik relatif sama. Mutu karkas kambing Boerka termasuk mutu I, sama dengan kambing Kacang. Daging agak lembap, tekstur lembut dan kompak, warna merah khas daging, lemak panggul tebal, dan bau spesifik. Dengan karakteristik seperti itu, daging kambing Boerka akan diterima konsumen seperti halnya daging kambing Kacang.
Untuk mempercepat produksi dan penyebarluasan kambing Boerka, Loka Penelitian Kambing Potong membina kerja sama dengan pihak lain. Saat ini kerja sama dijalin dengan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara untuk jangka waktu 5 tahun. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan kambing Boerka dapat memenuhi permintaan daging terutama di Sumatera Utara.

BIOGAS DAN SEGALA SESUATUNYA


           Oleh : Yudi Susetyo
Alamat :
Ds Meles RT 01/RW 04 No. 16
Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen
Jawa-Tengah Indonesia
e-mail:yudhis_kbm@yahoo.com
ABSTRAK
Pembuatan biogas dari kotoran sapi menggunakan digester drum oli dengan volume konstruksi minimal, lumpur kotoran sapi dicampur dengan bahan yang bisa menambah volume produksi biogas disertai dengan penambahan instalasi pereduksi gas CO2 dan H2S yang bertujuan untuk meningkatkan daya bakarnya.
Gambar 1: (Portable biodigester ) Telah mendapatkan
Penghargaan Gubernur Jawa Tengah Bp Ali Mufiz
Program Krenova Jateng Tahun 2008
I. PENDAHULUAN
Hewan ternak ruminansia besar (sapi, dan kerbau) rata-rata dimiliki oleh perorangan skala rumah- tangga dengan kepemilikan antara 1 sampai dengan 2 ekor. Kotoran hewan ini memiliki manfaat untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organic. Jika setiap ekor mampu menghasilkan 400 liter biogas setiap hari, artinya bisa menggantikan beban energi rumah tangga kecil dalam satu kali masak.
Disamping kotoran ternak limbah organik lain yang dihasilkan oleh masyarakat juga bisa diolah menjadi biogas seperti limbah tahu, kotoran manusia, juga segala bahan organik yang bisa membusuk itu bisa diolah menjadi biogas. Energi alternative biogas dari kotoran ternak telah lama dikenal oleh masyarakat kita, namun teknis dan cara pembuatan dan pemanfaatanya umumnya masyarakat kurang memahami, apalagi bagaimana menyiasati secara praktis sehingga lebih bermanfaat tentunya masih asing lagi.
Teknik-teknik
pengolahan
biogas
yang diperkenalkan kepada masyarakat juga masih sangat sederhana namun menghabiskan biaya yang sangat mahal. Teknologi tepat guna untuk masyarakat peternak pedesaan ini justru menjadi teknologi yang asing sehingga harganya mahal.
Ada beberapa kalangan mulai mengolah biogas menjadi gas dengan daya bakar yang setidaknya sama atau mendekati layaknya gas LPG, sehingga biogas juga perlu direduksi kandungan gas polutan yang tidak bisa terbakar yaitu CO2, H2S, dan Uap air H2O. Ada beberapa teknik purifikasi biogas, namun diperkenalkan disini teknik yang mudah dipahami dan mudah dipraktekan dengan biaya yang relatif murah.
II. TINJAUAN
1. Bio-gas
Biogas adalah bahan bakar hidro-karbon dengan komposisi terbanyak adalah gas metana dengan rumus kimia paling sederhana yaitu CH4, sedangkan bahan bakar hidrokarbon yang dari fosil bumi; bensin C6H14, minyak tanah C9H20, solar C16H34. Bio-gas diproduksi langsung melalui proses bio- kimia yang mana dilakukan oleh bakteri yang merubah sampah biologi menjadi biogas. Prosesnya meliputi 2 tahap yaitu tahap asidifikasi, dan pembentukan gas metan (metanasi). Dalam proses asidifikasi didahului proses pelarutan bahan organic dari komplek menjadi sederhana (hidrolisis) yang akhirnya terbentuklah asam organic, CO2, H2, NH4, dan H2S. Asam organic inilah yang akan menjadi bahan untuk terbentuknya gas metan oleh methanogenic bacteria dalam tahap metanogenik.
Biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik akan memiliki komposisi gas lain yang umumnya terdiri atas : CH4 atau methane (60-70%), CO2 atau karbon dioksida (20-30%), O2 (1-4%), N2 (0,5-3%), CO atau karbon monoksida (1%), dan H2S (kurang dari 1%). Komposisi ini bervariasi tergantung sumber bahan organik yang difermentasi.
Campuran gas bio ini menjadi mudah terbakar karena kandungan utamanya adalah gas metana. Namun terdapat kandungan gas CO2 dalam prosentase 20-30% yang tidak bisa terbakar, sehingga keberadaanya akan mempengaruhi daya bakar CH4 (metana) itu sendiri. Dengan menghilangkan kandungan gas polutan CO2 tersebut, akan berakibat pada peningkatan komposisi gas yang mudah terbakar (CH4). Demikian halnya dengan polutan gas H2S atau hidrogen sulfida yang memiliki ciri-ciri bau seperti kentut, dan bersifat merusak peralatan dari logam.
2. Faktor-Faktor Umum Yang
Mempengaruhi Proses Produksi biogas
1
Suhu campuran;
Gas metana optimum dapat diproduksi dalam temperatur antara 25?C– 60?C. Semakin tinggi temperatur laju produksi biogas semakin melipat banyaknya. Reactor biogas sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak tembus sinar namun mudah menyerap panas dari luar atau panasnya sinar matahari, Jadi kondisinya gelap namun bersuhu hangat. Karena bakteri pengolah biogas sangat sensitive terhadap sinar. Dan umumnya proses anaerobik berlangsung optimum di range suhu 20?C hingga 60?C. Terbukti dengan konstruksi digester dari drum dengan suhu terik matahari yang panas diatas 50?C proses produksi biogas justru berjalan dengan cepat.
Nutrisi organic ;Bakteri Anaerobik membutuhkan
nutrisi sebagai sumber energi. Apabila terjadi kekurangan nutrisi akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan bakteri. Namun kotoran sapi memberikan jumlah nutrisi yang mencukupi. Pola makan sapi yang memakan ampas tahu, katul, daun- daun yang banyak mengandung protein seperti pete cina, daun kacang tanah, daun kacang hijau, kedelai kotoranya lebih banyak menghasilkan biogas, jika dibandingkan pola makan sapi dengan budaya masyarakat memberi makan ternak dengan jerami padi.
Kandungan Nitrogen dan rasio C/N;
Mikroorganisme membutuhkan nitrogen dan karbon. Karbon digunakan sebagai sumber energi sedangkan nitrogen digunakan untuk membangun struktur sel. Bakteri penghasil metana menggunakan karbon (C) 30 kali lebih cepat daripada nitrogen (N). Sehingga bahan dengan kandungan C/N yang jauh diatas angka 30 proses produksi gas lebih lambat dan sedikit, maka campuran perlu ditambahkan pupuk urea
dengan
komposisi
percobaan.
Atau mencampurkan bahan dengan air darah sisa pemotongan ayam, bisa juga mencampurkan bahan yang memiliki nilai C/N ratio jauh dibawah angka 30. Sebaliknya juga dengan kandungan C/N yang dibawah angka 30 proses produksi gas juga tidak optimum karena carbon (C) habis terlebih dahulu. Sehingga perlu dicampuri dengan bahan-bahan biomassa dan crop residu yang berwarna coklat dengan butiran yang lembut karena umumnya bahan-bahan ini banyak mengandung karbon misal; katul, rumput kering, serbuk gergajian kayu. Untuk menciptakan unsur karbon yang jelas banyak adalah mencampurkan bahan dengan gula pasir.
Derajat Keasaman (pH);
Pertumbuhan bakteri penghasil gas metana akan baik bila pH bahannya pada keadaan (basa) yaitu 6,5 sampai 7. Bila proses fermentasi berlangsung dalam keadaan normal dan anaerobik, maka pH akan secara otomatis berkisar antara 7 – 8,5. Pada awal fermentasi yaitu pada tahap asidifikasi dalam kurun
waktu kurang dari 3 hari yaitu hari pertama dan kedua sebaiknya lumpur baru jangan dicampur dengan lumpur lama karena pada tahap asidifikasi pH akan bernilai rendah. Sebaiknya digester dibagi menjadi 2 skat dimana pada sekat pertama memiliki retention time (waktu tinggal 2 gari). Sehingga tahap metanogenik tidak terganggu oleh asidifikasi. Jangan memasukkan bahan yang bersifat asam atau garam akan mempengaruhi proses anaerobik.
Kandungan material padat;
Kerja bakteri membutuhkan keberadaan air sebagai penyampur dan pelarut (hidrolisis). Produksi biogas akan berjalan normal jika prosentase kandungan padatan kurang lebih 7%. Kotoran sapi dituang kedalam digester harus dicampur dengan air dengan perbandingan volume antara 1:1,5 s/d 1:3. Berdasarkan 

BETERNAK dan BISNIS SAPI POTONG

Bisnis peternakan sapi potong di Indonesia  telah  lama dikenal masyarakat. Agar bisnis ini dapat memberikan keuntungan yang optimal  bagi  pemiliknya maka perlu diperhatikan bebrapa hal yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak sapi potong, antara lain :
1. Seleksi Bibit
a. Pejantan : Seleksi menyangkut kesehatan fisik, kualitas semen dan kapasitas servis.
b. Betina        : Seleksi menyangkut kondisi fisik dan kesehatan, kemiringan vulva tidak terlalu keatas, mempunyai puting 4 buah, bentuk ambing relatif besar dengan bentuk yang simetris.
2. Pakan
Pakan untuk ternak sapi potong dapat berupa Hijauan (rumput, kacang-kacangan dan limbah pertanian), konsentrat (dedak padi, onggok, ampas tahu)  dan makanan tambahan (vitamin, mineral dan urea.).
Secara umum jumlah makanan yang diberikan untuk seekor sapi setiap hari adalah sebagai berikut : – Hijauan : 35 – 47 Kg, atau bervariasi menurut berat dan besar badan.
-  Konsentrat : 2 – 5 kg
- Pakan tambahan :  30 – 50 gr.
3. Kandang
a. Syarat Kandang
- Bahan kandang dari kayu/ bambu serta kuat
-Letak kandang terpisah dari rumah dan jaraknya cukup jauh
-Lantai dari semen/tanah yang dipadatkan, dan harus dibuat lebih tinggi dari tanah sekitarnya.
-Ventilasi  udara dalam kandang harus baik.
- Drainase di dalam dan luar kandang harus baik.
b. Ukuran kandang
- Sapi betina dewasa 1,5 X 2 m/ekor
-Sapi jantan dewasa 1,8 X 2 m/ekor
-Anak sapi 1,5 X 2 m/ekorS
4. Sistem Perkawinan
a. Hand Mating
Kawin alam yang teratur dimana sapi betina birahi dibawa ke tempat pejantan untuk dikawinkan atau di IB.
b. Pasture Mating Jantan dan betina kawin alam di padang pengembalaan
c. Mengetahui Tanda Birahi
tanda-tanda birahi yaitu ; selalu gelisah, mencoba menaiki sapi lain, vulva membesar dan kemerahan serta keluar cairan lendir, nafsu makan menurun.
d. Mengetahui Tanda-tanda      Melahirkan
Tanda melahirkan seperti urat daging sekitar vulva mengendor, dikiri kanan pangkal ekorkelihatan legok, ambing membesar dan tampak tegang, sapi gelisah dll.
5. Kesehatan Hewan
Tindak pencegahan :
a. Hindari kontak dengan ternak sakit
b. Kandang selalu bersih c. Isolasi sapi yang di duga kena penyakit agar tidak menular ke sapi yang lain
d. Mengadakan tes kesehatan, khususnya penyakit  Brucellosis dan Tuberculosis.
e. Desinfektan kandang dan peralatan
f. Vaksinasi teratur.
Perhitungan Bisnis
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25
ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp.    48.750.000,-
b. Kandang Rp.      1.000.000,-
c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari Rp.    12.000.000,-
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari Rp.      7.482.500,-
d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp.          75.000,-
Jumlah biaya produksi  Rp.    69.307.500,-
2) Pendapatan :
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahu: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg Rp.  111.110.000,-
b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp.      1.095.000,-
Jumlah Pendapatan Rp.  112.205.000,-
3) Keuntungan
Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan
Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. Rp.    42.897.500,-
4) Parameter kelayakan bisnis
a. B/C ratio = 1,6

Analisis Kandungan Nitrogen dalam Pupuk Urea

experiment report by gusnila’s team work ( gusnilawati, ika sri sulfiana, mia oktarina,rianti sihaloho)

BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar belakang
Tanah sebagai media tumbuh tanaman mempunyai fungsi menyediakan air,udara dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhan tanaman, namun demikian kemampuan tanah menyediakan unsur hara sangat terbatas. Hal ini terbukti dengan pemakaian tanah yang terus menerus secara intensif tanpa penambahan unsur hara mengakibatkan merosotnya produktifitas tanah, menurunkan hasil panenan dan rusaknya sifat fisik,kimia dan biologi tanah dan kesuburan tanah. Meskipun peranan nitrogen sebagai unsur hara esensial tanaman telah dikenal, namun selama bertahun-tahun kebutuhan suplai pupuk ini masih menduduki urutan nomor dua. Suplai yang diperoleh secara alami melalui sistem rotasi tanaman masih dianggap cukup. Pengambilan sisa tanaman serta bahan-bahan buangan turut membantu suplai nitrogen. Suplai alami demikian ditambah pula dengan pemberian pupuk nitrogen dalam jumlah kecil yang berasal dari guano, nitrat soda serta berbagai sisa buangan organik. Meningkatnya perkembangan populasi manusia yang mendorong meningkatkan kebutuhan pangan dunia akan berarti pula peningkatan suplai nitrogen. Penelitian dibeberapa negara menekankan pada fiksasi nitrogren atmosfir. Kombinasi nitrogen dan oksigen menghasilkan nitrogen monoksida (NO) pada temperatur tinggi (kira-kira 32500c) dalam suatu tanur listrik arc. Pada temperatur lebih rendah NO akan bereaksi dengan O2 membentuk nitrogen dioksida (NO2), yang mengalami hidrasi dalam keadaan kelebihan udara untuk membentuk asam nitrat, yang selanjutnya akan diubah menjadi Ca-nitrat dalam reaksinya dengan kapur.
Sintesis ammonia dari nitrogen dan hidrogen secara langsung dilakukan dengan berhasil secara komersil di Jerman tahun 1913. sesudah perang dunia pertama banyak pabrik didirikan dibeberapa negara, sebagian besar diantaranya dalam sintesis hidrogen dan nitrogrn berasal dari reaksi antara arang batu dengan uap air dan udara dalam pembentukan pupuk N.
Banyak ammonia yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan bahan-bahan kimia lainnya atau bahan-bahan lain. Pengunaan pupuk masih kecil sebab bahan kimia nitrogen masih terlalu mahal untuk digunakan di dalam usaha pertanian. Pupuk hayati adalah mikroba ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak, tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan, sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati Pada daerah dimana pupuk nitrogen secara luas digunakan, sumur-sumur perumahan yang ada disana hampir pasti tercemar oleh nitrat. Diperkirakan 14 juta rumah tangga di Amerika Serikat menggunakan sumur pribadi untuk memenuhi kebutuhan air minumnya (Badan Sensus Amerika Serikat 1993). Pada daerah pertanian, pupuk nitrogen merupakan sumber utama pencemaran terhadap air bawah tanah yang digunakan sebagai air minum. Sebuah penelitian oleh United States Geological Survey menunjukkan bahwa > 8200 sumur di seluruh AS terkontaminasi oleh nitrat melebihi standar air minum yang telah ditetapkan oleh Envrironmental Protection Agency (EPA), yaitu 10 ppm. Sumber nitrat lainnya pada air sumur adalah pencemaran dari sampah organik hewan dan rembesan dari septic tank (hbiofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah, disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Sumber utama N berasal dari gas N2 dari atmosfir. Kadar gas nitrogen di atmosfir bumi seki¬tar 79% dari volumenya. Walaupun jumlahnya sangat besar tetapi belum dapat dimanfaatkan oleh tanaman tingkat tinggi, kecuali telah menjadi bentuk yang tersedia.
Proses perubahan tersebut:
• Penambatan oleh mikrobia dan jazad renik lain. Jazad renik ada yang hidup simbiotis dengan tanaman tanaman legum (kacang-kacangan) maupun tanaman non legum,
• Penambatan oleh jazad-jazad renik yang hidup bebas di dalam tanah atau yang hidup pada permukaan organ tanaman seperti daun.
• Penambatan sebagai oksida karena terjadi pelepasan muatan listrik di atmosfir.
Pemberian pupuk kedalam tanah akan meningkatkan kandungan unsur hara didalam tanah yang dapat segera diserap akar tanaman, namun demikian pemberian pupuk itu mempengaruhi kondisi tanah. Hal itu terjadi karena pengaruh dari sifat-sifat, macam atau jenis pupuk yang diberikan. Setiap pupuk yang ditambahkan kedalam tanah akan mengalami berbagai macam reaksi. Reaksi-reaksi tersebut akan berpengaruh terhadap sifat fisika, kimia dan biologi tanah.
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah dalam makalah ini adalah:
  1. Bagaimana pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah.
  2. Bagaimana cara meningkatkan kesuburan tanah dengan menggunakan pupuk yang mengandung nitrogen.
  3. Manakah kandungan pupuk yang terbanyak mengandung unsure nitrogen dalam sampel pupuk yang diberikan.
  4. Berapakah kandungan pupuk yang diberikan pada masing- masing sampel.
C. Batasan masalah
Demi terarahnya penulisan dalam makalah ini, maka penulis membatasi masalah pada:
  1. Penentuan  kandungan/ kadar  pupuk nitrogen dalam sampel yang diberikan.
  2. Meninjau  mekanisme serta reaksi dalam penentuan kadar nitrogen dalam pupuk pada masing- masing sampel yang diberikan.
D. Rumusan masalah
Dari batasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Berapakah kadar nitrogen dalam pupuk yamng diberikan.
  2. Bagimana mekanisme dan reaksi dalam penentuan kadar nitrogen dalam pupuk.
E. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
  1. Mengetahui kadar unsure nitrogen dalam sampel pupuk.
  2. Mengetahui mekanisme dan reaksi yang terjadi selama penentuan kadar nitrogen dalam sampel pupuk.
F. Manfaat percobaan
Adapun manfaat percobaan ini adalah :
  1. Membantu mengetahui pupuk mana yang mengandung banyak nitrogen dan dapat dipergunakan sebagimanamestinya.
  2. Membantu praktikan sendiri dalam  mengetahui reaksi  dan mekanisme yang terjadi selama percobaan sehingga dapat mengembangkan untuk penelitian  yang lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. Pengertian Pupuk dan Pemupukan
Pupuk urea adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk Urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2 CONH2,
merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan di tempat kering dan tertutup rapat. Pupuk urea mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea mengandung 46 kg Nitrogen.
Kegunaan nitrogen dalam pupuk urea
Unsur hara Nitrogen yang dikandung dalam pupuk Urea sangat besar kegunaannya bagi tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan, antara lain:
  1. Membuat daun tanaman lebih hijau segar dan banyak mengandung butir hijau daun (chlorophyl) yang mempunyai peranan sangat panting dalam proses fotosintesa
  2. Mempercepat pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah anakan, cabang dan lain-lain)
  3. Menambah kandungan protein tanaman
  4. Dapat dipakai untuk semua jenis tanaman baik tanaman pangan, holtikultura, tanaman perkebunan, usaha peternakan dan usaha perikanan
Gejala kekurangan unsure hara nitrogen
  1. Daun tanaman berwarna pucat kekuning-kunigan
  2. Daun tua berwarna kekuning-kuningan dan pada tanaman padi warna ini dimulai dari ujung daun menjalar ke tulang daun
  3. Dalam keadaan kekurangan yang parah daun menjadi kering dimulai dari daun bagian bawah terus ke bagian atas
  4. Pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil
  5. Perkembangan buah tidak sempurna atau tidak baik, sering kali masak sebelum waktunya
Nitrogen dalam urea dihidrolisis dengan H2SO4 dan NH3 yang terbentuk didestilasi dari larutan alkali.
Destilat ditampung dalam larutan H2SO4 dan kelebihan asam dititrasi kembali. Titik akhir titrasi tercapai bila warna lembayung dari indicator campuran merah metal biru metal, berubah menjadi lembayung kehijauan.
Pengertian pupuk secara umum ialah : suatu bahan yang bersifat organic ataupun anorganik, bila ditambahkan kedalam tanah atau ke tanaman, dapat memperbaiki sifat fisik, sifat kimia, sifat biologi tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Dari batasan ini diambil pengertian bahwa penambahan bahan pasir ke tanah yang mengandung kadar liat yang tinggi dapat merobah sifat fisis tanah yakni adanya perbaikan porositas tanah. Penambahan bahan kapur ketanah yang masam dapat meningkatkan pH tanah, terjadi perbaikan sifat kimiawi tanah dan penambahan bahan lainnya. Disini pasir dan kapur termasuk bahan pupuk dalam arti luas (Hasibuan,2006).
Pemupukan berarti Cara-cara atau motode serta usaha-usaha yang dilakukan dalam pemberian pupuk atau unsure hara ke tanah atau ketanaman yang sesuai yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman normal (Hasibuan,2006). Sumber unsur nitrogen sebenarnya cukup banyak terdapat di atmosfir, yaitu lebih kurang 79,2 persen dalam bentuk N2 bebas, namun demikian unsure N ini baru dapat digunakan oleh tanaman setelah mengalami perubahan kebentuk yang terikat yang kemudian dalam bentuk pupuk. Sumber utama dari Nitrogen berasal dari N2 atmosfir yang terikat. Untuk pembuatan pupuk adalah nitrogen dalam bentuk amoniak(Hasibuan,2006).
  1. Pembuatan Pupuk Nitrogen
Hingga sekarang diketahui ada tiga cara pengikatan nitrogen bebas udara yang telah dikembangkan yaitu :
1.Cara electric arc
2. Cara pembuatan kalsium sianamida
3. Cara fiksasi N udara dan membentuk ammoniak
3. Macam Pupuk Nitrogen
Dalam klasifikasi pupuk, pupuk nitrogen ialah pupuk yang mempunyai komponen utama unsure N sebagai unsure hara, pupuk N terdiri dari :
1. Pupuk N organic yang terdapat pada pupuk-pupuk organic
2. Pupuk N organic buatan kedua golongan pupuk tersebut diatas dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
1. Bentuk organic
2. Bentuk ammonia (NH4+) dan
3. Bentuk nitrat (NO3-)Sedangkan pupuk-pupuk Cyanamide (CaCN2) dan Urea CO(NH2)2, karena bila diberikan kedalam tanah siap dirubah menjadi senyawa ammonia, maka dimasukkan kedalam golongan senyawa N berbentuk ammonia (Hasibuan,2006)
Ammonium Sulfat
Pupuk ammonium sulfat dikenal juga dengan nama ZA (Zwavelzure Amonium). Pupuk ZA yang diperdagangkan dalam bentuk kristal, umumnya berwarna putih, tapi ada juga yang berwarna abu-abu, biru kabuan dan kuning, tergantung kepada pembuatannya. ZA yang diperdagangkan mengandung 97 persen (NH4)2SO4 dan tidak mengandung sekitar 20.5% sampai 21% tapi dalam perhitungan biasanya dibuat 20%. Pupuk ini termasuk kedalam pupuk yang larut didalam air, dan didalam tanah terionisasi menjadi ion ammonium (NH4) dan ion-ion sulfat dengan rumus (SO42-).(Hasibuan,2007)
Ammonium Chlorida ( NH4CL)
Pupuk ammonium chlorida adalah pupuk berbentuk kristal berwarna putih. Pupuk ini mempunyai kadar N sebanyak 26%. Larut didalam air. Didalam tanah akan terionisasi menjadi ion NH4 dan Cl-. Seperti halnya dengan pupuk ZA, ion ammonium dapat langsung diserap tanaman dan sebagian akan dijerap oleh koloid tanah pada permukaan (Hasibuan,2006)
Ammonium Nitrat (NH4NO3)
Pupuk ammonium nitrat adalah pupuk yang dapat menyumbangkan dua jenis hara N dalam bentuk ammonium dan nitrat. Pupuk ini mempunyai kadar N sebanyak 33%, termasuk pupuk yang larut didalam air. Berntuk pupuk ialah padat dan kristalin dan berwarna putih, tidak higrokopis dan berkerja cepat (Hasibuan,2006)
Ammonium Sulfat Nitrat ( ASN)
Ammonium Sulfat Nitrat adalah pupuk yang diproduksi oleh Ruhr-sticstoff A.G.Jerman, merupakan garam rangkap dari ammonium sulfat dan ammonium nitrat. Pupuk ini diperdagangkan dalam bentuk kristal berwarna seperti kuning kemerah-merahan (Hasibuan,2006).
Urea CO(NH2)2
Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organic dari CO(NH2)2, pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter lebih kurang 1 mm). Pupuk ini mempunyai kadar N 45%-46%. Urea larut sempurna di dalam air, dan tidak mengasamkan tanah. Sifat urea lain yang tidak menguntungkan adalah sangat higrokopis dan mulai menarik air dari udara pada kelembaban nisbi 73 persen(Hasibuan,2006).
Pupuk Cyanamide
Pupuk cyanamide dan pupuk urea dikenal sebagai pupuk organic buatan. Contoh pupuk cyanamide ialah CaCN2 dibuat dengan memanasi kapur (lime) dengan kokas ( coke) (Hasibuan,2006).
Pupuk Kalsium Ammonium Nitrat
Pupuk ini meruoakan campuran dari ammonium nitrat dengan bubuk tanah liat (kapur mergel). Campuran ini dimaksudkan untuk meniadakan keburukan-keburukan ammonium nitrat. Kalsium ammonium nitrat mengandung 20,5% N dan 30-35% CaCO3. diperdagangkan dalam bentuk butiran-butiran kuning muda dan hijau (Hasibuan,2006).
Pupuk Natrium Nitrat (NaNO3)
Natrium nitrat juga dikenal dengan nama Chilisalpeter. Disebut dengan chilisalpeter karena pada awalnya pupuk ini merupakan produk alam, yang didapatkan dari endapan didalam tanah didaerah pantai utara chili, peru dan Bolivia dan dipantai barat Amerika Serikat. Sekarang pupuk NaNO3 telah dibuat secara sintetis melalui proses ammonia soda sejalan dengan cara pembuatan ammonium chlorida, yaitu dengan caraproses Solvay (Proses ammonia soda) dengan larutan garam (Hasibuan,2006).
Reaksi pupuk Nitrogen di dalam Tanah. Apabila pupuk ditambahkan kedalam tanah maka pupuk akan mengalami reaksi atau perubahan baik dalam bentuk fisik dan sifat kimianya. Perubahan-perubahan ini mulai terjadi apabila pupuk itu bereaksi dengan air tanah. Setelah bereaksi dengan air pupuk akan melarut, sebagian pupuk akan diserap akar tanaman, sebagian ada terfiksasi menjadi bentuk tidak tersedia untuk tanaman, hilang melalui proses denitrifikasi (pupuk N), tercuci (leaching) tereosi dan serta terjadinya penguapan (volatilisasi) (Hasibuan,2006).
Penambat N yang hidup bebas
Penambatan nitrogen dalam tanah dilakukan juga oleh jasad renik yang hidup bebas, artinya tidak bersimbiosis dengan tanaman inang. Jasad tersebut antara lain adalah ganggang hijau-biru (Chyanophiceae) dan bakteri yang hidup bebas. Bakteri yang hidup bebas ialah Rhodospirillum sp. yang fotosintetis, Clostridium yang merupakan jasad bersifat anerob serta Azoto¬bacter dan Beiyerinckia yang aerob.(Anonim,2007). Ganggang biru hijau hidup pada berbagai keadaan lingkungan, bahkan pada permukaan batu di lahan gurun pasir yang gersang. Dia bersifat auototrof sempurna dan hanya memerlukan sinar matahari, air, nitrogen bebas, karbon dioksida dan garam-garam yang mengandung hara mineral penting. Karena ganggang memerlukan sinar matahari maka diduga hanya sedikit pengaruhnya terhadap penambahan unsur N dalam tanah pertanian yang diusahakan di dataran tinggi. Manfaat lain yang diperoleh dari ganggang hijau-biru ini ialah terjadinya pelapukan secara biologis sehingga menjadi lebih terbukanya kehidupan lain pada permu¬laan genesa tanah.(Sanchez,1992). Dipandang dari segi pertanian penambatan nitrogen oleh bakteri yang hidup bebas di dalam tanah mempunyai peranan lebih penting dibandingkan ganggang hijau-biru. Jasad-jasad ini, kecuali Rhodospirillum, menghendaki adanya sumber tenaga berupa sisa tanaman atau hewan. Sebagian tenaga hasil oksidasi ini digunakan untuk menambat nitrogen dari udara bebas. Kemampuan maksimum penambatan nitrogen oleh jasad ini berkisar 20 sampai 40 kg per hektar N per tahun (Anonim,2007).
Disamping bakteri penambat yang bersimbise ada mikrobia yang hidup bebas mikrobia dan ganggang biru (blue green algae) yang mampu menambat N udara. Nama Sifat umum
Azotobakter Aerobik, hidup di dalam tanah, air dan permukaan daun Azospitillum Mikro-aerobik, hidup bebas atau asosiasi dengan akar tanaman. Actinimycetes Menambat N dan simbiosis dengan non legum misalnya Casuarina, Myrica Blue green algae Hidup di air atau daratan, mengandung khlorofil
Selama berabad-abad penggunaan legum (kacang-kacangan) dalam pergiliran tanaman serta penggunaan pupuk kandang merupakan cara-cara yang penting dalam penyediaan nitrogen tambahan pada tanaman non legum. Meskipun masih merupakan sumber nitrogen yang besar sumbangannya bagi pertumbuhan tanaman, selama beberapa dekade sekarang ini sumber nitrogen kacangan-kacangan dan pupuk kandang makin hari makin menurun peranannya. Jumlah nitrogen yang ditambat oleh rhizobia sangat bervariasi tergantung strain, tanaman inang serta lingkungannya termasuk ketersediaan unsur hara yang diperlukan. Selandia Baru merupakan negara yang sangat mementingkan penggunaan pupuk nitrogen berasal dari penambatan N dari atmosfir (Anonim,2007).
Pertanian Organik cegah kontaminasi nitrat pada air. Walaupun dapat meningkatkan produksi hasil tanam, penambahan nutrisi (pupuk) pada tanah juga dapat melepaskan nutrisi, dan mencemari suplai air. Studi terbaru para peneliti di University of Minnesota menunjukkan, praktik pertanian alternatif dapat membantu melindungi lingkungan dengan mengurangi kadar nitrat pada air permukaan dan tanah yang disebabkan pemakaian pupuk secara dan dengan konvensional (Anonim,2007). Nitrogen adalah salah satu elemen terpenting yang dibutuhkan dalam produksi sistem pertanian. Ketika perlakuan dengan sejumlah pupuk nitrogen untuk mengoptimalkan lahan tanaman dan meminimalkan kerusakan lingkungan, sebagian besar nitrogen menimbulkan lepasnya nitrat (Anonim,2007). Nitrat berasal dari nitrogen, lepas melalui air tanah. Di wilayah dimana drainase di bawah permukaan tanah digunakan dalam pertumbuhan tanaman, kadar nitrat yang tinggi dialirkan ke hilir. Kontaminasi nitrat pada air dapat mengakibatkan air menjadi sangat serba kekurangan oksigen (hypoxic) dan menekan kehidupan air di hilir ( Anonim,2007). Pada daerah dimana pupuk nitrogen secara luas digunakan, sumur-sumur perumahan yang ada disana hampir pasti tercemar oleh nitrat. Diperkirakan 14 juta rumah tangga di Amerika Serikat menggunakan sumur pribadi untuk memenuhi kebutuhan air minumnya (Badan Sensus Amerika Serikat 1993). Pada daerah pertanian, pupuk nitrogen merupakan sumber utama pencemaran terhadap air bawah tanah yang digunakan sebagai air minum. Sebuah penelitian oleh United States Geological Survey menunjukkan bahwa > 8200 sumur di seluruh AS terkontaminasi oleh nitrat melebihi standar air minum yang telah ditetapkan oleh Envrironmental Protection Agency (EPA), yaitu 10 ppm. Sumber nitrat lainnya pada air sumur adalah pencemaran dari sampah organik hewan dan rembesan dari septic tank(Anonim,2007).
BAB III
METODE DAN BAHAN
  1. Tempat
Laboratorium kimia analitik jurusan kimia universitas negeri padang.
  1. Persiapan sampel
Sampel diambil dari salah satu toko pupuk pasar raya, Padang
  1. Alat dan bahan
ALAT
  • Labu kjeldhal
  • Erlenmeyer
  • Unit destilasi lengkap
  • Buret
  • Pipet tetes
  • Gelas ukur
  • Corong
  • Pemanas
BAHAN
  • H2SO4 pekat (sg 1.84)
  • Larutan 0.25 N H2SO4
  • Larutan 0.25 N NaOH
  • Larutan NaOH 40%
  • Indicator campuran merah metil biru metil
  • Indicator phenolphthalein
  1. Prosedur
PROSEDUR KERJA
a)      Timbang 5 gram sampel dan masukkan ke dalam labu kjeldahl
b)      Tambahkan 25 mL H2SO4 pekat dengan gelas ukur dan didihkan dengan nyala api kecil selama 1 jam
c)      Setelah dingin encerkan dengan air suling dan pindahkan ke dalam labu ukur500 mL sampai tanda garis dan kocok hingga serba sama.
d)     Pipet 25 mL larutan tersebut kedalam labu destilasi dan tambahkan air suling hingga isinya menjadi 300 Ml
e)      Siapkan alat destilasi dan larutan ini didestilasi
Destilat di tampung ke dalam 50 mL 0.25 N H2SO4 dalam Erlenmeyer 500 mL yang mengandung beberapa tetes indicator campuran merah metil biru metil, ujung pendingin harus tercelup dalam larutan penampung.
f)       Sebelum larutan didstilasi, tambahkan NaOH 40% kedalam labu destilasi sampai larutan berwarna merah (indicator phenophtalein).penambahan NaOH harus secara cepat.
g)      Hentikan destilasi setelah Erlenmeyer berisis sekitar 400mL destilat
h)      Titer kelebihan 0.25 N H2SO4 dengan 0.25 N NaOH hingga titik akhir titrasi tercapai dan catat volume 0.25 N NaOH yang dipakai
i)        Lakukan titrasi blangko seperti diatas.

BAB IV
PEMBAHASAN
Pupuk urea adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen. (N) berkadar tinggi. Pupuk Urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2 CONH2, merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis). Pupuk urea yang dijual di pasaran biasanya mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea mengandung 46 kg Nitrogen ( Hasibuan,2006).
Penentuan kadar nitrogen dalam pupuk urea,sangat penting dalam kimia analisis,hal ini berkaitan dengan analisis kuantitatif yang sangat bermanfaat bagi umat manusia,khususnya untuk membudidayakan tanaman atau analisis terapan lainnya.
Penambahan H2SO4 pekat dan dipanaskan selama satu jam bertujuan agar gas dari asam tersebut keluar,setelah satu jam larutan pupuk yang terlarut dalam H2SO4 pekat berwarna hijau dan tidak menimbulkan gas lagi jika dipanaskan. Destilasi dilakukan untuk mengeluarkan gas ammonia dari larutan yang telah diencerkan dari larutan H2SO4 pekat yang berisi pupuk tersebut.,gas ammonia yang dikeluarkan,sebagai destilat di tampung dalam 50 mL H2SO4,indicator yang digunakan adalah campuran metilen red dan metilen blue.ujung pendingin harus tercelup ke larutan penampung.hal ini supaya ammonia yang dihasilkan terperangkap atau bereaksi sempurna dengan H2SO4. Destilasi dilakukan pada suhu konstan 1000 C , Setelah beberapa tetesan dari hasil destilasi tertampung dalam larutan H2SO4,praktikan mentitrasi kelebihan H2SO4 dengan NaOH  0,25 N. Praktikan mengamati titik akhir dicapai pada saat campuran indicator metal red dan metal blue menjadi warna hijau. Kemudian praktikan menghitung berapa kadar nitrogen dalam pupuk tersebut dengan rumus yang telah diberikan. Untuk factor pengenceran praktikan mengambil 12.5 mL dari 250 mL sampel yang telah disiapkan dalam labu ukur 250 mL.berarti disini factor pengenceran adalah 20 kali. Sehingga praktikan mendapatkan persen nitrogen yang terkandung dalam pupuk urea adalah:
x 100 %
Dimana:           V1 (volume NaOH 0,25N untuk titrasi blanko)
V2 (volume NaOH 0,25N untuk titrasi sampel )
F (factor pengenceran )
N Normalitas NaOH yang digunakan
Total nitrogen =  x 100%= 45.05 %
Angka 14.007 adalah bobot atom nitrogen
Urea yang dianalisis disini adalah kandungan /kadar nitrogen yang terdapat dalam pupuk ini,hasilnya didapat beberapa data yang berbeda dalam analisis tersebut.
Pada percobaan ini reaksi dalam prosedur sebagai berikut:
CO(NH2)2 + 2H2SO4 2   ……..       NH3(aq) +2 SO2(g) + CO(g)
Gas belerang dioksida dan karbon monoksida keluar pada waktu pemanasan. Larutan amoniak diencerkan dengan aquades dan didestilasi. Gas ammonia yang dihasilkan ditampung dalam tabung Erlenmeyer yang berisi H2SO4. Kelebihan H2SO4 setelah masukknya gas ammonia dititrasi dengan larutan NaOH. Reaksinya
H2SO4 (aq) +2 NH3(aq)………………… (NH4)2SO4 + H2O(l)
Reaksi pentiteran kelebihan H2SO4 (aq) adalah :
H2SO4 (aq + NaOH    ………………..                NaSO4 + H2O(l)
Kadar nitrogen yang praktikan dapatkan dalam sampel pupuk yang diberikan adalah 45.05%, dan hampir mendekati sesui dengan kandungan nitrogen dalam pupuk urea secera SNI (Standar Nasional Indonesia) yaitu 46% per gram sampel yang diberikan.
.
BAB V
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah praktikan lakukan untuk menghitung kadar urea dalam pupuk,praktikan menemukan bahwa kadar pupuk urea yang ada dalam sampel adalah 45.05%. data ini hampir  sesuai dengan teori yang seharusnya bahwa menurur SNI kadar pupuk urea yang baik mengandung jumlah nitrogen minimal 46 % dalam setiap gram sampel yang dianalisis.
  1. Saran
Dari percobaan yang praktikan lakukan dapat disarankan beberapa hal:
  1. Agar penentuan kuantitas dari suatu sampel yang ingin dianalisis tepat,maka reagen dengan konsentrasi tepat dan harus baru perlu digunakan
  2. Setting alat yang benar dan pengguanaan alat yang benar harus dilakukan agar hasil analisis yang diharapkan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
http://pusri.wordpress.com/2007/09/22/mengenal-pupuk-urea/.diakeses: 4 April 2010
http://www.petrokimia-gresik.com/za.asp: diakeses: 4 april 2010
http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg35844.html.diakses tanggal 15 April  2010
http://rioardi.wordpress.com/2009/01/21/pupuk-nitrogen/.diakses tanggal 15 April 2010